Hits: 73
Tiara Al Medina
Pijar, Medan. Tim Bantuan Medis Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Pemerintahan Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (TBM FK USU PEMA FK USU) mengadakan webinar sekaligus workshop dengan tema “Selamatkan Sesama dengan Bantuan Hidup Dasar” melalui Zoom Meeting pada Sabtu (16/4/22).
Dipandu oleh Cici Rauda, webinar dan workshop yang dihadiri oleh 120 peserta ini bertujuan untuk membagi ilmu kedaruratan medis berupa kemampuan Bantuan Hidup Dasar (BHD) kepada masyarakat. Karena sejatinya BHD bukanlah kemampuan yang hanya perlu diketahui oleh orang yang berkecimpung di dunia medis saja, melainkan kemampuan ini juga harus diketahui oleh masyarakat umum agar semakin banyak nyawa orang-orang di luar sana yang dapat tertolong.
Menghadirkan 2 ahli dalam bidang kesehatan sebagai pembicara, penyampaian materi webinar dan workshop terbagi menjadi 2 sesi. Sesi pertama dikupas tuntas oleh seorang dokter, Andriamuri Lubis dengan tajuk “Ilmu yang Harus Diketahui untuk Menjadi Penyelamat”.

Adriamuri menjelaskan mengenai tata cara penanganan korban yang mengalami henti jantung melalui pemberian Cardiopulmonary Resuscitation (CPR) atau Resusitasi Jantung Paru (RJP) dan pemberian napas buatan.
Pemberian BHD dengan korban henti jantung dapat dilakukan dengan urutan D-R-S-C-A-B, yaitu danger (memastikan penolong, lingkungan, korban aman), cek respons, shout for help (meminta bantuan tambahan), dilanjutkan dengan circulation (pengecekan nadi), airway (pengecekan jalan napas) dan breathing (pernapasan).
Ia juga menyampaikan, dalam melakukan RJP, waktu menjadi kunci utama yang mempengaruhi angka keselamatan dan mortalitas korban. “Semakin lama kita melakukan penolongan pijat jantung atau RJP kepada korban, maka angka kegagalannya pun akan semakin tinggi. Begitu pula sebaliknya. Jika dalam kurun waktu 5 menit jantung tidak berdetak, maka kerusakan pada otak pun akan muncul,” ungkapnya.
Melengkapi pemaparan pada sesi pertama, sesi penyampaian materi kedua dibawakan oleh Tasrif Hamdi, seorang dokter, dengan tajuk “Tersengat Listrik? Jangan Panik!” Tasrif menyampaikan pentingnya mengontrol diri agar tidak panik ketika berhadapan dengan korban yang terkena sengatan listrik. “Ketika menolong pasien, kita memerlukan pikiran yang jernih dan hati yang tenang. Karena di sini kita berurusan dengan nyawa pasien. Jadi sebisa mungkin untuk mengontrol diri agar tidak panik,” terangnya.
Adapun hal-hal yang menyebabkan terjadinya sengatan listrik, yaitu kerusakan kabel listrik, malfungsi alat elektronik, kabel listrik berjuntai, sumber listrik (kontak dengan air), dan sambaran petir.
Memperjelas pemaparan dari para pemateri, workshop pemeragaan teknik Resusitasi Jantung Paru Otak (RJPO) pun dilakukan dengan membagi peserta ke dalam beberapa breakout rooms Zoom Meeting.
(Redaktur Tulisan: Laura Nadapdap)

