Hits: 356
Naomi Adisty
Pijar, Medan. Kesawan menjadi ikon Kota Medan yang berada di pusat kota. Kawasan ini merupakan tempat tertua di Medan yang dipenuhi oleh banyak bangunan bersejarah. Adanya bangunan tua yang memiliki nilai sejarah di kawasan tersebut, seperti Gedung London Sumatera, Bank Indonesia, Kantor Pos Besar Medan, Titi Gantung, dan sebagainya tak luput dari perhatian pemerintah Kota Medan.
Pemerintah juga kerap melakukan penataan kembali terhadap bangunan di daerah Kesawan yang memiliki nilai sejarah. Terlebih lagi, tempat yang menjadi peninggalan bersejarah tersebut dialih fungsikan untuk kepentingan umum. Termasuk Titi Gantung yang dibangun pada tahun 1885, yang dahulu diperuntukkan bagi pejalan kaki untuk melakukan kegiatan, kini sudah dialih fungsikan menjadi tempat berjualan buku bekas. Sehingga, Titi Gantung ini tak luput menjadi konsen pemerintah beberapa tahun belakangan.
“Saya sendiri disini sudah berdagang sekitar 27 tahun dan sudah beberapa kali dipindahkan. Tahun 2003 pindah ke samping Tanah Lapang Merdeka tepatnya di bawah, Jalan Bukit Barisan karena adanya kebijakan dari Afdillah selaku Wali Kota Medan pada masa itu. Lalu, tahun 2013 kami pedagang dipindahkan lagi ke Jalan Penggadaian atas kebijakan dari Wali Kota Medan Rahutman. Terakhir, tahun 2017 sampai sekarang kami dipindahkan lagi ke semula di Jalan Kereta Api dengan bentuk toko atau lapaknya yang permanen dan bertingkat, dengan sebutan yang sama toko buku Tigan,” ujar Z. Lubis selaku pedagang buku.
Lokasi penjualan yang dinilai strategis karena berada di pusat Kota Medan berbanding terbalik dengan kondisi tempat berjualan. Bila ditelisik kembali, sarana dan fasilitas yang ada masih dinilai kurang.
“Kalau dilihat dari segi tempat ini dikatakan sangat strategis, namun dari bentuk toko atau lapak yang bertingkat kurang pas karena pengunjung sendiri lebih nyaman membeli kalau bentuk tokonya dibawah tidak repot lagi naik keatas. Selain itu, posisi para pedagang yang satu dengan yang lain pun harus diatur agar tidak terlihat menumpuk seperti ini,” ungkap Putri yang ditemui tengah membeli buku.
Nasib pedagang buku sendiri pun sekarang menjadi taruhan, terlebih dalam menghadapi masa pandemi dan era digital. Hal ini dikarenakan saat masa pandemi seluruh sekolah melakukan proses pembelajaran dalam jaringan (daring). Tepatnya sejak perkembangan dunia digital merangsek dan menyentuh semua aspek kehidupan terutama pendidikan, dengan memanfaatkan teknologi untuk membeli buku ataupun membaca buku.
Hal ini juga dapat dilihat saat mengunjungi tempat tersebut, situasi dan kondisi dari Toko Buku Titi Gantung sendiri terlihat sepi. Pedagang yang biasanya memenuhi toko atau lapak pun hanya beberapa saja yang buka, sisanya tutup dan tidak berjualan. Selain itu, pembeli juga hanya satu atau dua orang saja yang terlihat, termasuk juga pengunjung yang biasanya sekedar melihat buku bahkan nyaris tidak ada.

Fotografer: Aqilah Syahza Non
“Sebelum Covid, pendapatan kami bisa menembus sekitar tujuh puluh ribu per harinya namun melihat situasi seperti ini satu hari pun bisa sama sekali tidak ada buka dasar,” ungkap M. Nuh pria berusia 49 tahun itu menambahi.
Melihat penghasilan yang menurun, lantas tak membuat pedagang Toko Buku Titi Gantung kehilangan akal. Beberapa pedagang mencoba turun ke pinggir jalan untuk menarik minat pembeli. Sebenarnya hal ini berkaitan juga dengan kondisi lapak mereka yang bertingkat membuat pengunjung kurang mengetahui di mana persis lokasi tersebut. Namun, aksi mereka tersebut membuat beberapa pengunjung merasa risih dan terganggu, seperti penuturan salah satu pengunjung yang enggan untuk memberitahukan namanya. “Iya, saya merasa risih dan terganggu ya apalagi kan kita masih mau melihat dulu buku yang mau kita cari tetapi ada pedagang yang langsung nyamperin menyodorkan saat menawarkan buku dan itu kesannya seperti memaksa.”
Kini setiap pedagang Toko Buku Titi Gantung melancarkan strategi untuk menaikkan pendapatan mereka di masa sekarang. Salah satunya melalui pemanfaatan teknologi dan penggunaan online shop guna memasarkan buku mereka keseluruh wilayah.
“Mau tidak mau kami para pedagang harus mengikuti zaman, karena kalau tidak juga melek akan dunia media sosial dan internet ini, kita pasti tertinggal, seperti kami pedagang buku sudah mengupload ke platform online atau e-commerce untuk menjualkan buku yang dipunya,” ucap pria yang disapa Mas Boy.
Nasib dari pedagang Toko Buku Titi Gantung kini tergilas oleh era digital dan ditambah lagi kondisi pandemi yang cenderung tidak berkembang. “Mereka masih saja memberikan janji-janji palsu yang sama sekali tidak memberikan perubahan dan pengembangan, apabila kami mengusung dan meminta kepada mereka untuk memajukan titi gantung, mereka hanya memberikan sekedar tanggapan singkat dan janji-janji manis yang diberikan agar kami tidak banyak protes lagi,” harap beberapa pedagang agar pemerintah Kota Medan turut membantu Toko Buku Titi Gantung untuk bisa lebih baik lagi kedepannya.
(Editor: Erizki Maulida Lubis)

