Agnes Priscilla Siburian

Pijar, Medan. Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Sketsa Universitas Jendral Soedirman (UNSOED) mengadakan diskusi film serta diskusi publik dengan mengangkat tema “Film dan Perlawanan”, Minggu (10/10/2021). Diskusi yang digelar secara daring ini bertujuan untuk menjelaskan tentang bagaimana isu yang ada dalam film perjuangan dan perkembangan film di Indonesia sekaligus perannya dalam menyampaikan aspirasi masyarakat.

Pada sesi pertama, materi dibawakan oleh Puput Juang, Produser sekaligus Sutradara Kedung Film. Puput mengungkapkan, film menjadi salah satu media bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi, sindiran, sarkasme, lakon, drama, dan lawakan. Semua itu bertujuan agar penguasa lebih peka dan masyarakat lebih paham mengenai isu-isu terkini di Indonesia.

“Karya seni berangkat dari keresahan pribadi, keresahan kelompok, bahkan sekitar. Apalagi di Indonesia sendiri, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) juga cukup kuat sehingga mampu menggerakkan masyarakat untuk lepas dari belenggu citra pemerintah,” ungkapnya.

Sesi tanya jawab antara kedua pemateri dengan peserta dalam acara Diskusi Film & Diskusi Publik: Film & Perlawanan Minggu (10/10/21) (Sumber Foto : Dokumentasi Pribadi)

Selanjutnya, pada kesempatan itu, Zairin Zain, Sekretaris Jenderal Persatuan Perusahaan Film Indonesia membahas mengenai sejarah film serta korelasi antara film dan perlawanan. Menurutnya, film di Indonesia awalnya muncul dari pelawanan terhadap penjajah, di mana kala itu adalah pemerintahan Belanda.

Ia mengungkapkan, film pada hakikatnya berawal dari konstruktivitas dan dipergunakan sebagai senjata untuk mengungkap realitas dan melawan pemerintah yang tengah salah jalan. Berfungsi sebagai kekuatan masyarakat sipil, film punya keistimewaan karena tidak membatasi ruang dan waktu.

Pada akhir sesi materi, Zairin memberikan motivasi bagi anak-anak muda untuk terus berkarya dan menikmati film-film di Indonesia. Sebab, film bukan hanya sekadar audio dan visual, tetapi juga punya maksud yang begitu berarti.

“Kesadaran memakai film ini digunakan sebagai senjata bagi kita untuk memberikan perhatian kepada kejadian di sekitar kita sehingga selanjutnya bisa menciptakan semangat nasionalisme dan menyadari realitas sesungguhnya,” jelas Zairin Zain seraya menutup acara.

(Redaktur Tulisan: Rassya Priyandira)

Leave a comment