Hits: 32

Laila Fitrianisa Nasution

Sebanyak 20 mahasiswa lintas disiplin ilmu dari Universitas Sumatera Utara (USU) meluncurkan kampanye “Kindness Culture” sebagai terobosan kreatif Generasi Z untuk menghentikan perundungan di lingkungan sekolah. Proyek pembelajaran berbasis aksi nyata ini ditujukan untuk membentuk lingkungan sekolah yang aman, suportif, dan inklusif bagi seluruh siswa. Program edukasi ini berlangsung di Madrasah Tsanawiyyah (MTs) Miftahussalam, Medan Petisah pada Sabtu (8/11/2025).

Maraknya kasus perundungan yang terjadi di kalangan siswa menjadi alasan kuat yang melatarbelakangi tim mahasiswa ini. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran siswa dan mengedukasi mereka agar lebih sadar, tidak hanya terhadap kasus perundungan fisik, tetapi juga cyber bullying, sehingga dapat tercipta lingkungan yang sehat tanpa perundungan. Proyek ini diimplementasikan dalam bentuk sosialisasi intensif berkat dukungan dan kerja sama erat antara Lembaga Demokrasi (LIDA USU) sebagai inisiator dengan pihak sekolah mitra.

Secara spesifik, proyek ini beroperasi pada dua aspek krusial, yaitu meningkatkan kesadaran dan literasi digital Generasi Z mengenai bentuk dan bahaya perundungan, baik yang terjadi secara online maupun offline. Hasilnya, melalui wawancara mendalam, adanya peningkatan signifikan dalam pemahaman siswa mengenai dampak negatif perundungan, serta cara mencegahnya. Capaian paling penting dari kegiatan ini adalah mulai terlihatnya inisiatif siswa untuk membangun sistem saling dukung (peer support system) di antara teman sebaya dan mengembangkan budaya apresiasi.

Dosen Fasilitator proyek, Risnawaty Sinulingga, menegaskan bahwa inisiatif ini bukan hanya proyek akademik semata, tetapi juga kontribusi nyata USU dalam mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Risnawaty secara spesifik menyoroti relevansi proyek ini dengan SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) dan SDG 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Institusi Kuat).

“Proyek Kindness Culture ini adalah contoh nyata bagaimana mahasiswa USU menjadi pelopor dalam isu karakter dan sosial,” ujar Risnawaty.

Mentor Proyek, Emia Timentha Tarigan, turut memperkuat dukungan terhadap model pembelajaran berbasis aksi nyata ini. Menurutnya, keberhasilan proyek terletak pada model Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) berbasis proyek yang menuntut mahasiswa berinovasi dan bekerja secara tim.

Pelajaran penting (lesson learned) dari pelaksanaan proyek ini adalah upaya menanamkan budaya kebaikan (kindness culture) yang berfokus pada pengembangan keterampilan sosial dan empati terbukti memiliki dampak positif yang berkelanjutan dalam mengubah perilaku siswa.

Pihak sekolah menyambut baik program “Kindness Culture” ini karena dinilai signifikan dalam memperkuat program pencegahan perundungan di sekolah.Gerakan “Kindness Culture” diharapkan dapat menjadi model pembelajaran yang berkelanjutan dan diterapkan lebih luas, dengan harapan semua warga sekolah menyadari bahwa perundungan adalah ancaman serius yang merusak kesehatan mental.

Leave a comment