Alvira Rosa Damayanti

Pijar, Medan. Asistensi Mengajar di satuan pendidikan atau yang lebih umum dikenal dengan istilah Kampus Mengajar, adalah kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa untuk memberikan pembelajaran melalui bentuk asistensi pada satuan pendidikan formal di tingkat SD dan SMP.

Selain mendapatkan relasi dengan sesama tim pengajar, para mahasiswa yang terjun langsung di program Asistensi Mengajar Angkatan II ini mengungkapkan, hal yang mendasari mereka untuk mengikuti program ini ialah karena melihat pendidikan di Indonesia yang dinilai belum cukup memadai, khususnya di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar).

Proses pembelajaran di sekolah yang dibawakan oleh salah satu mahasiswa program kampus mengajar.
Sumber Foto: Dokumentasi Narasumber

Nafissa Maharani Pulungan, salah satu mahasiswa program Kampus Mengajar Angkatan II mengaku, ia sempat kaget ketika mengetahui beberapa siswa kelas 4-6 SD di tempatnya mengajar masih ada yang belum bisa membaca. Oleh karenanya, ia dan rekan-rekannya sepakat untuk memberikan kelas tambahan untuk anak-anak tersebut.

“Saya kaget aja karena beberapa siswa kelas 4-6 masih ada yang belum bisa membaca, maka saya dan rekan-rekan berencana untuk membuat kelas tambahan bagi siswa yang belum bisa membaca. Saya juga sering membantu mereka dalam mengerjakan tugas, contohnya saya bantu mengeja kata-katanya,” ujar Nafissa, salah satu mahasiswa program Kampus Mengajar Angkatan II, Selasa (14/9/21) via WhatsApp.

Sementara itu, Syahruzar Fadli Ginting juga mengatakan, keinginan menjadi orang yang bermanfaat dan memberikan dampak bagi masyarakat sekitar, adalah alasan kuat pendorong dirinya untuk mengikuti program ini. Dikatakannya juga, melalui program ini ia ingin mengabdi untuk Indonesia dengan membantu pendidikan anak – anak yang membutuhkan.

“Karena saya ingin menjadi orang yang bermanfaat untuk orang banyak, dan ingin memberikan dampak serta mengabdi untuk negeri tercinta, Indonesia,” ucap Fadli pada Selasa, (14/9/21) kemarin.

Di sisi lain, akses untuk datang ke sekolah tempat mengajar juga dinilai kurang memadai. Melewati jalan yang cukup panjang diiringi dengan jalan yang rusak, membuat salah satu mahasiswa program kampus mengajar, Imam Fadillah, memilih untuk mengurus akses perpindahan karena dianggap cukup jauh dari tempat ia tinggal.

“Pengalaman yang enggak terlupakan itu waktu pertama kali survei sekolah pada 2 Agustus lalu, tepatnya di salah satu Desa Sepinggan, Kecamatan STM Hulu. Masalah kami kemaren adalah karena letak sekolahnya yang kejauhan dan jalannya juga buruk. Kami memilih untuk ganti tempat karena enggak memungkinkan untuk kami pulang hari karena letak sekolahnya yang jauh,” tutur Imam.

(Redaktur Tulisan: Rassya Priyandira)

Leave a comment