Icha Kumala Dewi

Kata pengangguran menjadi bayang-bayang yang paling menakutkan setelah selesai menempuh pendidikan. Pengangguran sering kali dianggap kelemahan yang harus disembunyikan. Maka cara terbaik menanti sebuah harapan adalah dengan mencintai dan bersyukur atas apa yang Tuhan berikan saat ini.

Terkadang hal yang diharapkan berbenturan dengan kenyataan. Orang menganggapnya sebagai takdir. Dari situlah kebahagiaan bermakna, salah satunya keluarga. Apa yang dialami Ria memang biasa terjadi kepada banyak orang. Hanya saja untuk meraih semuanya membutuhkan perjuangan dan perjalanan yang panjang.

Setahun setelah kelulusan sarjana, Ria akhirnya mendapatkan pekerjaan yang sudah lama ia dambakan. Semua keinginan Ria diperoleh begitu mudah ketika jabatannya sangat cepat naik dengan gaji yang fantastis. Walau sebelumnya banyak lika-liku perjalanan sebelum memperoleh pekerjaan.

“Uhh, akhirnya sarjana juga kita,” saut Zara salah seorang teman Ria.

“Alhamdulillah, senang banget setelah menghadapi serangkaian dosen-dosen killer bertahun-tahun,” kata Ria dengan gemuruh tawa semua teman sekelilingnya.

“Oh iya, kalian pada mau nyoba kerja di mana? Jangan bilang hanya jadi sarjana pengangguran. Upss,” celoteh dosen yang muncul tiba-tiba. Percakapan pun terus berlanjut hingga akhirnya Ria memutuskan pulang bersama keluarganya.

Sebulan sudah berlalu, Ria tidak kunjung juga mendapatkan pekerjaan. Padahal hampir 10 perusahaan sudah ia lamar, hanya saja belum ada panggilan satu pun. Dengan berat hati, Ria memutuskan untuk merantau ke kota agar bisa bekerja. Dengan berat hati pula, orang tua yang kala itu sedang sakit mengizinkan Ria pergi agar dapat membantu perekonomian keluarga.

“Nak, hati-hati di kota orang. Ingat keluarga di sini. Jangan terlena jika sukses. Ingatlah keluarga yang selalu setia mendoakanmu,” kata bapak kepada Ria.

“Iya pak, doakan selalu Ria ya pak. Ria pamit dulu, Bapak Ibu sehat terus ya. Assalamualaikum”. Tangis haru dan pelukan keberangkatan terjadi dengan suka cita.

“Perjalanan panjang. Sampai juga di kota Jakarta. Semoga semua dipermudah untuk aku bekerja di sini, amiin,” geming Ria dalam hati.

Namun semua itu tak semulus pikiran Ria. Lebih dari 9 bulan di perantauan, tak ada satu pun perusahan yang ingin mempekerjakannya. Padahal uang saku yang dibawa dari kampung sudah mulai menipis, untuk makan pun hanya bisa sekali dalam sehari.

Hari kesekian di kota Jakarta untuk mencari pekerjaan. Panas terik terus bertemankan Ria sepanjang hari. Menelusuri jalan setiap sudut kota. Kumandang azan tiba.

“Itu ada masjid,” sahut dalam hati dan bergegas ke masjid untuk sholat zuhur.

“Begitu sakit menjadi perantauan dan orang susah ini ya Allah, angkatlah derajat hambamu ini, lancarkan urusan dan permudah aku untuk mencari pekerjaan,” pinta ria dalam doanya.

Selepas sholat, Ria termenung di tangga masjid. Tiba-tiba telepon genggamnya berbunyi. Sontak Ria terkejut dan mengangkat telepon.

“Halo. Iya, benar ini dengan Ria Puspita Admajaya,” sahut Ria.

“Selamat kamu diterima bekerja di perusahaan kami. Untuk info selanjutnya kamu langsung ke perusahaan multifungsi, Jalan Sunggal No. 80. Kami tunggu kedatangan Ria untuk bergabung di perusahaan kami.”

“Terima kasih Bu. segera saya hadir Bu.” Senang tak terhingga, Ria sujud syukur dan langsung menelpon keluarga.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, bahkan belum genap setahun Ria bekerja, ia sudah diangkat dengan penuh kepercayaan kepala perusahaan menjadi manager perusahaan atas ketekunan, kesabaran, dan kepandaiannya.

Tanpa Ria kurangi rasa syukur, mengingat perjalanan lika-liku kehidupan di perantauan dengan kebahagiaan tiada kira tanpa dukungan orang tua. Tiba hari di mana Ria pulang ke kampung dengan kesuksesan yang dipungut dari nol hingga berada di puncak. Orang tua menyambut dengan bangga akan pencapaian anaknya sembari memeluk erat dengan cucuran air mata bahagia.

Leave a comment