Hits: 30
Miftahul Jannah Sima
Sudah 10 menit aku melangkahkan kakiku keluar dari Masjid setelah salam Witir tadi. Aku lebih suka berjalan kaki daripada naik kendaraan, karena bisa membuatku lebih mudah untuk sekadar mampir membeli makanan tanpa bingung memilih tempat parkir.
Dua kantong jamur crispy sudah bertengger manis di tangan kiriku. Jika kalian berpikir tangan kanan kugunakan untuk memainkan handphone, layaknya melenial jaman sekarang, kalian salah. Karena tangan kananku saat ini sedang memegang payung. Lumayan ramai juga gerimis malam ini.
Pandangku yang tertutup rintik hujan sedikit menangkap bayangan sosok kecil yang sedang berdiri di belokan gang itu, mencoba menghindari runtuhan air hujan. Di balik daun pisang itu, ia coba menghangatkan dirinya. Saat aku mendekatinya, Ia mendongakkan kepalanya seraya melihatku. Mata yang indah, batinku. Tampaknya ia kelaparan. Aku sedikit berjongkok dan membuka satu bungkus jamur crispy ini, kulihat reaksinya. Sepertinya dia tertarik. Aku tersenyum dan menyodorkan satu potong padanya, ia mendekatiku dan berteduh di bawah payungku, ia sedikit ragu untuk menerimanya, namun dua detik kemudian ia melahapnya.
Ia menatapku lagi. Sepertinya selera kami sama. Kuberi satu lagi, lalu ia memakannya dengan lahap. Sepertinya dia sangat kelaparan. Tapi tak mungkin kuberi semua jamur crispy ini padanya, karena di rumah, dua adikku juga menunggu camilan favorit kami ini. Bukan aku pelit, hanya saja aku juga tak mau mendengar rengekan Adit malam-malam begini karena kekurangan camilan kesukaannya.
Sudah 5 menit sepertinya aku berjongkok bersamanya, tapi dia tak bersuara sedikit pun. Apa dia pemalu? Atau masih malu-malu? Padahal sudah hampir separuh bungkus ia memakannya. Kuputuskan sudah cukup aku berbagi. Aku merapikan lagi bungkusannya dan berdiri. Dia kembali mendongakkan kepalanya. Menatapku dengan tatapan yang sulit kupahami. Apa dia mau meminta semua makananku? Pikirku sambil menyipitkan mata.
Aku melanjutkan langkah, namun terasa sepertinya dia mengikuti. Aku menoleh, dan benar saja dia mengikutiku. Berjalan dengan kaki kecilnya melawati gerimis, kulihat ia sedikit menghindari genangan air. Sepertinya ia benar-benar tertarik dengan jamur crispy ini.
Kuletakkan dua potong lagi di bawah pepohonan agar dia bisa memakannya tanpa terkena rintik air. Aku melanjutkan langkahku, tapi kulihat dia masih mengikutiku. Bukankah aku sudah memberinya lagi? Atau, apa dia ingin ikut denganku? Bagaimana ini? Jangan sampai aku tergoda olehnya. Aku harus pulang dengan hanya membawa jamur crispy dan payung, tidak kurang tidak lebih. Kututup mataku dan berpikir, kemudian menoleh lagi. Tapi, tapi ,dia begitu menggemaskan. Bagaimana ini?
Sudah kuputuskan. Aku memanggilnya dan dia mengikuti instruksiku untuk mendekat. Benar, dia mau ikut denganku. Kugendong dia dengan sedikit susah, mengingat aku membawa dua kantong jajanan dan memegang payung.
“Terserah deh, Mamah nanti marah karena aku membawamu pulang. Maka dari itu kamu jangan nakal di sana, oke?” ucapku, berharap dia mengerti.
“Meong,” hanya itu jawabannya. Ck, benar-benar kucing minim ngeong.
Aku memang lemah pada hewan berbulu ini. Aku kadang heran, masih ada saja orang yang tega membuangnya, menendangnya, bahkan kekasaran lainnya. Padahal dia begitu menggemaskan. Lihat aku, susah payah agar tak tergoda oleh pesonanya, tetap saja aku tak tahan. Sedangkan di rumahku, sudah ada 5 ekor sejenisnya yang mungkin sudah terlelap.
Kuputuskan mulai sekarang untuk menamainya Gembul. Karena dia gembul dengan kaki pendek dan bulu hitam putihnya yang lebat.

