Erizki Maulida Lubis

Pijar, Medan. Adanya Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang diperingati setiap tanggal 5 Juni, mengingatkan kita untuk selalu peduli terhadap lingkungan. Peringatan ini pun sudah bermula sejak tahun 1974. Dicetuskan pada tahun 1972, isi dari peringatan ini menyoroti tentang perlindungan dan kesehatan lingkungan yang pastinya akan memengaruhi kesejahteraan masyarakat.

Lingkungan merupakan suatu hal yang sangat terkait dengan kehidupan manusia. Bayangkan saja, jika lingkungan yang ada di sekitar kita dirusak, akibatnya juga akan berdampak pada kita. Apalagi perihal lingkungan hidup selalu menjadi isu penting yang sudah dilirik perhatian sejak lama, khususnya di Indonesia sendiri.

Banyaknya penebangan hutan secara ilegal juga memicu kerusakan alam yang berpotensi merusak ekosistem. Tetapi tidak bisa dipungkiri, bahwa di Indonesia masih banyak warganya yang terjerat dalam kasus penebangan hutan sembarangan. Maka dengan adanya peringatan Hari Lingkungan Hidup akan membuat masyarakat sadar bahwa manusia dengan lingkungan memiliki hubungan timbal balik yang tidak dapat dipisahkan.

Dava Warsyahdhana selaku mahasiswa pertanian Universitas Sumatera Utara dan juga merupakan founder dari Kita Pertanian memberikan pandangannya terhadap isu-isu lingkungan yang terjadi di Indonesia. “Sebenarnya penebangan hutan secara liar itu tidak baik, karena bisa membuat pohon-pohon di hutan menjadi gundul. Selain itu, makhluk hidup lainnya juga akan kehilangan tempat tinggal dan akhirnya menyebabkan para hewan dan tumbuhan tersebut menjadi punah dan pastinya bumi akan menjadi rusak,” ungkapnya.

Keserakahan manusia yang kian hari meningkat, membuat Indonesia kehilangan banyak lahan yang seharusnya dapat menjadi penyeimbang ekosistem di bumi. Namun di sisi lain, terdapat pandangan yang mengatakan bahwa penebangan hutan secara liar merupakan faktor dari ekonomi warga sekitar yang kurang mampu. “Mereka menebang pohon secara liar untuk dijual dan hasil dari penjualannya dipakai untuk memenuhi kebutuhan ekonomi mereka,” tambah Dava.

Menyelamatkan lingkungan bisa dimulai dari siapa saja. Setiap dari kita yang memiliki kesadaran patut untuk menjaga lingkungan, terlebih lagi kalangan mahasiswa yang merupakan generasi penerus bangsa. Mahasiswa yang dikenal sebagai agent of change harus mampu melakukan aksi nyata, tanpa basa-basi. Bahkan mahasiswa juga harus mampu memengaruhi orang lain untuk melakukan hal baik yang bisa berdampak untuk lingkungan.

“Peran yang dapat diambil mahasiswa untuk menjaga serta melestarikan lingkungan, yaitu sadar terhadap lingkungan dan menjaga kebersihan lingkungan sekitar. Sebagai mahasiswa, harus bisa menjadi contoh yang baik untuk masyarakat agar ikut mendukung tercapainya tujuan dalam menjaga kebersihan lingkungan, sehingga tidak menyebabkan penyakit. Kemudian, mahasiswa juga harus peka terhadap isu lingkungan dengan mengkampanyekan melalui media sosial agar dapat menebarkan kebermanfaat lebih luas lagi,” tegas Dava.

Kepedulian terhadap lingkungan menentukan keberlangsungan hidup bumi. Jika hari ini kita masih tidak sadar bahwa bumi sedang tidak baik-baik saja, maka jangan salahkan jika alam memberi teguran. “Bencana alam dapat seperti banjir, longsor, dan gempa bumi. Untuk itu mari kita sama-sama bergerak untuk lebih peka menjaga lingkungan, sehingga generasi berikutnya dapat menikmati kebaikan alam,” harap Dava saat diwawancari melalui WhatsApp.

(Editor: Widya Tri Utami)

Leave a comment