Valencia Christiani Zebua

Aku terus berlari. Entah sampai kapan. Tergesa-gesa dan mulai kehabisan nafas. Aku ingin berhenti. Berbalik dan menyudahi ini semua, berbalik dan berteriak sekuat tenaga. Menyalurkan semua perasaaan lelahku.

Mereka tak pernah tahu, bukan salah mereka pula. Mereka yang sejak awal selalu mendukung aku berlari. Aku yang selalu memilih diam, aku yang memendam semuanya. Lagi pula, apakah ada hal yang berubah kalau mereka tahu? Terkadang aku bertanya-tanya, mengapa mereka tidak pernah memperingatkan aku tentang hal-hal seperti ini?

Dulu, saat aku mulai merangkak, semua orang menyemangatiku. Bersorak sorai ketika aku mampu merangkak lebih dari 10 langkah. Mereka berkata ini adalah tindakan yang bagus, tindakan yang tepat.

Kemudian aku mulai belajar jalan. Tanganmu selalu menuntun aku. Menuntun aku kalau-kalau aku jatuh. Aku tidak pernah benar-benar jatuh dan terluka. Kau selalu mengangkat aku tepat waktu. Bahkan terkadang sebelum waktunya, kau sudah mengangkat aku seakan-akan kau tahu aku akan terjatuh.

Kemudian aku lancar berjalan. Lihat! bahkan aku bisa melompat dengan kedua kakiku sendiri tanpa takut jatuh. Melompat dengan semangat karena aku mampu dan percaya pada kedua kakiku. Tetapi kau masih sering mengingatkanku untuk melompat di waktu yang tepat. Kau bahkan menegurku, saat aku sepertinya salah menekuk kaki atau bahkan terlalu banyak melompat.

Kemudian aku mulai berlari, awalnya masih pelan. Bahkan terlihat seperti jalan cepat ala ibu-ibu di atas treadmill. Lalu aku menambah kecepatanku saat kurasa sudah mampu. Aku mulai berlari. Awalnya aku menikmatinya walaupun agak ngos-ngosan. Acap kali merasa tertinggal oleh teman berlariku. Sehingga aku merasa aku perlu mengejarnya. Namun aku sadar, siapa bilang ini perlombaan? Bahkan kami tidak memiliki garis finish atau setidaknya garis finish kami berbeda.

Kini aku berlari seperti yang biasa aku lakukan. Aku mulai lelah. Bahkan handuk itu sudah tidak sanggup mengelap bulir keringatku. Kau masih ada. Kau masih membantu aku sesekali. Bahkan menunjukkan arah jalan yang paling tidak kau rasa benar. Tapi aku lelah. Aku ingin istirahat. Paling tidak duduk di bawah rindangnya pepohonan seperti yang kelinci lakukan saat lomba tempo hari.

Saat itu aku pernah mampir di sebuah kursi. Kurasa itu tempat yang tepat untuk beristirahat sejenak. Tapi ternyata kursinya sudah reot dan tak layak pakai. Mungkin kursi selanjutnya, pikirku.

Aku masih berlari, aku tetap berlari. Kini aku sedang terbiasa, terbiasa dengan tempo kakiku dan berusaha mengabaikan lelahku. Aku akan beristirahat, saat aku menemukan kursi yang tepat. Mungkin saat waktu yang tepat tiba, aku akan kembali berjalan atau merangkak. Karena aku tahu, tidak ada yang melarang aku berhenti berlari, tidak ada yang melarang aku berjalan. Toh, aku tetap di jalan yang benar.

Leave a comment