Grifin Angelina Tobing

Pijar, Medan. Revolusi industri yang terus berkembang menghadirkan tantangan baru untuk para pelaku pemasar terhadap situasi fluktuatif. Hal tersebut menarik perhatian Himpunan Mahasiswa Manajemen (HMM) Universitas Sumatera Utara untuk menelaah lebih dalam tentang strategi marketing baru dalam sharing session bersama Alif Patria, selaku Regional Marketing Manager PT Nutrifood Indonesia. Kegiatan ini bertujuan agar calon pemasar atau marketers bisa bertahan dari tantangan baru di masa depan. Sharing session ini diadakan secara virtual melalui Zoom meeting pada (29/04), pukul 14:00 WIB.

Profil narasumber, Arif Patria, dalam sharing session “visiting and sharing (VISA)” HMM USU yang berlangsung pada Kamis (29/04). (Sumber foto: Dokumentasi pribadi)

Arif Patria mengatakan bahwa sudah terjadi berbagai perubahan orientasi dari setiap revolusi industri 1.0 sampai 4.0. Bahkan sekarang ini dunia akan bersiap memasuki revolusi industri 5.0 yang dipegang penting oleh peran kecerdasan buatan dalam pengaplikasiannya. Hal ini tentu akan mempengaruhi orientasi pasar industri. Arif mengambil contoh evolusi dari orientasi pemasaran, yang dimulai dari product centric, consumer centric, purpose centric, sampai dengan digital centric pada revolusi industri 4.0. Tidak hanya berhenti disitu, orientasi marketing pun akan selalu berubah dari waktu ke waktu. Oleh karena itu, strategi pemasaran yang tepat sangat dibutuhkan untuk bisa bertahan di pasar sekarang ini.

Ada beberapa hal yang penting dalam menyusun strategi pemasaran. Pertama, content is the king. Hal ini merujuk pada isi dari pesan yang disampaikan kepada konsumen dengan tujuan mencari perhatian masyarakat terhadap produk kita. Kedua, collaborative is the queen. Kolaborasi dengan perusahaan lain agar tercipta market yang lebih luas dan citra perusahaan naik. Dan yang terakhir adalah services atau pelayanan. Services ini merupakan yang paling penting agar konsumen bisa kita jadikan sebagai partner dalam membangun kepercayaan konsumen lainnya.

“Jangan sampai kehilangan konsumen. Jadikanlah konsumen sebagai partner,” tegas Arif dalam pemaparan materi.

Keberadaan fenomena baru dalam masyarakat, tidak menjadi penghalang bagi pemasar untuk menyusun strateginya. Seperti sekarang ini, dunia dihadapkan dengan pandemi Covid-19 yang membawa banyak perubahan kebiasaan baru kepada masyarakat. Sebagai contoh, bekerja dari rumah, sekolah daring, sampai kebutuhan primer dan sekunder. Hal penting yang perlu dilakukan adalah analisis perubahan apa yang ikut terjadi. Dengan demikian, pemasar akan tahu langkah apa yang harus diambil selanjutnya dan strategi yang tepat untuk mencapai target pemasaran yang dituju.

“Hadirnya pandemi ini bisa menjadi teknik baru dalam marketing apabila dibungkus sedemikian rupa,” tambah Arif.

Hal yang tak kalah penting, peran generasi muda dalam membentuk komunitas demi membangun market perusahaan. Anak muda sering menjadi agen pendukung dalam memperluas pasar. Peran dan sirkulasi media sosial seperti endorse dan lain-lain adalah bukti nyata dari besarnya dampak yang diberikan anak muda kepada perusahaan.

(Editor: Erizki Maulida Lubis)

Leave a comment