Hesmitha Eunike

Pijar, Medan. Tanggal 2 Mei menjadi salah satu hari bersejarah yang tercatat sebagai Hari Pendidikan Nasional. Momen ini tidak lepas dari sosok Ki Hajar Dewantara yang turut andil dalam pendidikan di Indonesia. Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, dan tut wuri handayani merupakan semboyan yang tidak asing di telinga. Menilik pendidikan dari waktu ke waktu tentu mengalami perbedaan, apalagi ada peran teknologi yang semakin berkembang. Lantas, bagaimana dunia pendidikan di Indonesia saat ini?

Bicara tentang pendidikan, kita tak lupa akan peran dari tenaga pendidik (pengajar, guru, dosen) dan murid maupun mahasiswa. Pendidikan beberapa tahun yang lalu mengalami perubahan dengan pendidikan di masa sekarang ini. Jika 8 atau 10 tahun yang lalu, dunia pendidikan menjadikan pendidik atau guru sebagai sumber informasi yang dominan dan siswa adalah penerima informasi, maka berbeda dengan era sekarang. Sistem pendidikan yang berdampingan dengan kemajuan teknologi juga menuntut kreativitas dari tenaga pendidik dan murid.

Rosmawati Nainggolan, seorang guru SMA Santa Maria Pekanbaru yang berkecimpung di bidang pendidikan sejak tahun 2003, membagikan ceritanya sebagai tenaga pendidik. “Belasan tahun yang lalu, ibu mengajar masih dominan menggunakan buku cetak, menggunakan kaset dan CD pembelajaran juga kliping. Guru yang benar-benar mencari informasi, sumber-sumber, dan media pembelajaran yang lebih supaya anak-anak bisa memahami pelajaran tersebut. Anak-anak pun juga belum sekreatif sekarang ini,” ucapnya.

Pendidikan di masa pandemi menuntut banyak hal, baik dari para pengajar maupun murid. Pada awal ditetapkannya pembelajaran secara online di masa pandemi, yaitu tepat setahun yang lalu tampaknya menuai kekhawatiran. Selama ini pembelajaran yang dilakukan adalah pembelajaran secara langsung dan tatap muka. Tetapi ketika pandemi hadir, pola belajar mengajar juga turut berubah, yaitu dengan sistem belajar online (daring). Para guru turut berlatih untuk terampil menggunakan teknologi supaya pembelajaran lebih menarik.

Bukan hanya dari segi belajar mengajar, tetapi dari segi karakter juga turut berubah. Pembelajaran lambat laun berpusat kepada siswa. Rosmawati yang akrab disapa Bu Ros, dalam hal ini mengemukakan penerapan metode Student Center Learning. Menjadi tugas bagi para guru bagaimana mereka mampu menyajikan materi pembelajaran dengan mengelola potensi yang dimiliki oleh peserta didik. Sepertinya hal ini berkaitan dengan semboyan yang ketiga dari Ki Hajar Dewantara, yaitu tut wuri handayani (di belakang memberi dorongan). Peserta didik diberikan peluang untuk mencari informasi dan menggali dari pengalaman mereka sendiri.

Potensi yang dimiliki patut dikembangkan, hal ini guna menciptakan kemajuan bagi bangsa Indonesia. Hari Pendidikan bukan sekadar peringatan. Hari Pendidikan menjadi momentum dan pemaknaan bagaimana kita dapat menjadi generasi yang unggul, menjadi penerus bangsa yang cerdas, dan mampu membawa bangsa ini kepada perubahan yang lebih baik. Selamat Hari Pendidikan Nasional.

(Editor: Erizki Maulida Lubis)

Leave a comment