Sulisintia Harahap

Pijar, Medan. Sejak adanya wabah Covid-19, hampir setiap aktivitas dilakukan secara online. Hingga kini sudah begitu banyak seminar daring yang telah dilakukan oleh berbagai instansi dengan tajuk yang juga beragam. Tak terkecuali dengan UPT Bahasa Teknologi Sumatera (ITERA). Setelah lima bulan vakum mengadakan seminar daring, kali ini UPT Bahasa ITERA kembali mengadakan Seminar Penulisan Konten Media Sosial yang dilakukan secara daring melalui platform Zoom pada Senin (12/4) yang disiarkan secara langsung di kanal YouTube UPT Bahasa ITERA.

Seminar daring ini diadakan untuk mengajak masyarakat agar bisa memanfaatkan media sosial dengan baik sesuai kebutuhan dan tetap memperhatikan bahasa yang digunakan dalam penulisan konten media sosial.

Acara yang dimulai pada pukul 09.00 WIB ini dimoderatori oleh Harits Setyawan yang merupakan salah satu Dosen Bahasa Inggris ITERA dan menghadirkan dua narasumber. Narasumber pertama yaitu Budiman Hakim selaku penulis dari buku yang berjudul “Copywriting is Dead” yang membahas materi tentang gambaran media internet dalam mempengaruhi peradaban masyarakat. Kemudian dilengkapi pula oleh narasumber kedua, yaitu Ivan Lanin selaku Direktur Narabahasa yang membahas mengenai “Baku Tidak Kaku di Media Sosial”.

Sebagai manusia yang membutuhkan interaksi dalam menjalankan perannya sebagai makhluk sosial, dan kini sudah sejalan dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi membuat masyarakat begitu merasakan adanya kemudahan dalam hal berinteraksi. Bahkan interaksi itu pun seolah mempengaruhi segala aspek gaya hidup masyarakat, termasuk dalam hal pengungkapan eksistensi diri.

“Sekarang ini eksistensi manusia modern diukur dari pergaulannya di dunia digital. Semua orang ingin eksis, itu sebabnya mereka membuat foto selfie yang aneh, yang berbahaya, mereka buat vlog, website, konten YouTube, pamer kekayaan di Instagram, apapun semua dilakukan untuk eksistensi diri di dunia maya. Nah, pengakuan eksistensi diri ini ternyata sangat penting sekali untuk warganet, hal ini dibuktikan dengan munculnya kata bijak yang berbunyi ‘if you type your name in google, and you don’t find it. Technically, you’re died’. Jadi ketika kita ketik nama kita di google dan ternyata tidak ada, itu secara teknis kita seperti orang mati karena tidak eksis,” terang Budi.

Foto bersama antara peserta dan kedua narasumber sebagai sesi akhir acara. Senin (12/04) (Sumber Foto: Dokumentasi Panitia)

Selain bentuk eksistensi diri, masyarakat sebagai warganet pun sebenarnya menjadikan media sosial sebagai ladang bisnis untuk bisa menjangkau target konsumen lebih banyak dalam memasarkan produknya.

“Sekarang ini masyarakat juga memandang dunia digital sebagai bisnis, namun skalanya tergantung tiap-tiap individu. Ada yang ingin pasarnya lebih luas, mereka bisa berjualan di Instagram, Facebook, Twitter, dan lainnya. Masalahnya, mereka kesulitan dalam memasarkan produknya. Jadi walaupun mereka melihat hal itu sebagai peluang, namun ilmu pemasaran mereka masih belum berpengalaman. Kebutuhan akan memasarkan produk inilah yang tiba-tiba membuat istilah copywriting naik sebagai pamornya,” tambahnya.

Perhatian warganet sebenarnya merupakan aspek penting dalam penulisan konten media sosial ini. Caranya adalah dengan memilih isi konten yang akan dibuat dan merangkai kata serta kalimat penulisan konten media sosial sesuai harapan warganet.

“Di media sosial orang lebih nyaman menggunakan bahasa yang lebih santai. Untuk mendekatkan diri dengan pengguna dunia digital, semua produsen, pengiklan, bahkan sampai media-media online mainstream, seperti detik.com, kompas.com, dan lain-lain sering menggunakan bahasa yang lebih santai. Seperti kita bandingkan dengan bahasa kompas media cetak dengan kompas media online, pasti bahasanya beda. Media online bahasanya lebih santai dengan menggunakan istilah-istilah atau kata-kata yang sebenarnya agak sulit kita temukan di media cetak,” jelas Budi.

Ditegaskan kembali oleh Ivan Lanin yang memaparkan surveinya mengenai harapan pengguna internet terhadap isi konten media sosial, khususnya pada akun media sosial pemerintah. Dia memaparkan bahwa ada 68% warganet memilih bahasa yang formal tetapi tidak kaku. Untuk itu, dalam penulisan konten media sosial memilih aspek kebahasaan juga penting diperhatikan.

“Yang perlu diperhatikan dalam konten media sosial adalah jenis kontennya yang terdiri atas teks, gambar, video, dan audio (siaran). Selain itu adalah segi muatan, yang harus berisi hiburan (entertain), edukasi (educate), perlibatan (engage) dan inspirasi (empower). Suatu akun harus memadukan seluruh segi muatan. Karena media sosial itu bersifat dinamis dan menimbulkan interaksi,” ujar Ivan Lanin.

Acara yang dihadiri oleh 300 lebih peserta yang terdiri dari mahasiswa ITERA dan masyarakat umum terlaksana dengan cukup kondusif dan interaktif. Pertanyaan-pertanyaan yang ada ditanggapi dengan baik oleh kedua narasumber, dan seminar ini ditutup dengan sesi foto bersama.

(Editor: Erizki Maulida Lubis)

Leave a comment