Misteri Sebuah Biara dalam Buku The Name of The Rose

Sumber foto: id.carousell.com

Laura Nadapdap

Pijar, Medan. Setiap mengunjungi suatu tempat, tentu kita pernah memiliki tujuan yang ingin dilakukan di tempat tersebut. Namun, apa jadinya ketika tujuan itu seketika berubah? Tak terencana sama sekali, bahkan berubah menjadi sebuah misi yang tanpa pernah  diduga-duga.

Hal itulah yang dialami oleh seorang biarawan Fransiskan bernama William dari Baskerville. Ia berangkat bersama dengan asistennya, Adso. Adso merupakan seorang pendeta asal Jerman yang bertolak ke sebuah Biara Benediktin di daerah pedalaman Italia. Tujuan utama mereka awalnya ialah menghadiri perhelatan konferensi teologis di biara megah itu. Tak disangka, tujuan semula berujung sebuah penelusuran misteri layaknya seorang detektif.

Kedatangan mereka itu disambut dengan kejutan demi kejutan yang membuat bulu kuduk siapapun bergidik. Rentetan kasus yang melibatkan nyawa manusia tentu membuat biarawan ini heran, apa yang sedang terjadi dan mengapa ini semua bisa terjadi. Hal ini sontak membangkitkan jiwa detektifnya yang dahulu memang dikenal sebagai seorang penyelidik terkenal.

Yang membuatnya ragu, bagaimana mungkin biara yang sedianya dipenuhi oleh doa dan perseketuan dapat menjadi sarang pembunuhan?

Umberto Eco, sang penulis buku, mengemas plot dengan apik. Suasana yang tergambar dalam setiap situasi membuat Sobat Pijar ikut terhanyut dalam setting yang serupa. Berbeda dengan buku-buku misteri lainnya, The Name Of The Rose memadukan berbagai genre unik sekaligus. Ketegangan dalam thriller, humor dibarengi fakta sejarah, isu-isu keagamaan dan politik, serta pengungkapan misteri bak seorang detektif.

Ragamnya genre yang ada pada buku ini membuat pembaca diajak berpindah-pindah topik pembicaraan. Sehingga alur yang diceritakan terkesan diulur dan lambat. Wajar jika di pertengahan para pembaca merasa bosan dikarenakan topik sejarah yang begitu padat diceritakan. Namun tentunya, itu semakin membangkitkan rasa penasaran Sobat Pijar dalam membaca buku ini hingga tuntas.

Buku ini pertama terbit tahun 1980 dengan judul “Il Nome Della Rose”. Edisi-edisi berikutnya terus berlanjut, hingga edisi yang ketiga pada tahun 2017.

Potret ketegangan yang ada pada buku ini akan membawa kita pada abad pertengahan. Peliknya sebuah kasus pembunuhan akan dilatari oleh suasana upacara peribadatan Katolik yang khas. Cara William menyelesaikan masalah tentu akan mengingatkan kita pada sosok Sherlock Holmes yang piawai mengungkap sebuah kasus.

Karya spektakuler Umberto ini sangat digemari khalayak, baik nasional maupun internasional. Tak mengherankan jika memang novel ini telah terjual lebih dari lima puluh juta eksemplar. Tak hanya itu, pada 1986 novel kecintaan dunia ini pun diataptasi menjadi sebuah film berjudul “The Name Of The Rose” yang disutradarai oleh Jean-Jacques Annaud. Ragam ketegangan yang ada di dalam buku setebal 660 halaman ini tentu akan membuat siapapun yang membacanya akan penasaran.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *