Illustrator: Sherenika Azalia

Kado Terakhir

Nadila Tasya Tanjung

Ketika sedang sendirian, aku sering bertanya dalam hati tentang arti kebahagiaan. Bagiku, kebahagiaan itu dilihat dari siapa saja yang ada di sekitar kita. Dan menurutku, dalam hidupku seharusnya ada orang-orang yang berarti. Namun sayangnya kebahagiaan yang kumiliki rasanya telah dinodai oleh pikiranku sendiri.

Dulu, aku punya keluarga yang lengkap. Ada ayah, ibu, dan seorang kakak laki-laki. Tetapi kakak laki-lakiku ini sangat berbeda. Dia bagaikan penghalang kebahagiaan dalam hidupku, bukan karena dia pintar ataupun bisa merebut kasih sayang orang tuaku. Melainkan karena dia cacat mental. Namun dari dia, aku belajar akan satu hal yang kemudian membuatku sadar bahwa selama ini ternyata dia adalah malaikat dalam hidupku yang berwujud manusia.

Kakakku telah menderita cacat mental sejak lahir dan sering membuatku malu sebagai adik. Tidak ada yang bisa kubanggakan dari dia, umurnya lima tahun lebih tua dariku, tapi dia seperti ketinggalan 10 tahun dariku. Mungkin karena alasan itulah, sehingga ibuku sampai harus rela menunda kelahiranku 5 tahun kemudian, hanya demi merawat kakakku tersebut. Dalam bahasa kedokteran, kakakku itu terkena down syndrome yang membuat kecerdasannya tidak berkembang sempurna. Sedangkan bagiku tidaklah penting apa penyakit yang dia bawa sejak lahir, yang jelas aku selalu merasa malu jika dia berada di dekatku.

Aku selalu berkata pada ibuku, kalau mau menjemputku di sekolah, jangan pernah membawa kak Rory atau aku tidak akan pernah pulang bersama mereka. Namun ibuku tetap tidak peduli dan membawa serta kak Rory ke sekolah untuk menjemputku. Sehingga akhirnya setiap kali mereka datang, aku kabur lewat gerbang belakang sekolah dan memilih pulang dengan berjalan kaki.

Sesampainya di rumah, ibuku akan marah padaku dengan kata-kata yang sama, “Rosie, kamu ini tidak tahu berterima kasih, ibu dan kakak mu sudah bersusah payah menjemputmu, kenapa malah kabur?”

“Siapa bilang Rosie kabur?”

“Dengar Rosie, walau kakakmu seperti itu, tapi dia itu tidak pernah lupa akan wajah adiknya yang lari dari dia.”

Aku terdiam dan hanya membayangkan ketika kak Rory menunjuk-nujukkan tangannya saat aku berusaha lari dari mereka.

“Lagi pula siapa yang suruh datang dengan kak Rory, Rosie kan malu punya kakak idiot seperti itu. Rosie sudah bilang jangan menjemput kalau ada kak Rory,” teriakku sambil langsung berlari dan masuk ke dalam kamar.

Aku tak pernah peduli apakah kalimat yang kuucapkan itu bisa membuat kak Rory paham bahwa aku tidak suka ketika ada dia di dekatku. Tapi kata-kataku tadi cukup membuat ibuku marah. Aku tak peduli, pokoknya aku tidak mau terus-terusan diledeki teman-teman karena punya kakak idiot seperti dia.

Sebenarnya kak Rory sama sekali tidak jahat dan tidak selalu membuatku repot. Dalam kesehariannya dia bisa makan sendiri, bisa mandi sendiri tanpa perlu ditemani siapa-siapa. Kalau tiba-tiba dia muncul saat aku sedang asyik menonton TV, aku akan langsung menyuruhnya pergi, tapi dengan mimik wajahnya yang tolol dan mukanya yang culun, dia malah memaksa untuk ikut nonton bersamaku. Karena kesal akupun berteriak,

“Ah, Kak Rory, pergi sana! Aku malas sekali nonton bersamamu, sana pergi!”

“Rosie, ke-kenapa benci sama kakak?” tanyanya sepatah-patah.

Aku terdiam. Sebenarnya tidak ada alasan kenapa aku harus membencinya. Aku hanya merasa, hidupku ini tak seperti teman-temanku yang lain. Punya kakak yang normal, bisa diandalkan, dan bisa jadi teman ngobrol yang menyenangkan. Tapi rasanya mustahil untukku.

Akhirnya aku mengalah dan pergi dari ruang tamu, membiarkan dia menonton TV sendiri.

Dulu, aku tidak begitu dan tidak pernah sebenci itu kepada kak Rory. Sewaktu kecil, aku sering bermain boneka bersamanya, berlari-larian atau menonton TV bersama. Aku merasa semua baik-baik saja dengan dia, sampai akhirnya ketika aku mulai menginjak remaja dan pindah ke Sekolah Menengah Pertama (SMP), semua menjadi berubah.

Awalnya teman-temanku tak ada yang tahu kalau kak Rory itu idiot, walaupun akhirnya seiring berjalannya waktu, semuanya menjadi tahu. Hal ini terjadi ketika ibu menjemputku sambil membawa serta kak Rory. Aku mulai merasa malu. Di belakangku, teman-temanku mulai suka membicarakan tentang aku dan kak Rory. Setiap kali disuruh pak guru untuk maju ke depan kelas dan mengerjakan soal di papan tulis dan aku gagal, pasti ada suara teriakan dari belakang yang membuatku sakit hati.

“Pantas saja tidak bisa, kakaknya saja idiot, apalagi adiknya.”

“Mendengar itu, aku jadi ingin marah dan ingin segera pulang ke rumah, kalau dulu kak Rory langsung mengajakku bermain boneka, kali ini boneka yang dia berikan padaku, langsung kulempar.

“Jangan main bersamaku lagi!”

“Ke-kenapa?” tanya kak Rory

“Aku malu punya kakak idiot sepertimu!”

Dia terdiam. Mungkin berpikir apa salahnya kepadaku. Tapi aku tak peduli. Jadi mulai saat itu setiap kali dia mengajakku bermain, aku akan marah dan menolaknya. Ibuku selalu menyuruhku menemani kak Rory bermain tapi aku malah menangis.

“Ibu, kenapa sih Rosie punya kakak cacat seperti itu, Rosie jadi malu, di sekolah teman-teman sering meledek Rosie idiot, bego, begini, begitu, Rosie malu.”

Tapi ibu malah menamparku, sedangkan kak Rory yang melihat hal itu langsung menarik tangan ibuku.

“Rosie, berani-beraninya kamu bicara seperti itu kepada ibu dan kakakmu!”

“Salah apa Rosie, apakah salah kalau bicara jujur bahwa Rosie malu, sangat malu punya kakak seperti itu. Cacat, bego, idiot!” teriakku sambil lari ke kemar.

Ibuku hanya bisa memeluk kak Rory, kakakku yang walaupun cacat mental, dia pasti mengerti raut wajahku yang emosi dan marah. Ibuku pun menangis dan kak Rory membelai rambut ibu dengan pelan seperti membelai kucing yang sering dia temukan di jalan.

Ayahku bekerja di pertambangan sehingga jarang pulang. Ketika pulang pun, dia lebih banyak mengahabiskan waktu bersama kakaku yang cacat, padahal aku juga anaknya, tapi kasih sayang kepadaku cuma sebatas memberi jatah uang saku dan cium di kening, berbeda dengan kak Rory yang diperlakukan bagaikan anak emas. Sebenarnya aku tidak merasa iri dengan hal ini, yang penting aku mendapat uang saku. Sedangkan ibu tidak akan memberiku uang saku kalau aku tidak mau berbaikan dengan kak Rory.

Suatu ketika, aku mulai merasakan jatuh cinta. Di sekolah seberang, ada anak yang sangat kusuka, namanya Bima. Aku sering melihat dia bermain basket bersama anak-anak di sekolahku. Demi bisa berkenalan dengan Bima, aku bahkan rela menjadi volunteer bagi klub basket sekolah yang tugasnya membawakan minum bagi para pemain basket. Aku sadar bahwa kalau aku tidak cantik tapi juga tidak jelek-jelek amat. Satu hal yang aku sangat yakin bahwa cinta yang tulus pasti kelak akan terbalaskan.

Tanpa kusadari, ternyata Bima sering memperhatikan aku ketika sedang berjalan kaki pulang ke rumah, sedangkan dia biasanya mengendarai sepeda motor. Entah merasa kasihan atau memang suka denganku, akhirnya suatu hari dia menawariku tumpangan. Astaga, hatiku merasa sangat berbunga-bunga. Namun aku sadar, akan jadi masalah kalau dia sampai ke rumahku dan bertemu dengan kak Rory yang cacat mental, sehingga setiap kali diantar pulang, aku minta diturunkan agak jauh dari rumah. Karena kak Rory selalu berlari menyambutku setiap kali aku pulang. Bisa dibayangkan, apa jadinya kalau Bima sampai tahu bahwa aku mempunyai seorang kakak yang cacat mental, dia pasti akan menjauhiku.

Waktu berlalu dan tanpa terasa, aku semakin dekat dengan Bima. Dan suatu ketika dia mengundangku untuk hadir sebagai tamu istimewa di perayaan ulang tahunnya. Aku sungguh merasa tersanjung dan tentunya aku harus mulai memikirkan hadiah yang istimewa untuk Bima.

Dari teman-teman, aku mendapatkan info bahwa Bima paling suka dengan helm sport, tapi harganya mahal sekali, dan aku tahu tabunganku tak akan cukup untuk membeli helm seperti itu. Aku pun mulai memikirkan hadiah lain yang lebih terjangkau untuk kuberikan pada Bima.

Hari itu sambil terpaksa menemani kak Rory main, aku berpikir keras kira-kira uang tabunganku yang jumlahnya tak seberapa itu, hadiah apa yang pantas aku berikan untuk Bima nanti.

Kak Rory yang memperhatikan aku bengong cukup lama lalu bertanya,

“Kok m-main monopolinya lama, a-adik bengong ya?” Tanya kak Rory yang meskipun idiot tapi jago sekali main monopoli.

“Mau tau aja,” kataku sambil melanjutkan main monopoli.

Tiba-tiba aku jadi berpikir, mungkinkah kak Rory yang idiot ini punya uang untuk disumbangkan padaku agar bisa beli helm sport?

“Eh kak Rory punya uang tidak?” tanyaku, dan dia spontan menyodorkan uang mainan monopoli.

“Uang beneran dong, kak. Bukan uang seperti ini, kalau yang begini aku juga punya banyak.”

“U-uang, u-untuk apa?” tanya kak Rory dengan logatnya yang khas.

“Punya uang tidak?” tanyaku kesal

Tiba-tiba dia berlari ke kamarnya dan kembali lagi dengan membawa toples yang penuh berisi uang.

“Ini u-untuk adik, se-semua untuk a-adik. K-kakak kasih.”

“Yakin?”

“Iya. Ta-tapi temani kakak b-beli permen di s-supermarket.”

“Ah, hanya itu syaratnya, gampang sekali. Ayo berangkat,” kataku sambil menggandeng dia ke supermarket terdekat.

Akhirnya berkat kak Rory, aku bisa membeli hadiah terindah untuk Bima. Rasanya bahagia sekali. Tapi aku tahu, Bima pasti akan mengundang banyak orang pada perayaan ulang tahunnya nanti, jadi aku harus tampil istimewa di hari itu. Aku harus dandan yang cantik dan benar-benar terlihat hebat di pesta ulang tahunnya.

Hingga akhirnya, tibalah momen yang sangat kunantikan itu.

“Mau kemana Rosie?” tanya ibu yang sedang menonton TV bersama kak Rory.

“Mau ke ulang tahun teman.”

“Kamu mengambil uang kakakmu, ya?” tanya ibu

“Tidak kok, dia sendiri yang memberikannya ke Rosie, kalau tidak percaya ibu bisa tanya sendiri ke kak Rory.”

“Oh, pantas saja uang tabungannya habis, kamu tahu tidak, dia menabung uang itu untuk membeli kado ulang tahun untukmu minggu depan,” kata ibu yang langsung membuat aku ingat bahwa aku berulang tahun minggu depan.

“Oh, iya, tapi sama saja kan uangnya juga ke Rosie sekarang.”

Akhirnya aku bebas ibu pun memberikanku izin untuk pergi mengahadiri pesta Bima. Tapi setelah kusadari aku lupa membawa kado untuk Bima, masih ketinggalan di rumah. Aku merasa bodoh sekali karena lupa membawa kado untuk Bima.

Sementara itu di rumah, kak Rory yang sedang menonton TV tiba-tiba melihat kado yang secara tidak sengaja ketinggalan saat aku sedang membersihkan sepatuku dan aku langsung pegi begitu saja. Kak Rory tahu dan pasti ingat kalau aku ingin berangkat ke pesta yang aku bicarakan dengan Ibu, sehinga dia nekat membawa kado itu sendiri, tanpa sepengatahuan Ibu yang sedang mencuci piring di dapur.

Ketika pesta berlangsung dan acara pemberian kue pertama dimulai, tiba-tiba Bima menyebut namaku, aku senang sekali dan menerima kue itu dengan perasaan penuh kemenangan.

“Bima maaf ya, kadonya ketinggalan di rumah, besok aku berikan setelah maij basket tidak apa-apa kan?”

“Ah, tidak masalah, yang paling penting kamu bisa hadir di acara ini di ulang tahunku, dan ini kue pertama spesial hanya untuk kamu.”

Di saat momen paling penting itu, tiba-tiba kak Rory muncul sambil berteriak.

“A-adik, adik, i-ini kadonya, kadonya!”

Semua yang hadir melihat ke arah kak Rory, begitu pula Bima. Mukaku langsung memerah menahan malu. Saat Bima hendak berbicara, karena panik aku langsung meninggalkan pesta tanpa melihat ada sepeda motor yang melaju kencang dan menabrakku sampai terpental. Dalam keadaan setengah sadar aku melihat orang terakhir di atas bayangan mataku adalah kak Rory yang berteriak-teriak sambil menangis.

Lima belas hari kemudian, aku terbangun tanpa bisa menggerakkan kaki dan tanganku, tulang leherku patah karena tabrakan itu. Kulihat ayah dan ibuku ada di sampingku. Tapi dimana kak Rory?

“Ibu aku dimana?” tanyaku sambil menahan rasa sakit di mataku.

“Kamu di rumah sakit Rosie, kamu tidak bangun sejak 15 hari yang lalu, kamu dalam keadaan koma selama itu.”

Aku bangkit dan ibu membantuku berjalan ke ruangan sebelah dan melihat kak Rory yang sedang terbaring sambil memeluk boneka yang dulu sering dia berikan kepadaku. Aku melihat kak Rory dengan rasa prihatin dan kulihat matanya tertutup dengan perban. Ia memaksa untuk memberikan kedua matanya padaku saat aku dinyatakan kehilangan penglihatan karena terkena cairan raksa yang dibawa pengendara motor itu tumpah mengenai mataku. Dia merasa tidak boleh lagi ada yang cacat di keluarga ini selain dia, dan hingga permintaannya dikabulkan, dia akan marah dan tidak mau makan sampai dia bisa memberikan kedua matanya untukku.

Kak Rory pergi untuk selamanya demi membuatku merasa tak perlu lagi menahan malu karena memiliki kakak seperti dia. Kak Rory adalah kakak berhati malaikat yang tak pernah berhenti mencintaku sebagai adiknya.

Kakak, karena dirimulah kini aku sadar, aku tidak terlahir sempurna tanpamu. Walau dunia ini mungkin tidak pernah adil untuk kehidupanmu, tapi kau tetap kakak terbaik untukku.

Aku bisa merasakan adanya dirimu dalam diriku melalui matamu yang indah ini kak. Air mataku tidak berhenti turun menyesalinya.

Selamat jalan kakak tercinta, maafkan semua kesalahanku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *