Menyelami Nasib Pers dan Jurnalis Di Era Digital dan Di Masa Pandemi

Sumber Foto: instagram.com/boulevarditb

Yoga Tri Haditya / Salwa Salsabila

Pijar, Medan. Saat ini perkembangan jurnalistik dan kebebasan pers mengalami perkembangan yang cukup pesat dibandingkan di era sebelum reformasi. Seperti yang kita ketahui di era sebelum reformasi, rezim sungguh mengontrol para jurnalis. Kebebasan pers bergantung pada pemerintah dan pihak eksternal pers-pers lainnya. Hak-hak pers dalam berpendapat dibatasi dan hanya berita-berita yang berpihak kepada rezim saja yang diizinkan untuk terbit. Namun seiring perkembangan zaman dan berkat usaha  para jurnalis dalam memperjuangkan  kemerdekaan pers, kebebasan berpendapat mulai berangsur-angsur kembali didapatkan.

Dewasa ini, kemajuan teknologi informasi memberikan efek yang besar bagi masyarakat. Media pers dan jurnalistik tentu juga ikut berperan besar dalam kehidupan masyarakat. Perannya berupa tempat verifikasi dan klarifikasi berita yang tersebar agar tidak terjadi simpang siur yang menimbulkan kebingungan masyarakat akan berita palsu atau hoax. Berita-berita hoax dapat tersebar karena kemerdekaan pers dalam berkespresi kembali terbatas. Bahkan pada zaman digital seperti sekarang ini, otoritas pemerintahan masih turut campur tangan. Berkembangnya era digital malah menjadi sebuah tantangan bagi pers untuk memberikan informasi yang lebih berasaskan fakta dan berkualitas.

Turut serta membahas mengenai masalah tersebut, Boulevard ITB mengadakan Webinar Jurnalistik yang berjudul Jurnival (Jurnalistik Festival). Webinar ini hadir untuk mengupas lebih jauh lagi mengenai keadaan media saat ini hingga peran jurnalistik dalam penyebaran informasi. Webinar yang dilaksanakan oleh pers mahasiswa Institut Teknologi Bandung ini dilaksanakan melalui Zoom meeting, pada hari Minggu (20/12)  dengan mengangkat tema “Era baru jurnalisme: Media Digital, Komunikasi Risiko dan Masa Depan Demokrasi.”

Webinar ini menghadirkan tiga narasumber yang ahli di bidang Jurnalistik. Materi pertama dibawakan oleh Mayfree Syari, Jurnalis dan new anchor dari CNN Indonesia. Mayfree membahas mengenai Tantangan dan Peluang Media Digital di Masa Pandemi Covid-19. Mayfree menyampaikan bahwa beberapa tantangan dalam melaporkan berita di masa pandemi ini adalah personal health dan keamanan, mengumpulkan kepercayaan publik dan melaporkan informasi yang terverifikasi, serta beradaptasi dengan new normal.

Pemaparan materi Tantangan dan Peluang Media Digital di Masa Pandemi Covid-19 oleh Mayfree Syari di Webinar Jurnival melalui Zoom (20/12).
(Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi)

Mayfree mengutip dari media jurnalistik kredibel, bahwa per Desember 2020 sudah ada 462 awak jurnalistik yang meninggal karena terinfeksi Covid-19 pada saat bertugas. Angka tersebut meningkat dua kali lipat sejak data terakhir dirilis pada Agustus 2020.

“Sebenarnya worth it gak sih, harus ngerelain nyawa hanya untuk berita yang pada akhirnya tidak semuanya dipercayai oleh publik?” tanya Mayfree. Ia kembali menyampaikan bahwa itulah pentingnya gaining public trust atau mengumpulkan kepercayaan publik. Kepercayaan masyarakat yang rendah adalah salah satu tantangan terbesar dalam menyampaikan berita di era digital.

Mayfree berkata bahwa informasi yang disampaikan kepada publik harus tidak menyebabkan kepanikan dengan cara dikemas dengan sebaik mungkin, namun dengan tetap memperhatikan kode etik jurnalistik dan standar yang ada. Ia juga menyinggung tentang banyaknya berita hoax yang tersebar di era sekarang dan mengajak semuanya untuk saring dulu sebelum sharing.

“Kita semua sama-sama harus ambil peran untuk memerangi berita hoax yang tersebar di era digital ini. Walau belum menjadi reporter, tapi kita semua bisa ambil peran untuk terus mencari dan menyebarkan berita yang sesungguhnya untuk mencerahkan publik,” ucap Mayfree.

Mayfree menyimpulkan Jurnalistik harus dapat menjawab kebingungan masyarakat tanpa harus menyebabkan kepanikan yang akhirnya akan menyebabkan kepercayaan yang rendah dari masyarakat.

Materi kedua mengenai Masa Depan Demokrasi dibawakan oleh Adi Prinatyo, Redaktur Pelaksana Kompas. Ia membuka materi dengan menjelaskan pasang surut kebebasan Pers di Indonesia. Adi menjelaskan bahwa ada dua prinsip utama di dalam pers. Pertama merupakan fungsi pers, yaitu fungsi menyampaikan informasi, fungsi mendidik, dan fungsi  menghibur. Prinsip selanjutnya adalah kekuatan pers. Ia menyebutkan bahwa pers adalah kekuatan (secara informal) keempat di luar Trias Politika. Pers berperan menjadi penyeimbang/ kontrol sosial dari ketiga poin Trias Politika.

Ia menyampaikan, pada saat orde lama, tepatnya pada tahun 1945 sampai tahun 1957, pers berada di era perjuangan. Pers pada saat itu masih merdeka dan bebas. Lalu masuk ke era pers terpimpin, tahun 1957 sampai 1965, kebebasan pers meredup. Pada periode demokrasi ini diberlakukan SIT (Surat Izin Terbit) terhadap Pers yang artinya pemerintah bebas menyaring berita yang boleh diterbitkan dan yang tidak.

“Kalau berbicara mengenai kebebasan pers, seperti tarik ulur. Sebentar kendur, sebentar ketat lagi,” ungkap Adi. Ia mengatakan itu karena sejak kebebasan pers yang kembali dirasakan di awal orde baru, kembali merdeup pada era bisnis pers yang mana pers hanya hidup dengan mengandalkan bisnis.

Bisnis sejumlah perusahaan pers makin mapan sekaligus cenderung semakin berhati-hati dalam mengkritisi pemerintah. Pada era ini terjadi pemberedelan pers setelah peristiwa Malari (Malapetaka 15 Januari 1974) yang mengubah pers yang tadinya lantang menjadi tiarap. Pembredelan ini menjadi simbol berakhirnya era keterbukaan.

Era BJ Habibie menjadi pencerahan kebebasan pers dengan dikeluarkan UU No. 40/1999 tentang Pers. Pada era ini lahir banyak media Massa. Karena sesuai dengan kemerdekaan pers yang dijamin oleh negara sesuai pasal 4 ayat 1 undang-undang tersebut. Masuk ke era digital, media menjadi arus utama dalam penyebaran informasi. Inilah yang membuat berita hoaks tidak tersaring lagi, dan menyebabkan media pers arus utama masih harus menjadi wahana konfirmasi ulang atas fakta.

Narasumber terakhir adalah Ahmad Arif, Ketua Umum Jurnalis Bencana dan Krisis Kompas, yang menyampaikan materi mengenai  Komunikasi Risiko.

Sesi keempat merupakan sesi tanya jawab. Antusiasme peserta webinar dapat dirasakan pada sesi ini yang mana kolom pertanyaan dihujani dengan rasa penasaran peserta mengenai dunia pers dan jurnalistik. Di sesi ini terjadi diskusi antara narasumber dan peserta. Narasumber menjawab satu-persatu pertanyaan peserta yang telah dikumpulkan panitia di dalam kolom pertanyaan.

Webinar ditutup dengan penyerahan sertifikat kepada para narasumber yang hadir dan foto bersama narasumber dan peserta yang dipandu oleh panitia.

“Semoga melalui webinar ini kita semua bisa mendapatkan insight baru dalam dunia pers dan jurnalistik.” ucap Maria Sinta Kusuma, selaku moderator acara, sembari menutup acara.

(Editor: Erizki Maulida Lubis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *