Hits: 54
Septrian A. M. Tarigan / Miftahul Jannah Sima
Pijar, Medan. Peringatan Hari AIDS Sedunia yang biasanya diadakan setiap tahun secara offline, kini harus diadakan secara online dengan pelaksanaan webinar. Unit saHIVA USU sebagai salah satu yang mewadahi para mahasiswa USU dalam perkembangan HIV/AIDS, kali ini ikut memeriahkan acara Hari AIDS Sedunia dengan melaksanakan webinar dengan tema “World AIDS Day Kemiri (Kenali, Pahami, Akhiri) HIV/AIDS” pada Sabtu, 05 Desember 2020.
Webinar yang pertama kalinya dilaksanakan ini dihadiri oleh narasumber yang luar biasa, yaitu Dr. YudhaSudewo, M.Ked (OG), Sp OG (K) selaku Kepala Unit saHIVa USU dan FBA Ummiyah selaku Fasilitator Unit saHIVa USU. Acaranya pun dipandu oleh Farah Fadillah, S.K.M. Menariknya, kegiatan tersebut turut menghadirkan seorang penderita ODHA yang bersedia menceritakannya perjalanan hidupnya dalam melawan HIV/AIDS.
Kegiatan dibuka dengan sesi foto bersama melalui platform Zoom meeting terlebih dahulu. Kemudian dilanjutkan dengan kata sambutan dan pemaparan materi oleh Dr. Yudha.
“Saya berharap dengan adanya webinar ini, maka dapat mengedukasi masyarakat luas dan meluruskan kesalahpahaman tentang HIV/AIDS di kalangan masyarakat, terkhususnya para mahasiswa,” ujarnya Dr. Yudha.
Dr. Yudha dalam pemaparannya, yaitu di sesi kenali dan pahami menjelaskan mengenai HIV/AIDS. Mengulik pada laporan pertama mengenai kasus AIDS, yaitu pada tahun 1981 oleh seorang pria homoseksual asal Amerika Serikat. Kemudian pada tahun 1983, para ahli menemukan adanya virus HIV dan di tahun 1984 para ahli menemukan bukti bahwa virus HIV lah yang menyebabkan AIDS.
Di Indonesia sendiri, menurut Kemenkes kasus HIV/AIDS yang pertama kali dilaporkan yaitu di Bali pada tahun 1987, kemudian menyusul dengan menyebarnya di 386 kabupaten/kota di seluruh provinsi di Indonesia.
Lalu dilanjutkan oleh FBA Ummiyah dalam sesi akhir, ia memberikan kiat-kiat cara pencegahan HIV/AIDS, yaitu dengan menjauhi perilaku “berisiko”. Perilaku tersebut dapat seperti perilaku seks yang beresiko dan pengguna narkoba dengan jarum suntik. Namun, jika memang sudah pernah melakukan hal berisiko, maka selanjutnya ialah melakukan tes. Jika mendapati hasil positif, selalu gunakan kondom saat berhubungan dan patuhi petunjuk dokter serta meminum obat ARV.
Webinar ini juga menghimbau kita agar ketika bertemu dengan ODHA maka bersikaplah dengan wajar, tidak mendiskriminasinya, kita harus bisa memberikan dukungan, dan saling memberikan semangat. Tidak hanya itu, jika perlu rangkulah ia, karena penyakit HIV tidak menular baik itu melalui sentuhan, keringat, maupun berbagi makanan. HIV hanya menular melalui cairan kelamin dan darah.

Seorang ODHA yang merupakan Special Guest pada webinar kali ini mengungkapkan, “Tidak apa merasa waspada dan menjaga jarak kepada kami. Karena untuk penanganan HIV/AIDS ini kita memang harus mengetahuinya lebih lagi, baik cara penularannya dan pencegahannya. Saya sendiri bisa tertular karena penggunaan narkoba, jadi saya rasa seperti dikatakan pemateri sebelumnya, agar menjauhi hal yang beresiko.”
Para peserta menunjukkan rasa antusias mereka ketika masuk ke sesi tanya jawab. Beberapa peserta menyampaikan pertanyaan mereka. Salah satunya pertanyaan dari seorang mahasiswa, yaitu Mhd. Irfan Arya yang menyampaikan pertanyaan tentang cara penularan HIV/AIDS.
“Tadi dikatakan bahwa penularan HIV/AIDS dapat melalui cairan yang ada di dalam tubuh kita. Lantas bagaimana dengan berciuman? Apakah ketika adanya pertukaran air liur dapat menyebabkan penularan?” tanya Arya.
Menanggapi pertanyaan tersebut Dr. Yudha menjawab dengan penjelasan, bahwa penularannya memang dapat terjadi melalui cairan. Namun tidak termasuk cairan air liur, karena tidak memiliki jumlah virus aktif yang cukup banyak untuk bisa menularkan infeksi kepada orang lain. Cairan yang bisa menularkan HIV/AIDS ini ialah cairan kelamin, yaitu dengan adanya berhubungan intim.
Ketika ditanya tentang pelaksanaan webinar tersebut, Juliani Saputri selaku Koordinator Publikasi dan Dokumentasi mengatakan, “Acara tersebut berjalan dengan lancar dan terealisasikan dengan baik. Para peserta sangat antusias dengan memberikan banyak pertanyaan kepada pemateri dalam webinar. Hanya saja kendalanya terdapat pada jaringan yang kadang tidak stabil,” ungkapnya.
Sesuai dengan tujuannya, para peserta webinar memperoleh edukasi yang sangat penting tentang HIV/AIDS. “Yang saya dapat dari webinar tadi, bahwa kita harus tau apa itu HIV/AIDS. Bagaimana proses penularannya, hingga bagaimana cara pencegahannya. Dan yang terpenting untuk para ODHA, kita tidak boleh menjauhi para ODHA, namun kita harus merangkul mereka, menghilangkan stigma buruk tentang mereka, dan tidak membeda-bedakan mereka dengan orang lain di masyarakat luas,” ujar Mhd. Irfan Arya selaku peserta webinar tersebut.
Dengan adanya webinar ini, diharapkan agar masyarakat terkhususnya mahasiswa dapat saling mengedukasi dan mencegah penularan HIV/AIDS di masyarakat luas, serta saling merangkul satu dengan yang lainnya, karena yang perlu dijauhi itu penyakitnya bukan orangnya.
(Editor: Erizki Maulida Lubis)

