Putri Arum Marzura

Pijar, Medan. Anak merupakan rezeki dari Tuhan. Seorang anak dihadirkan untuk memberikan pelajaran kepada lingkungannya. Anak tidak hanya sebagai pelengkap hidup, namun juga berkah bagi kehidupan orang tuanya.

Setiap pasangan yang sudah berumah tangga pasti ingin dikaruniai anak di tengah  kehidupan mereka. Berbagai macam alasan yang diimpikan oleh sepasang suami istri. Berawal dari agar ada penerus dari hidup kedua orang tuanya, ingin mempunyai teman, dan lainnya. Meski dengan alasan apa pun, naluri orang tua akan selalu menyayangi anaknya. Bahkan kasih sayang orang tua dan anak tidak bisa diukur dengan langit serta isinya.

Manusia yang menganggap dirinya telah dewasa nyatanya masih banyak mengambil keputusan yang salah hingga akhirnya berdampak kepada anak mereka. Tak jarang para orang dewasa menggunakan anak sebagai alasan atas apa yang terjadi dengan hidup mereka. Pada akhirnya yang akan merasakan pahit dan sakit adalah anak.

Kesalahan yang dilakukan orang dewasa tersebut menggerakkan hati banyak orang agar lebih peduli terhadap hak hidup seorang anak. Hingga akhirnya lahirlah sebuah peringatan “Hari Anak Internasional” atau tepatnya “Hari Perlindungan Anak Internasional” yang jatuh pada tanggal 1 Juni.

Penetapan tanggal tersebut berdasarkan hasil kongres Women’s International Democratic Federation pada 4 November 1949. Tiongkok merupakan negara pertama yang memperingati Hari Anak ini.

Berdasarkan detik.com, Hari Anak Internasional memiliki konsentrasi yang berbeda dengan Hari Anak Sedunia. Hari Anak Internasional lebih menyepakati untuk memberikan perlakuan yang tepat pada anak ketika menghadapi masa-masa sulit. Ini diperingati sebagai cara untuk memastikan bahwa anak juga berkembang dengan baik tanpa adanya eksploitasi dan mengarahkan anak untuk menunjukkan keahliannya yang berguna bagi masyarakat.

Kejahatan terhadap anak makin hari makin mengancam. Melalui kecanggihan teknologi, kejahatan tidak hanya dapat dilakukan secara langsung namun juga bisa melalui daring.

Hasil pantauan media oleh End Child Prostitution, Child Pornography & Trafficking of Children for Sexual Purposes (ECPAT) Indonesia pada mediaindonesia.com, menunjukkan sepanjang 2018 terdapat 150 kasus yang berkaitan dengan eksploitasi seksual anak. Mayoritas pornografi, dengan korban mencapai 379. Secara global, kasus kekerasan seksual anak di 2018 tercatat 18,4 juta, meningkat dari 10,2 juta kasus di 2017.

Peringatan Hari Anak Internasional yang dilakukan setahun sekali ini tidak bisa hanya diucapkan melalui media sosial tanpa adanya aksi. Melalui peringatan Hari Anak Internasional seluruh lapisan masyarakat diharapkan dapat lebih peduli terhadap kesehatan serta keselamatan jiwa dan raga anak.

(Redaktur Tulisan: Widya Tri Utami)

Leave a comment