Hits: 7

Nadya Htg

Pijar, Medan. “Kita siap untuk menginspirasi USU!” teriak seorang mahasiswa, diikuti sorak ratusan aksi masa di depan Gedung Biro Rektor Universitas Sumatera Utara (USU), Selasa (23/05).  Pada momentum “Sehari Bersama Rektor” Mereka menyuarakan beragam tuntutan, meliputi protes mengenai Uang Kuliah Tunggal (UKT), mengenai pemberlakukan penambahan biaya skripsi bagi mahasiswa mandiri, dan lainnya. Sampai kepada penyerahan surat berisikan tuntutan dan keresahan mahasiswa kepada Rektor USU.

“Aksi ini murni dari hasil inisiasi dari kawan-kawan Pema (Pemerintahan Mahasiswa) sekawasan. Kami buka ruang seluasnya agar kawan-kawan dapat bergabung di sini tanpa latar belakang organisasi,” ujar Surya Dharma, Koordinator Pema Sekawasan USU. Surya bicara aksi selanjutnya adalah evaluasi dengan Wakil Rektor I dan Rektor untuk menindaklanjuti aksi. Menurutnya aksi ini secara lisan belum tersampaikan sepenuhnya, tetapi ia berharap besar pada redaksional yang ditulis pada surat tuntutan. “Ada sekitar dua puluh tuntutan di dalamnya,” tambahnya.

Begitu keluar dari kantor Biro Rektor USU, Prof. Dr. Runtung, S.H, M.Hum. dan jajarannya didekati sejumlah mahasiswa. Gestur dan gaya bicaranya terlihat percaya diri, ketika mulai meladeni aksi masa dengan kalimat-kalimat pembuka.”Anggap pertemuan ini bukan pertemuan yang pertama, tetapi yang terakhir,” katanya. Dia mengenakan setelan kemeja abu-abu dan celana hitam. Sebagian mahasiswa meminta penjelasan atas pernyataan sang rektor dan sebagian yang lain mengiringi dengan sorakan. Ia menjawab pertanyaan yang disodorkan, berikut mahasiswa mendengarkan dan begitu terus selama dua sampai tiga pertanyaan.

Sampai pada pertanyaan mengenai memberlakuan SK penambahan biaya skripsi sebesar 2,5 juta rupiah kepada mahasiswa program sarjana Mandiri. Runtung menyatakan bahwa SK tersebut berlaku untuk mahasiswa Mandiri tahun 2016 ke depan. Seorang mahasiswa lain secara cepat juga menanyakan, bagaimana wewenang SK yang mengatur pengutipan biaya skripsi pada mahasiswa Mandiri. Jika berkaca pada pembuatan peraturan UU Dikti, dimana menurut salah seorang mahasiswa SK hanya berwenang untuk individual, bukanlah abstrak. Selain itu mereka juga menuntut transparansi alokasi dana yang digunakan.

Seorang mahasiswa FMIPA mengajukan pertanyaan kepada Rektor USU di teras Biro Rektor, (23/05)
Seorang mahasiswa FMIPA mengajukan pertanyaan kepada Rektor USU di teras Biro Rektor, (23/05)

“Tapi berdasarkan fakta yang kami terima, kami sebagai mahasiswa angkatan 2013 dimintai biaya skripsi. Ada beberapa mahasiswa yang sudah bayar, jadi gimana ya pak?” terang Gloria  mahasiswa FISIP, disambut sorakan meriah aksi masa.

Runtung menyatakan jika ada mahasiswa yang terlanjur membayar dan tidak sesuai dengan pemberlakuan SK pada tahun 2016, maka akan segera dilayangkan surat untuk mengembalikan dana tersebut keapada fakultas yang terkait.  Mendengar sorakan-sorakan saat ia menjawab pertanyaan, Runtung mulai menampilkan sikap emosional. Sesudah megatakan dirinya tak suka digurui dan hendak mengusir mahasiswa yang berteriak, Runtung menyebut bahwa rektor berwenang menetapkan SK tersebut di dalam Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum. Selanjutnya biaya tersebut digunakan untuk biaya pembibingan dalam proses skripsi.

Berikutnya tanya jawab berlangsung seputar prosedur drop out bagi mahasiswa, alasan penutupan program ekstensi, sampai pesan-pesan mahasiswa terhadap birokrasi USU. Menanggapi tentang hak bagi mahasiswa dengan beban UKT,  Runtung menyebutkan jika terjadi pengutipan lain seperti biaya laboraturium, itu merupakan salah satu penyimpangan dan beliau siap menindaklanjutinya.

Mendengar penjelasan-penjelasan Runtung hari itu, Jenter Purba mahasiswa FISIP menyayangkan pernyataan terutama tentang perdebatan SK yang terpaksa dihentikan. “Aku bukan cari sensasi dan eksistensi, tapi kurasa memang ada yang salah di sini,” katanya.

Sore itu, pukul 5.20 WIB setelah penyerahan surat tuntutan mahasiswa, Runtung meninggalkan pertemuan dan memasuki ruangannya. Ia terlihat tidak senang karena jawaban-jawabannya malah ditanggapi para peserta aksi dengan berbagai macam jeritan. Suasana sangat memanas, padahal hujan yang turun baru saja reda. “Hari ini sebenarnya sangat beruntung rektor mau menerima dialog kita ini, tapi ya itu tadi, harus dievaluasi, harus beretika dan santun kedepannya,” pernyataan Prof. Dr. Ir. Rosmayati, M.S. selaku Wakil Rektor I USU.

 Redaktur Tulisan: Maya Andani

Leave a comment