Novita Arum

Pagi dimulai dengan suara ayam jago berkokok dari tetangga sebelah. Kubuka mataku dan kumulai hari ini. Kulihat ayahku yang sedang tak berdaya karena sakit yang telah dideritanya selama bertahun-tahun. Baru kali ini aku melihat ayah tak berdaya dan pasrah dengan penyakitnya. Setiap hari dilaluinya dengan bahagia seolah tidak ada penyakit yang menjadi bebannya. Di pagi itu setelah sholat kulihat dan kusapa ayah “Yah gimana udah baikan?”.

“Udah lumayan kok, ayah punya satu permintaan untukmu,”.

“Apa itu yah?”

“Boleh ayah minta Indah cium ayah? Untuk sekali ini aja dan mungkin ini bisa jadi permintaan terakhir ayah,”.

“Ah ayah ini ada-ada saja, gak usah ngomong yang nggak-nggak. Ayah pasti panjang umur dan bahkan akan ngeliat cucu-cucu ayah tumbuh dewasa, lagian aku udah gede malu nanti kalau diliat orang, adek ajalah yang cium ayah,” ucapku dengan ragu dan tidak terlalu memperdulikan perkataan ayah.

Nggak, ayah nggak mau kalau cuma adek, ayah mau Indah juga mencium ayah, sama ayah sendiri aja kok malu. Turutin aja yang ayah minta Indah buat ayah senang,” bujuk ayah supaya aku mau untuk menurutinya.

Walaupun ayah terus menerus membujukku, namun itu tidak mempan yang menciumnya hanyalah adikku. Malam harinya kami sekeluarga dikumpulkan dan ayah mulai mengucapkan kata-kata bijak.

“Ayah harap Indah sebagai anak paling besar mau dan bisa untuk menjaga keluarga ini, apalagi keluarga kita gak ada laki-lakinya. Kalau ayah pergi nanti jaga keluarga ini dan buat selalu utuh. Karena ayah tahu pasti orang lain tidak akan menghargai keluarga kita kalau ayah tidak ada lagi,” ucap ayah.

“Kok ayah ngomongnya gitu sih yah, ayah kan bakalan jagain keluarga kita sampai nanti dan itu akan didampingi ibu. Udah lah kita bercanda kayak biasa aja, gak usah bahas hal kayak gitu,” kata ibu mengalihkan pembicaraan dihadiri dengan rasa cemas akan kata-kata yang ayah ucapkan.

Dihari itu kami sangat takut dan terus kepikiran dengan kata-kata ayah dan sikap ayah yang mulai berubah. Hari ini ayah mulai membaik, banyak memberi nasihat, mengajak kami sholat berjama’ah, dan juga mengucapkan kata-kata yang seharusnya tidak diucapkan. Kami takut kejadian mengerikan ini hadir dalam keluarga kami. Kami takut duka menyelimuti keluarga kami. Kami juga takut akan kehilangan sosok yang sangat dihargai dan disegani di masyarakat, dan sosok yang memberi inspirasi juga kekuatan dalam menjalani hidup. Kami takut kenangan buruk akan singgah di kehidupan kami. Ketakutan terus menghantui, merasa tidak nyaman dan ingin selalu berada di samping ayah.

Keesokan harinya seperti biasa sebelum sholat subuh kusempatkan melihat kondisi ayah dikamarnya ditemani ibu yang sedang membaca Al-Qur’an. Tatapan aneh yang diberikan ayah seolah memberi pertanda bahwa ia tak ingin ditinggal sendirian. Memang beberapa hari ini ayah tidak ingin ditinggalkan sendiri, seakan-akan takut terhadap suatu hal. Nanti setelah Sholat akan kutemani ayah pikirku.

Ternyata hal buruk telah terjadi ketika aku selesai sholat. Tak kusangka tatapan yang ayah berikan tadi pagi adalah tatapan terakhir untukku. Seandainya kusapa ayah dan kutanyai kabarnya mungkin perpisahan kami tidak seperih ini. Kutemui ayahku telah dikerumuni oleh banyak orang dan ibuku pun sudah terkulai tak berdaya disampingnya. Seolah tak percaya dengan kejadian yang sangat mengerikan ini.

Kehilangan sosok yang selalu melindungi dan membela kami. Ayah cepat sekali rasanya kau meninggalkan kami. Serasa kurang waktu yang kami jalani bersamamu. Aku merasa menyesal, kecewa dan marah terhadap diriku sendiri. Kenapa hal ini harus terjadi kepadaku dengan waktu yang cepat? Aku tak sanggup menjalaninya.

Kalau saja aku tahu permintaan untuk menciumnya adalah permintaan terakhirnya. Akan kuturuti semuanya. Bukan hanya sekali menciumnya bahkan berkali-kali akan kulakukan, akan kupeluk dia dan kucium dia berulang kali sampai dia berkata lepaskan pun tak akan kulepaskan jika aku tahu hal buruk ini akan terjadi. Namun apa boleh buat nasi sudah menjadi bubur. Penyesalan sudah tiada arti, penyesalan sudah terlambat dan waktu tidak dapat diulang kembali.

Ingin rasanya kuhukum diriku sendiri yang tidak menuruti permintaan ayahku itu. Penyesalan yang tertinggal dan kini hanya diriku yang memeluknya yang sudah menjadi dingin dan kaku. Kuluapkan semua kekesalan ku terhadap diriku dengan menangis sejadi-jadinya dan ku pukul diriku sendiri. Ku goncang-goncangkan tubuh ayah yang sudah dingin dan menyuruhnya untuk bangun untuk melihat aku putrinya yang sudah masuk SMA yang sudah memulai perjuangan di sekolah yang telah dipilihkannya untukku. Nasib berkata lain belum sempat setahun aku berada di sekolah itu ayah sudah dijemput dan tidak berada disisiku lagi.

Mimpi buruk yang sudah dihindari dan menjadi pikiran yang tidak baik kini menjadi kenyataan. Tak jarang tubuhku melemah dan terjatuh ketika menangisi dan menyesali semua yang telah terjadi. Tiga hari sudah kepergian ayahku namun tak ada sesuap nasi dan setetes air pun yang masuk ke dalam tubuhku. Ibuku kulihat lemas dan tak berdaya sama seperti diriku. Hanya adikku lah yang terlihat kuat dan itu mungkin terjadi karena ia belum tahu betul apa yang telah terjadi saat itu adikku masih SD dan masih asyik bermain sesekali ia menangis dan menanyai keberadaan ayah.

Tubuhku yang gemuk gempal kini sudah menyurut. Sampai-sampai orang yang datang untuk melayat pun tidak mengenaliku lagi. Setelah tiga hari kepergian ayah, aku merasa semakin terpukul tidak ada lagi sosok yang selalu memberi candaan setelah makan malam. Yang dijumpai hanyalah sisa-sisa kain dan baju yang digunakan ayah sebelum ia pergi. Aku terus menangis seperti kesetanan. Tapi tangisanku tak terlihat lagi karena air mataku sudah tidak keluar lagi. Air mataku seolah habis karena sudah dikeluarkan siang-malam selama tiga hari. Terkadang aku terlihat seperti orang yang depresi dan tertekan sekali sampai-sampai ibuku tidak tahan melihat sikapku.

Karena tidak tahannya melihat sikapku ibu menyadarkanku, mengguncang-guncang tubuhku dan juga menyiramku dengan air. Ketika tersadar air mataku kembali keluar dan langsung memeluk ibuku. Aku tahu bukan hanya aku yang merasa kehilangan ibu juga pasti lebih kehilangan jika dibandingkan denganku karena pasangan jiwanya yang dikira akan menemaninya hingga akhir hayat malah mendahuluinya. Mungkin kedekatanku dengan ayahlah yang mengakibatkan semuanya terjadi. Memang aku anak yang lebih akrab dengan ayah jika dibandingkan dengan ibuku.

Setelah beberapa minggu aku mulai menenangkan diri dan mulai kembali menyibukkan diri dengan kegitan di sekolah. Walaupun terkadang jika ada waktu kosong maka aku akan mulai sedih lagi teringat akan kenangan buruk itu. Kucoba untuk selalu menyibukkan diriku dan tidak terlalu mengingatnya. Kalau aku bersedih maka keluargaku yang sudah menjadi tanggung jawabku sekarang ini akan ikut bersedih. Ku coba untuk mengendalikan diri dan akhirnya aku lah yang menjadi penguat di dalam keluargaku hingga saat ini.

Leave a comment