Hits: 53

Grace Kolin

Pijar, Medan. Selasa (8/11) Yayasan SIMPASSRI bekerja sama dengan Uniland, Sanggar Seni Rumah Aksara dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Karo menyelenggarakan Pameran Lukisan & Fotografi bertajuk Seniman Peduli Sinabung di Gedung Uni Plaza (Uniland).

Pada hari pertama pukul 17.00 WIB, pameran dibuka dengan Kata Sambutan dari Ketua Panitia “Pameran Seni Lukis dan Fotografi: Seniman Peduli Sinabung” dari Yayasan SIMPASSRI, Drs. Fuad Erdansyah, M.Sn, dilanjutkan dengan Kata Sambutan dari Head of Property Uniland, Pembacaan Puisi, Pembacaan Kata Sambutan Gubernur Sumatera Utara oleh Staf Ahli Bidang Pertahanan dan Aset Provinsi Sumatera Utara, Tari-tarian Batak, Pemukulan Gong dan Apresiasi Karya sekaligus transaksi jual beli karya hingga pukul 21.00 WIB.

“Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk menggalang dana kemanusiaan yang akan disalurkan melalui pemerintah Kabupaten Karo. Tujuan berikutnya adalah mendorong kepedulian para seniman terhadap korban Sinabung.” Ujar Fuad Erdansyah dalam pemberian kata sambutan.

Ada sebanyak 72 lukisan dari 17 pelukis dan dua foto yang dipamerkan. Beberapa karya tersebut dibanderol dengan harga Rp 500.000,- hingga Rp 20.000.000,-. Selain tentang Gunung Sinabung, lukisan yang dipajang juga mengangkat tema kebudayaan adat Batak, pemandangan Danau Toba, air terjun Sipiso-piso, tumbuh-tumbuhan, abstrak dan kontemporer.

Sayang Bangun (kanan), berfoto di samping lukisannya yang berjudul Erupsi Gunung Sinabung yang dibanderol dengan harga Rp. 20.000.000,- dalam Pameran Lukisan dan Fotografi: Seniman Peduli Sinabung (8/11) di Gedung Uni Plaza, Medan.
Sayang Bangun (kanan), berfoto di samping lukisannya yang berjudul Erupsi Gunung Sinabung yang dibanderol dengan harga Rp. 20.000.000,- dalam Pameran Lukisan dan Fotografi: Seniman Peduli Sinabung (8/11) di Gedung Uni Plaza, Medan.

“Bagus, peduli kita untuk pengungsi. Karena istilahnya, kita berbuat kemanusiaan yaitu dari segala segi kan? Baik itu dari segi lukisan, baik dari segi musik, kita berkontribusi untuk saudara-saudara kita di pengungsian.” Ujar Arta Boru Surbakti selaku pengunjung. Arta menyayangkan eksistensi seniman yang belum terlalu diperhatikan oleh pemerintah padahal nilai dari pada seni itu mahal.

Ketika ditanyai seputar lukisan favorit, Arta menunjuk pada kedua lukisan karya Sayang Bangun “Saya suka lukisan pengungsi Karo di bawah kaki Sinabung (Lukisan berjudul: Erupsi Gunung Sinabung). Menunjukkan beginilah berkumpul semua pengungsi tadi karena tidak punya tempat tinggal. Itu suara dan bahasa lukisan itu. Terus, Itu menunjukkan Pesta Bunga dan Buah. Pesta Bunga dan Buah itu memang budaya kita, kalau di kampong saya, Doulu, Raja Berne itu setiap bulan sepuluh, acara tahunan.”

Pameran ini akan berlangsung hingga 18 hari kedepan (25 November 2016). Pada hari terakhir pameran nanti, 30% dari uang dari hasil penjualan lukisan dan foto ini nantinya akan disumbangkan untuk Korban Bencana Gunung Sinabung.

Leave a comment