Hits: 212
Mareza Sutan A
(1)
Seharusnya Tuan dan Nyonya di rumah saja hari ini. Saya sudah katakan itu pada mereka, tapi mereka sepertinya terlalu sibuk dengan pekerjaan masing-masing sehingga mengamanahkan seisi rumah pada seorang seperti saya.
“Tak apa, Bi. Tak ada yang perlu Bibi khawatirkan. Rio, saya yakin dia anak baik,” kata Tuan Ari sebelum berangkat bekerja tadi pagi ketika istrinya sudah memanggil-manggilnya dari balik kaca pintu mobil hitam mengilat itu. Saya manggut-manggut saja, memercayai perkataan majikan sebagai sebuah tugas seorang pembantu.
Ada alasan kenapa saya sesekali berharap Tuan dan Nyonya di rumah saja. Bukan karena Tuan dan Nyonya harus melihat saya bekerja sepanjang waktu di rumah dengan serajin-rajinnya, melebihi rajinnya pembantu paling patuh di dunia ini. Bukan. Tapi, saya ingin Tuan dan Nyonya lihat sendiri apa yang sebenarnya terjadi di rumah.
Sebenarnya sudah sejak lama terjadi, tapi akhir-akhir ini saya lihat semakin parah saja. Tuan dan Nyonya masih begitu sibuk dengan pekerjaannya. Jangankan untuk memerhatikan, untuk menegur saja kadang-kadang tak sempat.
Semua akan dimulai sekitar pukul 09.00. Saya katakan sekitar karena tidak selalu tepat waktu. Itu sebenarnya jadwal kuliahnya, dulu sebelum dia menjadi seorang sarjana, yang menurut saya belum layak gelar itu tersemat pada namanya, entah mengapa. Akhir-akhir ini seringkali saya dengar suara wanita terkikih-kikih di sana, lalu desahan-desahan yang—jujur saja—tak dapat saya ampuni.
Hari ini saya kembali memergokinya. Pintu kamar tidak terlalu rapat tertutup, terbuka sekitar 10-15cm dan memberi sedikit ruang untuk melihat—atau lebih tepatnya mengintip—anak majikan yang keparat itu. Desahan itu semakin menjadi-jadi. Saya sedang menggenggam pisau dapur dan ingin sekali menusuk keduanya hingga darah memancar dari jasad-jasad itu, atau saya potong saja benda itu agar kebejatannya tak lagi menyala.
Tapi tanpa sengaja saya ketahuan.
(2)
Beberapa waktu terakhir memang dia suka mengajakku menjajali ikatan yang lebih intim daripada sekadar teman kampus. Apalagi sejak dia diwisuda, rasanya hampir setiap hari kami bersama. Kedua orangtuanya yang sibuk setiap saat setiap waktu membuatnya selalu kesepian. Dulu, dia sempat menjadi pecandu narkoba, tapi aku memohon sampai menjual air mataku agar dia mau berhenti dari kebiasaan buruknya itu.
Hari itu kami ke psikotheraper. Beruntung dia temanku, kami bisa jadi saling jaga rahasia, tentu dengan kuberikan uang tip sedikit. Setelahnya kami konsultasi dengan beberapa dokter. Sama, aku juga memberikan uang tip. Entah berapa banyak biaya yang kukorbankan, aku tak peduli. Asalkan dia bisa sembuh. Oh, aku mencintainya.
Keakraban kami mulai terbangun sejak pertengahan kuliah. Aku tidak ingat betul, tapi yang jelas kami dekat dan seperti tak pernah akan terpisah. Bahkan dalam putaran hari-hari di bumi, aku selalu menyempatan diri untuk singgah di rumahnya. Aku khawatir dia jadi pecandu lagi. Aku tak mau apa yang kukorbankan sia-sia.
Dia pernah cerita, tentang kasih sayang. “Ingin sekali aku merasakan yang orang-orang sebut dengan kasih sayang itu, San. Kamu tahu, ayah dan ibuku pulang ketika aku sudah tidur, lalu aku terbangun setiap kali mendengar suara mobil berhenti di depan rumah, dan semakin tidak bisa tidur setiap kali mendengar pekikan-pekikan dari luar kamarku.”
Aku maklum.
Akhir-akhir ini—tepatnya setelah kekasihku itu diwisuda—dia seperti mudah menyala. Dia seringkali memintaku datang ke rumahnya dengan dalih merindukanku. Aku sendiri, tak pernah mengizinkannya datang. Ayahku akan sangat marah jika melihatku berdua dengan seorang laki-laki yang bukan siapa-siapaku. Aku membayangkan Ayah akan bilang dengan terang, “Masih bocah sudah berani. Jangan kau jual murah harga dirimu itu, Santi,” dan itu akan sangat menyakitkan jika sempat kudengar. Ayah pernah bilang padaku, harga diri wanita itu mahal. Tapi bagaimana kalau aku cinta?
Maka jadilah seperti ini.
Mungkin suara tawa kami terlalu keras sampai terdengar ke telinga Bi Asih, pembantu kekasihku itu. Dia geram di depan pintu. Sebenarnya aku sudah menyadarinya, tapi tak ingin keadaan berubah kacau hanya karena kukatakan padanya ada seseorang yang sedang menyaksikan perbuatan dosa kami. Itulah sebabnya aku tetap bungkam sampai kami sama-sama mendengar suara benda logam terjatuh.
Kekasihku terbakar. Dia menyeringai. Aku berusaha menghentikannya tapi tenaganya terlalu kuat untuk kutahan. Aku terhempas dan terjatuh dari dipan, lalu tak ingat apa-apa.
(3)
Saya tak terlalu peduli dengan anak itu. Sudahlah, biarkan saja. Suami saya, Ari, entah mengapa begitu mengkhawatirkannya. Saya sudah katakan padanya bahwa anak yang kami didik untuk mandiri sejak kecil itu kini telah dewasa. Dia juga sudah sarjana, hanya belum dapat pekerjaan saja. Kemarin kutawarkan jadi staf di perusahaan ini, dia tak mau. Dia mau langsung jadi manajer saja. Kusarankan dia untuk membuka usaha sendiri, dia malah tertawa. Jadi, untuk apa aku tetap peduli.
Laba perusahaan ini memang sedang naik-naiknya. Indeks saham juga meningkat. Tapi, sebagai seorang profesional, saya tak ingin menempatkan anak itu ke bagian penting di perusahaan. Biar saja di staf dulu, nanti pelan-pelan merayap ke tingkatan lebih tinggi, itu lebih baik. Memang dasar inginnya yang instan saja, mungkin salah saya juga.
Hari ini saya membawa ponsel ke mana-mana. Biasanya saya meletakkan ponsel di ruangan kerja, orang-orang memang seharusnya menghubungi saya melalui telepon kantor. Benda untuk komunikasi ini seolah-olah tak mau lepas dari genggaman tangan saya. Mungkin ada sesuatu yang penting terjadi hari ini, saya pikir begitu.
Benar, seseorang menelepon saya. Suara siapa itu, saya tidak kenal. Saya segera mengabarkannya pada suami saya. Kantor saya tinggalkan.
(4)
Pembicaraan telah ditutup. Saya termenung beberapa jenak. Pandangan mengambang ke mana-mana.
“Pak, mobilnya sudah disiapkan,” kata sekretaris saya menyadarkan dari lamunan.
“Oh ya, segera. Saya segera turun.” Saya buru-buru merapikan keadaan hati. Sekretaris itu sudah undur diri, meninggalkan berantakannya ruang kerja dan suasana jiwa.
Saya memacu kendaraan itu sendiri. Sebenarnya saya punya sopir pribadi, tapi kali ini saya persilakan untuk membesuk istrinya yang sedang sakit di kampung.
Sepanjang perjalanan hati ini dikerubungi gelisah. Entah apa sebab. Saya jadi teringat yang dikatakan Bi Asih tadi pagi untuk sesekali menikmati hari-hari di rumah, tapi karena tuntutan pekerjaan saya tetap tidak bisa menerima permintaan itu.
(5)
“Kami sudah menemukan bukti-bukti kuat, bahwa anak Bapak-lah pembunuhnya.” Itu yang saya katakan pada Pak Ari ketika dia mulai mampu mengatur napasnya. Beberapa saat kemudian, istrinya datang.
“Ada apa, Mas?”
Pak Ari menggeleng. Pelan-pelan, saya menjelaskan kronologinya. Betapa terkejut wajah mereka, saya tetap mencoba menenangkan.
“Jadi anak saya bagaimana, Pak?”
“Karena banyaknya kasus, maka kita akan menyelesaikannya di pengadilan, Pak, Bu,” kata saya mencoba menjelaskan. “Tapi untuk sementara, anak Bapak dan Ibu kami amankan.”
“Di penjara?”
Saya tidak menjawab. Beberapa saat kemudian, salah seorang anggota saya sudah datang bersama tersangka. Saya ingin membiarkan pembicaraan mereka berlangsung hangat.
(6)
“Untuk apa kalian ke sini?” Itulah pertanyaan pertama yang terucap dari mulutku. Aku benci mereka.
Kepalaku sudah penuh dengan masalah sebelum ke tempat ini. Sudah sejak dulu aku menginginkan kehadiran mereka, tapi mereka malah datang terlambat, malah datang ketika aku sudah membenci. Lalu buat apa mereka ke mari lagi?
Aku akui, aku sudah hidup lama dengan obat-obatan. Hanya itu yang bisa jadi teman paling setiaku. Tentang Santi, ya, aku mencintainya. Dia berkorban banyak untukku. Aku tak ingin hubungan kami datar-datar saja dan, aku ingin dia bahagia. Cukup. Tapi entah kenapa Bi Asih seperti tak pernah senang melihatku bahagia. Dia tak pernah mengerti betapa sakitnya menjadi sendiri, atau barangkali dia sudah mengerti dan menyampaikannya berkali-kali tapi orang yang diharapkan untuk mengerti tidak pernah peka akan perasaan ini.
“Pulang saja. Aku tak butuh kalian,” kataku, datar.
“Dasar anak kurang ajar!” Tangan Ayah langsung mendarat di pipiku. Darah memancar, aku tetap tak ingin menunjukkan cinta itu.
“Sudahlah, Mas,” jerit Ibu. Aku melihat tanda cinta dan penyesalan dari wajahnya, tapi tetap saja terlambat.
“Diam kau, Farah, biar kuajari bagaimana susahnya jadi orang tua.” Pukulan mendarat sekali lagi. Darah memancar lagi. Polisi datang melerai.
“Sudah? Hanya itu yang Ayah bisa lakukan? Kenapa tidak lakukan sejak dulu ketika aku salah?”
“Kau kira gelar sarjanamu itu bisa menyucikan kebejatanmu?” Ayah hendak menamparku lagi, tapi dua orang polisi di sampingnya segera menahan tangannya yang kalah kuat itu.
Aku diam. Gelar memang sangat ingin dimiliki orang-orang. Namun, gelar bisa menjadi cambuk yang menyakiti diri sendiri.
“Selama ini Ayah selalu mengandalkan uang untuk membuatku bahagia,” kataku lirih. “Ayah tak pernah mengerti inginku adalah kebersamaan dan cinta. Aku seolah-olah dipaksa mencari cinta di negeri lain. Aku mendapati cinta di luar rumah yang seharusnya penuh cinta.
“Aku pernah mendapatkan cinta dari minuman keras. Aku pernah mendapatkan cinta dari obat-obat. Aku mendapatkan cinta dari kebebasan. Kebebasan berpikir, kebebasan bergaul, kebebasan yang terlalu jauh Ayah dan Ibu berikan selama ini. Dan sekarang, Ayah dan Ibu merasa benar-benar sudah mencintaiku?
“Kita jauh dari kata cinta.
“Aku tersiksa dengan kebebasanku. Tapi aku ingin juga merasakan cinta, sampai akhirnya kudapati cinta dari seorang perempuan. Setidaknya dia menjauhkanku dari kecanduan, tapi malah mendekatkanku pada candu lain. Ayah dan Ibu tak pernah peduli.
“Tadi pagi, Bi Asih seolah-olah mengganggu cinta itu. Aku marah. Dia menjatuhkan pisau dapurnya di depan kamar karena ketakutan. Aku mengambilnya dan menikamnya berkali-kali. Lalu aku menikam Santi yang pingsan. Aku gelap mata. Mana mungkin orang berjalan tanpa cinta?”
Kini aku menyaksikan hening di hadapanku.
“Sudahlah. Aku lebih nyaman di sini. Kalian urus saja pekerjaan kalian.”
Aku pergi.
[…]
Data Diri:
Nama : Mareza Sutan Ahli Jannah
Fakultas : Ekonomi dan Bisnis
Kontak : 085922054979
Alamat : Jalan Kenanga Raya (31) Tanjung Sari, Medan Selayang.

