Hits: 31

Estetia Alma

Termenung, menatap pada ujung tak berbatas. Melihat tawa lepas anak-anak seusiaku, berpikir kiranya kapan aku akan merasakan hal tersebut. Bermain, tertawa, dan  sembari memegang tangan sahabatku berlari ke sana dan kesini. “Hei, cepat! Kau pikir kau bisa makan kalau hanya menatap mereka!” Sontak wajahku berubah. Kembali kulihat karung putih kotor berada di genggamanku setiap hari. “Iyaa aku tahu,” sahutku dengan suara yang pelan. Kembali kugenggam erat karung yang berisi sampah dan botol bekas ini.

Deren. Orang-orang memanggilku Deren. Bertubuh kurus, hitam legam, dan anak kecil yang tidak memiliki rumah tempat singgah. Bahkan “rumah” yang kuingini pun tidak terlihat sampai saat ini. Tumbuh besar dicbawah jembatan lembab beralaskan kardus yang dirangkai Bang Tono menjadi rumah yang sungguh indah bagiku. Hidup sebagai seorang anak jalanan tanpa keluarga membuatku merasakan dinginnya ibukota setiap malamnya.

Aku hidup bersama Bang Tono, entahlah aku juga kurang yakin siapa Bang Tono sebenarnya. Tapi yang pasti ia adalah seseorang yang kupunya saat ini. Tubuh kurus yang tidak terlalu tinggi, baju yang selalu kebesaran. Entahlah aku bingung Bang Tono mendapat baju itu dari mana, sepertinya ia mengumpulkan dari tong sampah dekat rumah besar yang berada jauh dari jembatan tempat kami tidur ini.

“Hei Deren, bangun!” Bang Tono sepertinya semangat sekali pagi ini. “Hummm, iya bang ini Deren udah bangun,” ucapku sambil menguap.

“Cepat! Kita sepertinya akan dapat banyak botol hari ini, karena hari ini ada festival di dekat rumah besar itu. Mungkin perayaan ulang tahun putri kecilnya, kau tau kan?” tanya Bang Tono padaku.

“Ha? Benarkah?” Aku sangat senang. Mungkin kalian akan bertanya-tanya mengapa aku sangat senang ketika mendengar anak dari pemilik rumah besar itu. Ya, karena ia sangat cantik dan ia bahkan sering menyapa anak jalanan tanpa rumah ini.

“Kenapa kau sangat senang?” Tanya Bang Tono heran. “Kau menyukai anak kecil itu ya?”

“Tiii tii dakk,” ucapku gagap. “Heii anak kecil sepertimu tidak boleh menyukai gadis kecil seperti dia!”, ucap bang Tono sedikit tertawa. Aku heran dan aku yakin pasti ini karena kami berbeda, ia selalu memakai pakaian bagus dan berwarna warni sedangkan aku hanya memakai kaos partai berwajahkan politisi yang menguras harta rakyat yang aku dapat ketika mereka melakukan sosialisai di bawah jembatan.

“Kenapa?”, tanyaku dengan sombong kepada Bang Tono. “Sudahlah, kau bahkan berteman saja dengannya tentu tak bisa dan kau bahkan menyukainya? Hahahah sudahh sudahh kita lebih baik mencari botol saja dirumah itu,” bang Tono tertawa terus-menerus sambil mengambil karung putih di ujung rumah kardus yang hampir roboh ini.

Berjalan dan terus berjalan, akhirnya kami sampai ke rumah besar tempat tinggal putri impianku. Huaa rasanya senang sekali melihat dia meniup lilin ulang tahunnya. Aku mengintip dari sela-sela jendela yang dibuka khusus untuk menjadi ventilasi udara. Senang sekali rasanya menatap keluarga yang memelukmu, membelikanmu kue, menciummu.

Bang Tono tiba-tiba menepuk pundakku. “Oi, kau mau makan tidak?” tanyanya. “Mau!” jawabku semangat karna melihat rentetan kue berjejer di meja begitu membuatku lapar.  “Yasudah kau minta saja kevdalam, atau curi kue kecil di ujung sana,” rencana konyol yang disampaikan oleh Bang Tono kelihatan seru di pikiranku. “Baik,” ucapku tanpa ragu.

Aku akhirnya mengendap-endap masuk ke dalam sampai pada akhirnya..

“Ibu! Ibu! Ada orang aneh masuk ke dalam!” teriak putri yang ku cintai, anak kecil dengan gaun pink yang baru saja meniup lilin.

“Dia bukan temanku, kau siapa?”

Apakah dia lupa? Dia selalu menyapaku, apa aku terlalu buruk menjadi seorang teman?

Tanpa kusadari sudah ada lelaki bertubuh gempal dengan perut membuncit yang menarik lenganku keluar dan melemparku. “ Keluar, kau bau dan menjijikkan!”. Hanya itu, kalimat itu yang buatku tersadar aku tak punya tempat di dunia ini. Bang Tono kemudian menghampiriku, mereka menyebut ini hukuman. Hukuman untuk rakyat jelata tanpa rumah.

Leave a comment