Hits: 8

Khairullah bin Mustafa Usman          

Sudah dicetak lebih dari 200.000 eksemplar, buku  karya Joel Andreas  sukses memberikan pandangan yang relevan bahwa perang benar-benar merugikan. Buku setebal 82 halaman ini menarik sebab disajikan serupa komik yang juga bisa dibaca oleh anak-anak. Buku ini juga memberikan pengertian pada mereka bahwa dalam perang hanya ada satu istilah “kalah jadi arang, menang jadi abu”. Maksudnya adalah tidak ada yang memperoleh kemenangan secara utuh.

Cerita dalam buku ini bermula ketika setiap warga Amerika harus dipotong gajinya, demi kebutuhan belanja militer. Uang itu dipergunakan untuk alutsista perang. Tapi namanya juga perang, uang yang telah dibelanjakan itu tidak menjamin pasukan yang dikirim kembali dengan selamat. Dimana buku ini juga memaparkan bahwa perang hanyalah keuntungan sendiri bagi para elit penguasa, guna meraih keuntungan. Mencaplok negara lain adalah dalih untuk mencapai tujuan mereka.

Sayang, buku ini menjelaskan pada kita yakni perang hanya akan menyisakan tulang belulang manusia yang bertumpuk-tumpuk, tuan tanah yang harus pergi dari tanahnya sendiri, kepala pemberontak penjajahan yang bakal terpenggal, dan tentunya masih banyak lagi. Tak ada yang istimewa dalam perang kawan, karena sindrome traumatic akan melanda korban imperialis, kolonialis, bahkan juga pelakunya: Amerika sendiri.

Joel Andreas yang merasa benci dengan sifat nafsu perang politisi Amerika, membuat Joel dalam bukunya sedikit merasa bangga saat U.S Army ditekuk lutut oleh tentara petani Vietnam. Amerika banyak mengirimkan pasukannya ke Lebanon, Granada, Libya, Panama, Irak, Kosovo, Iran, Afghanistan juga Korea serta Palestina. Buku ini merincikan dengan baik bagaiman cara Polisi Dunia merambah negeri orang yang bukan haknya. Amerika meletakkan boneka-bonekanya disana sebagai pemimpin, tapi tak jarang pula mereka membelot dan akhirnya memberontak pada tuannya.

Tapi pemilik senjata perang tak selamanya berjaya. Andreas menceritakan bagaimana takutnya Amerika saat peristiwa 11 September 2001 itu. Juga Afghanistan yang mengusir Uni Soviet dengan senjata yang tak memadai. Lewat bahasa yang sederhana si penulis khawatir saat setiap negara berlomba-lomba menciptakan senjata dan uang mengalir ke kocek para produsennya.

Perang adalah bisnis bagi para pecatut perang, kesedihan bagi orang tua yang memiliki anak tentara, juga kebencian bagi warga negara yang terjajah. Pesan dari buku ini ialah berhentilah berperang dan ajak temanmu untuk melakukan orasi damai. Para pejabat serakah itu akan menerima ganjaran kejahatannya. Sebab Tuhan tak pernah tidur, wahai Amerika.

Leave a comment