Zikri Auliana

Pijar, Medan. Memilih untuk diam atau mengabaikanlah yang dinamakan dengan silent treatment. Banyak orang yang memilih untuk diam sebagai pelampiasan ketika frustasi, marah, kesal bahkan jika kewalahan menghadapi suatu permasalahan. Dalam suatu hubungan, pertengkaran pasti akan terjadi, namun semuanya kembali kepada yang menjalankan hubungan tersebut, bagaimana menyikapi permasalahan yang ada.

Apabila Silent treatment terjadi, seringkali timbul rasa egosentrisme sehingga enggan untuk menyelesaikan suatu masalah dan meminta maaf, padahal di samping perasaan yang demikian ada keinginan untuk menyelesaikan permasalahan.

Orang yang melakukan silent treatment akan merasa memiliki kendali sendiri tanpa memikirkan perasaan orang lain. Sementara seseorang yang menerima perilaku tersebut merasa bingung akan kesalahan apa yang telah dia perbuat. Biasanya, pihak yang menerima perilaku seperti ini akan berusaha menciptakan suasana yang biasa saja seakan tidak ada masalah yang terjadi, bukan malah menyelesaikan masalah.

Namun, ada juga pihak yang langsung meminta maaf, dengan menanyakan kesalahannya, tetapi tindakan tersebut jarang dilakukan karena sering kali mendapatkan penolakan dari pihak lain yang masih memendam amarah atau kekesalan. Dengan demikian, orang-orang yang diabaikan tersebut akan merasa kesal dan tidak ingin melakukan penyelesaian untuk kedua kalinya, sehingga saling merasa paling benar dan terciptanya akar hubungan yang tidak sehat.

Silent treatment yang terjadi secara berulang kali dapat menjadi sebuah kekerasan emosional yang mempengaruhi retaknya suatu hubungan.  Perilaku silent treatment juga dapat membuat orang merasa terisolasi, ditolak, bersalah, kesepian, keputusasaan, gelisah, bahkan ketika mendapatkan suatu penolakan atau pengabaian, maka seseorang akan merasa tidak dihargai, tidak dicintai, merasa terkhianati dan juga tidak berarti bagi hubungan yang pernah ia jalani.

Lantas, apakah silent treatment adalah suatu keputusan yang tepat dalam menanggapi permasalahan? Dikutip dari Kelascinta.com, orang yang melakukan silent treatment adalah orang yang tidak dewasa, tidak cerdas, egois, dan tidak peduli terhadap perasaan orang lain. Maka dalam menyelesaikan suatu permasalahan silent treatment bukanlah keputusan yang tepat untuk dilakukan. Komunikasi yang jelas dan saling intropeksi diri adalah jalan keluar yang tepat agar hubungan tetap berjalan dengan sehat.

Apakah sobat Pijar secara sadar atau tidak sadar pernah melakukan silent treatment? Jika pernah, sebisa mungkin jangan dilakukan lagi ya, karena tindakan tersebut dapat membuat hubungan sobat Pijar dengan individu lain menjadi semakin buruk. Ada baiknya suatu masalah langsung dihadapi dan dikomunikasikan bersama-sama agar dapat segera menemukan titik terangnya.

(Editor: Diva Vania)

Leave a comment