Fever: Proses Pendewasaan dan Pembuktian

Hits: 9

Pijar, Medan. Kadang saya berpikir kalau band metal atau band yang spesialisasinya memekakkan telinga hanya memainkan musik yang keras dan tidak beresensi sama sekali. Pemikiran tersebut bukan datang dengan tiba-tiba, tetapi mungkin akumulasi dari banyaknya musik beraliran yang sama yang telah saya konsumsi sejak berumur delapan tahun. Banyak band yang mengatasnamakan dirinya metal seperti hanya nikmat pada musik tapi tidak di lirik. Band-band tersebut bisa dikatakan beronani dan nikmat sendiri-sendiri. Sayangnya, pemikiran tersebut runtuh seketika kala band asal Bridgend, Wales, Bullet For My Valentine menelurkan album ketiga mereka dengan tittle Fever. Pola pikir dan cara pandang saya akan band yang beraliran serupa tiba-tiba mengalami metanoia, berubah dan benar-benar memandang berbeda untuk band yang mulai menunjukkan giginya sejak tahun 1995 ini.

Fever datang seperti mesias yang menyelamatkan dari pola pikir terdahulu. Album yang menawarkan 12 lagu dengan riasan berbeda tersebut dikonsep dengan cara yang benar-benar unik. Tiap lagu dituliskan dengan ringan dan mempunyai ceritanya masing-masing. The Last Fight, salah satu lagu dalam album tersebut bercerita tentang bagaimana seseorang berusaha bangkit dari keterpurukannya dengan berteman dan berdamai dengan masa lalunya. Seperti yang bisa kita lihat dari lirik tersebut;

I will fight, one more fight  

Don’t break down in front of me

I will fight, one more fight?

I am not the enemy

I will try one last time

Are you listening to me?

I will fight, the last fight I am not your enemy
Selain menggunakan lirik yang menarik, lagu tersebut dipoles dengan permainan gitar dari Michael “Padge” Paget yang lebih dewasa dan lebih terpelajar dalam teknik arpeggionya.

Secara keseluruhan, album tersebut menandakan bahwa band yang  digawangi oleh Matthew Tuck sebagai lead vocal dan  rhythm guitar, Jason “Jay” James  sebagai bassist dan backing vocal, Michael “Padge” Paget  sebagai lead guitar, dan terakhir Michael “Moose” Thomas sebagai drummer ini telah belajar dari album mereka yang lalu. Mereka telah mendewasakan musiknya dalam Fever. Fever bisa dianggap album terbaik mereka selama hampir 17 tahun bermusik.

Matthew Tuck dalam wawancaranya dengan UK’s Metal Hammer Magazine pada 12 Maret 2010 mengatakan bahwa album ini berisikan sesuatu yang segar dan mengasyikkan.  Dua belas lagu dimainkan dengan cara yang mereka suka. Walaupun berbeda dengan tema album yang terdahulu (Scream ,Aim, and Fire) tapi mereka yakin kesuksesan album yang terdahulu tetap mengikuti album terbaru tersebut.

Sejujurnya, saya sebagai penggemarnya hanya bisa tersenyum ketika mp3 yang sedang saya dengar sedang memutar lagu-lagu band gila tersebut. Fever seakan mengisi sesuatu yang kosong dalam diri saya tetapi saya sendiri tak tahu apa bagian yang kosong itu. Fever dikonsep seperti sesuatu fenomena yang ribet tetapi mudah untuk dipahami. Bukan membohongi, Bullet For My Valentine dalam Fever-nya menjelma seperti kumpulan visi empat manusia yang benar-benar ingin bermusik tapi tidak untuk menggurui.[ded]

Leave a comment