Pernahkah sobat Pijar berfikir untuk membuat konten Youtube dengan menjelajahi tempat-tempat mistis yang ada di sekitar kalian? Seperti halnya pada film Gonjiam: Haunted Asylum. Film yang diangkat dari sebuah urband legend ini resmi ditayangkan pada 28 Maret 2018 kemarin di Korea Selatan dan berhasil menarik banyak minat pecinta film horor di Korea.
Pijar, Medan. Pintar belum tentu kaya. Sebaliknya, memiliki kekayaan yang melimpah tidak menjamin kecerdasaan seseorang. Film thriller terbaru garapan Bong Joon Ho mengangkat anekdot tersebut. Dikemas dengan nada komedi yang membawa tawa, Joon Ho berhasil menggiring para penonton untuk menyaksikan perbedaan kelas sosial yang terjadi di masyarakat dewasa ini lewat karyanya dalam dunia film.
Film ini bercerita tentang kehidupan dua orang pemuda yang menempuh pendidikan di Universitas Kepolisian. Keduanya mempunyai latar belakang keluarga yang berbeda. Park Ki Joon (Park Seo Joon) adalah seorang anak dari keluarga yang kurang mampu sehingga membuatnya memilih bersekolah di Universitas Kepolisian karena biaya pendidikan yang gratis. Sedangkan Kang Hee Yol (Kang Ha Neul) adalah seorang anak pedagang daging yang dulunya bersekolah di sekolah khusus sains, namun tertarik masuk kedalam Universitas Kepolisian karena ingin mencoba sesuatu yang baru. Persahabatan kedua pemuda ini bermula ketika Ki Joon secara sukarela membantu Hee Yol yang saat itu sedang terkilir untuk mendaki gunung ketika menjalani tes di akademi kepolisian.
Pijar, Medan. Seluruh penonton mendadak histeris saat film “Gundala: Negeri Ini Butuh Patriot” berakhir. Riuh tepuk tangan yang sahut-menyahut tak henti-hentinya ditepukkan. Untuk kali pertama, Indonesia memiliki Universe miliknya sendiri, tak jauh berbeda dengan Marvel ataupun DC. Kita boleh berbangga, sebab ada banyak dongeng lewat komik lawas yang akan diterbitkan menjadi sebuah dunia pahlawan super. Sempurna? Bisa jadi, film Gundala sang pahlawan petir yang tayang perdana pada (29/8) berhasil memupuk asa.
Bumi Manusia adalah mahakarya yang diciptakan Pramoedya Ananta Toer. Sebuah novel yang sempat dilarang pada era Soeharto dan membuat sang penulis diasingkan di Maluku tanpa melalui proses pengadilan.
My Name is Khan adalah film garapan Karan Johar ditahun 2010. Film ini mengisahkan tentang perjuangan seorang muslim di tengah rumor dan stereotype warga Amerika mengenai Islam yaitu teroris. Rizvan yang dikisahkan beragama islam ingin mengubah hal tersebut dengan cara yang cukup nekat. Yaitu dengan cara ingin menjumpai presiden Amerika Serikat untuk menyampaikan bahwa dirinya Islam dan dirinya bukan teroris.
Seperti pada Film yang satu ini. “Sunyi”. Film yang tayang pada 11 April 2019 kemarin menceritakan sebuah sekolah yang memiliki peraturan tidak wajar antara senior ataupun juniornya. Awi Suryadi selaku Sutradara dan Manoj Punjabi, mengadaptasinya dari film horor asal Korea yang berjudul Whispering Corridors.
Apa yang menarik dari sebuah film selain nilai estetika filmografi yang terkandung di dalamnya? Tentunya adalah storytelling mengenai sebuah film tersebut. Mengapa penonton harus menonton film tersebut? Apa yang bisa membuat penonton tertarik dengan film tersebut? Semua ini terkandung di dalam film Green Book (2018).
Pijar, Medan. Diangkat dari film animasi Disney tahun 1992 lalu, Aladdin kini kembali didambakan dalam perfilman internasional. Film ini merupakan film besutan sutradara Guy Ritchie
Warner Bross meliris film horror supernatural terbaru berjudul The Curse of Weeping Woman (La Llorona) yang merupakan bagian dari The Conjuring Universe. La Llorona adalah film keenam dari The Conjuring Universe setelah menuai kesuksesan dengan film The Conjuring (2013), The Conjuring 2 (2016), Annabelle (2014), Annabelle: Creation (2017) dan The Nun (2018).
