Kami hanyalah mahasiswa
Tak lain tak bukan hanya manusia
Kami bukan boneka siapa-siapa
Haru, membuatku jadi pilu
Hujan, membuatku jadi sendu
Aku berdiri di tengah hujan yang penuh haru
“Alam sedang mengobati dirinya, manusia akan membersihkan hatinya. Bulan penuh ampunan telah tiba. Selamat berpuasa”
Aku menatap gadis di dalam cermin itu. Semakin ku tatap, semakin jelas. Ia tidak sesuai, ia berbeda. Ia menatapku lekat, begitu pula aku. Semakin lekat kulihat ia, semakin tampak kekurangannya. Ia tidak elok. Ia aneh. Ia begitu kuno. Wajahnya tidak masuk standar wajah yang diinginkan orang, begitu juga dirinya. Kulitnya hitam, hidungnya besar, berjerawat. Lengkap sudah. Ia minta dilenyapkan saja dari muka bumi ini.
Malam ini awan menangis, air matanya jatuh menyapu pekat debu yang belakangan memenuhi sudut kota. Seakan tahu isi hatiku kini, hujan turun di saat yang tepat. Aku tidak sedang sedih, hanya sedang rindu, sedikit.
Sejak kecil, aku selalu mendapatkan kasih sayang yang sangat besar. Aku selalu merasakan kebahagiaan yang tak bernilai, melebihi apa pun. Begitu banyak pelajaran yang bisa aku dapatkan sejak kecil. Mulai dari belajar jalan, berbicara, hingga mengenal kehidupan. Semua itu berkat seseorang yang sangat berjasa. Beliau adalah, Ibuku. Perempuan tangguh dan cantik, serta tidak pernah mengeluh dalam keadaan apa pun. Ia selalu memberikan yang terbaik untukku.
Hits: 103Mhd Abdul Fattah Pagi yang berat kurasa untuk membuka mata. Terasa seperti mengangkat beban yang lebih dari 30 kilogram.…
Hits: 34
Mereka memang bukan pemeran utama dalam banyak kejadian, apalagi hal-hal yang menyangkut hidupku. Tapi bagiku, mereka menarik, begitu realistis.
Aku bisa melihat dan mendengar hal-hal yang tidak bisa dilakukan manusia lainnya, hanya manusia sepertiku yang bisa. Aku kadang kesal, suara-suara itu memenuhi isi otakku, kadang juga bisa mengintruksi gerakku. Sejak SD, aku sudah sering dirundung. Karena aku yang gemuk dan memiliki rambut yang ikal. Padahal kata Bunda, aku cantik dengan itu semua. Jadi, aku harus menutup telinga dari ejekan mereka.
