Hits: 4
Athayollah Nailah Zahwa Nasution
Pijar, Medan. Lagi-lagi tentang kebiasaan manusia yang terlalu sibuk menjaga perasaan orang lain. Mengiyakan permintaan meski sedang tidak mampu, mengalah meski sebenarnya keberatan, hingga memilih diam karena takut dianggap tidak baik. Hal-hal tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi jika terus dilakukan, seseorang bisa lupa bahwa dirinya juga memiliki batas.
Persoalan tersebut diangkat Jeong Moon Jeong dalam buku Tak Mungkin Membuat Semua Orang Senang. Buku yang diterjemahkan oleh Lingliana dan diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama pada 2019 ini membahas cara menghadapi orang-orang kasar, manipulatif, serta berbagai situasi yang membuat seseorang sulit mempertahankan batas dirinya.
Melalui 206 halaman, pembaca diajak melihat bahwa keinginan untuk selalu menyenangkan orang lain tidak selalu menghasilkan hubungan yang sehat. Seseorang dapat terus membantu, mengalah, dan menerima permintaan orang lain hanya karena takut mengecewakan atau dianggap sebagai orang yang tidak baik.
Permasalahan tersebut kemudian dibawa penulis pada persoalan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, sulit mengatakan “tidak”. Keinginan untuk tetap dianggap baik terkadang membuat seseorang mengabaikan keinginan dan kemampuan dirinya sendiri. Pada akhirnya, kebaikan yang dilakukan bukan lagi karena benar-benar ingin membantu, melainkan karena takut mendapatkan penilaian buruk.
“Jika ingin dianggap orang baik namun tetap bisa menolak permintaan bantuan dengan baik, itu artinya kita serakah. Sebaiknya kita memilih salah satu di antara kedua hal itu” – halaman 109.
Kutipan tersebut menunjukkan bahwa menjadi orang baik tidak harus selalu berarti bersedia memenuhi semua permintaan. Ada batas antara membantu dengan tulus dan memaksakan diri agar tetap disukai. Ketika seseorang terlalu sibuk mempertahankan citra sebagai orang baik, dirinya sendiri justru dapat menjadi pihak yang paling dirugikan.
Buku ini juga memberikan beberapa cara untuk menghadapi persoalan tersebut. Penulis mengajak pembaca untuk tidak terus bersikap pasrah ketika diperlakukan tidak adil, berani mengungkapkan isi hati serta tidak mudah terpengaruh oleh komentar negatif dari orang lain.
Tidak hanya itu, pembaca juga diajak menghadapi orang kasar dengan tetap tenang. Ketegasan tidak harus disampaikan dengan kemarahan. Seseorang tetap dapat mengatakan apa yang tidak disukai, menolak permintaan, dan mempertahankan batas diri tanpa harus membalas perilaku buruk dengan perilaku yang sama.
Pembahasan tersebut terasa dekat dengan mereka yang terbiasa menjadi people pleaser. Ada rasa takut ketika harus menolak karena khawatir orang lain kecewa, marah, atau bahkan menjauh. Padahal, menjaga hubungan dengan orang lain tidak seharusnya membuat seseorang terus mengorbankan kenyamanan dan kebutuhannya sendiri.
Pada akhirnya, Tak Mungkin Membuat Semua Orang Senang bukan mengajarkan pembaca untuk berhenti peduli kepada orang lain. Buku ini justru mengingatkan bahwa kepedulian juga perlu diberikan kepada diri sendiri. Tidak semua permintaan harus diterima dan tidak semua komentar harus dimasukkan ke dalam hati. Sebab, menjadi baik tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan dirinya sendiri.
(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

