Hits: 1
Shefira Riani Manany
Pijar, Medan. Oukup masih menjadi salah satu praktik perawatan tubuh yang dapat ditemui di Medan, khususnya di kawasan yang banyak dihuni masyarakat Karo. Tradisi mandi uap menggunakan rebusan berbagai jenis tumbuhan ini awalnya dikenal sebagai bagian dari perawatan ibu setelah melahirkan.
Seiring waktu, penggunaan Oukup mengalami perubahan. Jika dahulu lebih berkaitan dengan pemulihan tubuh perempuan setelah persalinan, kini Oukup juga digunakan masyarakat untuk relaksasi dan menjaga kebugaran. Perubahan fungsi tersebut membuat Oukup tidak hanya bertahan sebagai tradisi, tetapi juga berkembang menjadi usaha jasa yang dapat ditemukan di sejumlah tempat di Medan.
Oukup sendiri tidak hanya mengandalkan panas seperti sauna pada umumnya. Hal yang menjadi ciri khasnya adalah penggunaan berbagai tanaman sebagai bahan rebusan.
Salah satu tumbuhan yang banyak digunakan adalah jahe (Zingiber Officinale). Selain jahe, masyarakat Karo menggunakan berbagai tanaman lain yang secara turun-temurun dipercaya memiliki manfaat dalam proses pemulihan tubuh. Pengetahuan mengenai jenis tanaman dan cara penggunaannya menjadi bagian penting dari praktik Oukup.
Dalam penelitian Batubara (2017) “Nilai Guna Spesies Tumbuhan dalam Oukup (Mandi Uap) Masyarakat Batak Karo”, ditemukan 69 jenis tumbuhan yang digunakan dalam Oukup, dengan bagian yang dimanfaatkan mulai dari rimpang, daun, akar, batang, kulit batang, buah, biji hingga bunga. Beberapa di antaranya adalah jahe, lada, jeruk purut, kunyit, serai, dan sirih.
Pengetahuan mengenai penggunaan tumbuhan tersebut merupakan bagian dari pengobatan tradisional masyarakat Karo, meskipun manfaat yang dipercaya masyarakat tidak dapat langsung disamakan dengan khasiat yang telah terbukti secara klinis.
Proses pembuatannya dimulai dari tanaman. Tanaman-tanaman tersebut direbus hingga menghasilkan uap. Uap kemudian digunakan dalam ruang tertutup sehingga tubuh mengeluarkan keringat. Penggunaan tumbuhan dalam Oukup mencatat suhu uap dapat berada pada kisaran 60–80 derajat Celsius, dengan durasi sekitar 15–30 menit.
Perkembangan Oukup juga terlihat dari cara bahan-bahannya diperoleh. Pengetahuan yang sebelumnya banyak diturunkan dalam lingkungan keluarga, kini turut berkembang menjadi aktivitas ekonomi. Ramuan Oukup bahkan telah tersedia dalam bentuk paket yang dapat dibeli, sehingga masyarakat tidak harus mengumpulkan sendiri seluruh tanaman yang dibutuhkan.
Bagi masyarakat Karo, Oukup tidak hanya berkaitan dengan perawatan tubuh. Praktik ini juga menjadi bagian dari pengetahuan tradisional mengenai pemanfaatan tumbuhan. Dalam perawatan ibu setelah melahirkan, Oukup digunakan bersama sejumlah praktik tradisional lainnya seperti kuning las, tawar, minyak urut, dan sembur.
Namun, penggunaan Oukup tetap perlu memperhatikan kondisi tubuh. Paparan suhu panas dalam waktu tertentu dapat menimbulkan risiko bagi orang dengan kondisi kesehatan tertentu. Karena itu, penggunaan Oukup tidak dapat disamakan untuk setiap orang, terutama bagi mereka yang memiliki masalah pernapasan atau kondisi lain yang sensitif terhadap panas.
Bertahannya Oukup di tengah perkembangan kota menunjukkan bahwa tradisi tidak selalu harus dilakukan dengan cara yang sama agar tetap hidup. Oukup kini hadir dalam bentuk yang lebih mudah ditemui dan digunakan masyarakat umum, tetapi masih membawa pengetahuan masyarakat Karo tentang tumbuhan dan perawatan tubuh. Di Medan, Oukup menjadi salah satu contoh bagaimana tradisi lokal terus beradaptasi dengan kehidupan masyarakat saat ini.
(Redaktur Tulisan: Dwi Garini Oktavianti)

