Hits: 2
Rifki Partogi Situmorang
Pijar, Medan. Di tengah bisingnya jalanan kota dan tumpukan tenggat waktu yang seperti tidak ada habisnya, pernahkah dirimu bertanya tentang ke mana biasanya kita pergi saat cuma ingin melarikan diri sejenak?
Bagi banyak orang, rutinitas harian sering kali cuma berputar di dua tempat. Rumah menjadi ruang untuk beristirahat (first place), sementara kantor atau ruang kelas menjadi tempat produktivitas ditagih (second place).
Masalahnya, terus-menerus bergerak di antara dua titik ini tanpa jeda perlahan membuat pikiran jenuh dan melelahkan emosi. Manusia bukan mesin yang bisa dinyalakan dan dimatikan lewat satu tombol. Manusia juga butuh ruang jeda untuk memproses emosi, mengendapkan isi kepala, dan mengisi ulang energi. Di antara itulah ruang ketiga atau third place berperan.
Mengutip dari Ray Oldenburg dalam bukunya, berjudul The Great Good Place (1989), Third Place adalah lingkungan sosial di luar rumah dan tempat kerja yang berfungsi sebagai ruang publik untuk beristirahat, berinteraksi, serta membangun rasa komunitas. Bentuknya bisa bermacam-macam. Ada yang menemukannya di warung kopi langganan ujung gang, taman kota tempat duduk-duduk sore, perpustakaan yang tenang, hingga tempat olahraga lokal.
Kunci dalam menemukan Third Place itu sederhana, yaitu ketika suatu tempat dirasakan netral, ramah, dan tidak menuntut apa-apa dari kita. Tidak ada atribut posisi pekerjaan, tuntutan target bulanan, atau tekanan status sosial di sana. Siapa saja berhak hadir dan menjadi dirinya sendiri.
Menariknya, pemaknaan Third Place ini sifatnya sangat relatif, terutama bagi anak kuliahan atau mahasiswa. Bagi mereka, kamar kos sering kali sudah campur aduk fungsinya, contohnya dapat dijadikan sebagai tempat tidur, tempat makan, sekaligus meja belajar.
Sementara itu, lingkungan kampus sendiri kerap penuh dengan bayang-bayang tugas, ujian, dan beban akademis. Akibatnya, batas antara tempat bekerja dan tempat bersantai jadi sangat kabur. Mahasiswa kerap terjebak dalam kondisi kelelahan fisik (burnout), tanpa menyadari bahwa mereka kekurangan ruang untuk benar-benar lepas dari tuntutan.
Contoh konteksnya, seperti di kedai kopi. Bagi mahasiswa, kedai kopi atau kafe bisa berubah fungsi dalam hitungan detik. Saat laptop terbuka dan jemari sibuk mengetik skripsi, kafe adalah tempat kerja atau disebut second place.
Di lain sisi, begitu laptop ditutup dan cangkir kopi diangkat, tempat yang sama langsung berubah menjadi third place, sebagai tempat tertawa lepas bersama teman. Bahkan, sudut kantin yang ramai, bangku di bawah pohon rindang, atau pelataran parkir kampus juga bisa mendadak jadi ruang ketiga yang tepat, asalkan di sana mereka bisa sejenak melupakan beban kuliah dan merasa diterima apa adanya.
Kehadiran Third Place ini bukan sekadar gaya hidup atau tren estetika di media sosial, melainkan kebutuhan mendasar manusia sebagai makhluk sosial. Di sana, interaksi spontan dan percakapan ringan dengan sesama pengunjung sering kali menjadi penawar rasa sepi yang kerap melanda warga kota.
Third Place tidak peduli dengan lokasi fisik yang megah atau mahal, melainkan rasa nyaman untuk menjadi diri sendiri tanpa perlu berpura-pura sibuk. Di tengah ritme hidup modern yang serba cepat dan menguras energi, memiliki satu tempat pelarian kecil adalah investasi sederhana nan krusial untuk menjaga kesehatan mental kita.
(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

