Hits: 20

Kiki Nabila Tusu

Pagi itu, langit tampak cerah. Angin berembus pelan, jalanan kota masih terlihat asri, belum dipenuhi debu maupun asap kendaraan. Bukan karena kota ini tidak pernah macet, tetapi karena aku selalu berangkat lebih pagi dari seharusnya. Aku tidak suka kemacetan, debu yang beterbangan, dan suara klakson yang terus bersahutan di telinga. Karena itu, aku memilih berangkat lebih awal untuk menghindari semua itu.

Seperti biasa, sebelum masuk kampus, aku menghubungi pria itu. Siapa lagi kalau bukan Rafka, sahabat sejak kecil yang selalu ingin ikut ke mana pun aku pergi.

“Raf, kamu di mana?” tanyaku.

“Di rumah dong, masa di belakangmu?” jawabnya dengan nada jahil.

“Serius, deh. Jam segini nggak mungkin masih di rumah. Aku sudah di kampus, cepat ke sini!” balasku kesal.

“Hahaha, kamu pasti belum buka grup mata kuliah, kan?”

Aku terdiam sejenak. Entah kenapa, tiba-tiba muncul firasat kalau kelas hari ini dibatalkan. Kalau benar begitu, sia-sialah waktuku datang pagi-pagi ke kampus.

Dan benar saja, kelas diundur sampai minggu depan.

“Raf, aku nggak suka ini. Aku sudah sampai kampus,” ucapku penuh kekesalan.

“Ya sudah, tunggu aku di kafé biasa. Aku segera ke sana.”

“Baik,” jawabku singkat.

***

Tininggggg!!

Bel pintu kafé berbunyi pelan. Aku menoleh ke arah pintu, berharap pria yang masuk itu adalah Rafka. Aku sudah sangat bosan duduk sendirian di kafé ini. Saat memperhatikan sosok yang baru datang, benar saja, itu Rafka. Aku ingin memanggilnya, tetapi tanpa sepatah kata pun ia sudah tahu bahwa aku menunggunya di meja nomor dua.

“Hai!” sapanya dengan nada yang terdengar aneh.

“Hmm,” jawabku singkat, seolah tidak peduli.

“Ze, aku ada kabar baik.”

“Apa? Pasti nggak penting,” balasku meremehkan.

“Aku nggak tahu ini kabar baik atau bukan buatmu.”

“Kabar baik buatmu biasanya jadi kabar buruk buatku, begitu juga sebaliknya,” jawabku ketus seperti biasa.

Rafka tampak ragu. Ia beberapa kali membuka ponselnya lalu menatapku, seakan kabar yang akan disampaikannya bisa melukaiku.

“A-aku… aku akan pindah ke Bandung lusa.”

Aku terdiam. Jemariku yang sejak tadi sibuk mengetik di keyboard laptop perlahan berhenti. Aku menatapnya dengan ekspresi bingung.

“Ah, yang benar saja, Raf. Buat apa pindah ke sana? Om dan tante juga kerja di sini,” ucapku, mencoba terdengar santai.

“Aku serius, Ze. Maaf karena baru memberi tahu sekarang, tetapi papa dan mama juga akan pindah,” jawabnya dengan wajah gelisah.

“Pengecut.”

Hanya satu kata itu yang mampu keluar dari mulutku. Aku segera membereskan laptop dan barang-barangku, lalu bergegas keluar dari kafé. Rafka tampak mencoba mengejarku, tetapi aku berlari sekuat tenaga dan segera menghentikan taksi agar bisa menjauh darinya.

Siang itu, dadaku terasa sesak. Seharusnya aku merasa senang mendengar kabar itu, mengingat selama ini aku sering kesal karena Rafka selalu mengikutiku ke mana pun aku pergi.

***

Malam itu, aku termenung di dekat jendela kamar. Air mataku perlahan jatuh tanpa bisa kutahan. Sejak pulang tadi, aku tidak keluar kamar, bahkan tidak menyentuh makanan sedikit pun. Rafka, sosok yang selalu menemaniku sejak kecil, kini memilih pergi meninggalkanku.

Tiba-tiba Mama mengetuk pintu kamar dan memaksaku keluar. Awalnya aku menolak, tetapi pada akhirnya aku tetap tidak bisa membantah.

Aku melangkah keluar dan menemui tamu itu. Tidak lain dan tidak bukan, pria pengecut yang memilih pergi dan mengingkari janjinya untuk tetap ada di sampingku. Dulu, aku dan Rafka pernah berjanji akan selalu tinggal di kota yang sama. Namun hari ini, ia memilih untuk melupakan janji itu.

“Aku akan pergi lusa. Maaf karena tidak bisa menepati janjiku. Maaf juga karena nanti aku tidak bisa lagi mendengar cerita-cerita buruk tentang mantanmu. Aku juga nggak bisa lama malam ini, aku harus menemui Zara.”

Zara adalah pacar baru Rafka yang baru ia tembak dua bulan lalu.

“Aku benci dibohongi, dan kamu paling tahu soal itu,” ucapku dingin.

“Maaf, Zeya. Aku pernah janji untuk tetap ada di sini, tapi…”

“Tapi kamu nggak jauh berbeda dari semua pria yang pernah aku temui,” sambungku dengan nada lebih tajam.

“Maaf. Aku harap kamu tetap mau berbagi cerita denganku, dan semoga nanti kamu bisa menemukan pria yang benar-benar membahagiakanmu, ya?”

Aku tersenyum kecil sambil menatapnya. Air mata yang sejak tadi kutahan hampir jatuh seluruhnya.

“Coba ulangi? Menemukan pria yang tepat?” aku tertawa pelan. “Bahkan sahabatku sendiri memilih pergi meninggalkanku, lalu kamu berharap aku masih bisa percaya pada pria lain?”

“Aku ini sahabatmu, Ze. Pria yang nanti jadi pasanganmu pasti berbeda denganku,” ucapnya, mencoba menenangkanku.

“Pergilah, dan jangan pernah kembali lagi. Aku nggak butuh pengecut.”

“Ze, maafin aku. Aku memang harus pergi sekarang, aku juga sudah janji ketemu Zara. Besok aku mau menghabiskan waktu dengannya sebelum pindah ke Bandung.”

Ia terdiam sejenak sebelum kembali berbicara.

“Aku harap… kamu mau menemuiku sekali lagi. Meski untuk yang terakhir kalinya, setidaknya sebelum aku berangkat.”

Tanpa mengatakan apa pun, aku segera meninggalkannya. Rasanya, mendengar suara Rafka lebih lama lagi hanya akan membuat luka di dadaku semakin dalam.

***

Hari keberangkatan Rafka akhirnya tiba.

Pagi itu aku terbangun tanpa tenaga sedikit pun. Tanganku gemetar, tubuhku terasa lemas, bahkan untuk sekadar bangkit dari tempat tidur pun rasanya sulit. Aku menatap langit-langit kamar cukup lama sebelum akhirnya memejamkan mata kembali, berharap seluruh rasa sesak ini perlahan menghilang.

Beberapa menit kemudian, aku memberanikan diri melihat ke luar jendela. Di sana, pria yang kini terasa begitu asing itu tampak sibuk menyusun barang-barangnya bersama keluarga. Rafka sesekali menoleh ke arah rumahku, seolah berharap aku akan keluar menemuinya.

Namun aku memilih diam. Aku tidak keluar kamar, bahkan ketika Mama mengatakan bahwa Rafka menungguku hampir setengah jam di depan pintu.

Dan pada akhirnya, aku memilih untuk tidak pernah menemuinya lagi setelah malam itu. Aku membiarkannya benar-benar pergi bersama mobil tersebut.

Beberapa minggu kemudian, aku mendengar kabar bahwa Rafka sudah menetap di Bandung bersama keluarganya. Sesekali aku melihat unggahan Instagramnya yang tampak ramai dan penuh tawa. Rafka terlihat bahagia di sana bahkan tanpa diriku.

Perlahan aku membuka ponsel dan kembali menatap ruang obrolan kami.

Tidak ada lagi pesan darinya, atau sekadar telpon tidak penting. Tidak ada sapaan jahil yang biasanya menggangguku setiap pagi.

“Raf… aku…,” gumamku lirih.

Tangisku pecah sekeras mungkin. Kamar itu dipenuhi suara tangisan yang selama ini terus kutahan sendirian.

Ting!

Suara notifikasi pesan membuatku tersentak.

Dan itu dari Rafka.

“Aku benar-benar pergi ya, Ze. Di sini aku baik-baik saja kok. Terima kasih karena sudah jadi rumah paling nyaman selama dua puluh tahun ini. Aku benar-benar menyayangimu sebagai sahabat terbaikku.”

Aku tersenyum kecil membaca pesan itu, meski air mataku terus jatuh tanpa henti.

“Ya…bahkan sampai sekarang kamu masih melihatku sebagai sahabat terbaikmu, sementara aku memandangmu lebih dari itu,” ucapku lirih.

Saat itu aku perlahan menyadari, bahwa di antara semua hal yang hilang, penyesalan terbesar dalam hidupku adalah aku tidak pernah sempat mengatakan bahwa sebenarnya aku takut kehilangannya.

Bahwa ditinggalkan sendirian seperti ini terasa sangat tidak adil bagiku. Bahwa aku sangat membutuhkannya. Bahwa aku menyayanginya lebih dari diriku sendiri. Dan bahwa memendam perasaan ini selama bertahun-tahun seperti membunuhku perlahan.

Karena pada akhirnya, melihat Rafka bersama perempuan lain tidak lebih menyakitkan dari ini. Ternyata, yang paling menyakitkan adalah benar-benar kehilangan dirinya sepenuhnya.

Leave a comment