Hits: 4
Trisha Permata Lidwina Lumbangaol
Pijar, Medan. Setiap tanggal 3 Mei, dunia memperingati Hari Surya Sedunia atau World Solar Day, sebagai sebuah pengingat yang mengajak setiap orang untuk menaruh perhatian lebih pada energi matahari sebagai sumber energi terbarukan yang berkelanjutan. Peringatan ini semakin terasa relevan di tengah perubahan iklim yang dampaknya semakin terasa nyata. Dalam situasi ini, energi surya dapat menjadi solusi dalam mengurangi emisi karbon.
Hari Surya Sedunia, berakar dari gerakan Sun Day yang pertama kali diadakan di Amerika Serikat pada 3 Mei 1978, setelah dunia menghadapi krisis energi pada 1970-an. Sejak itu, tanggal 3 Mei dikenal sebagai momen untuk menggalakkan kampanye pemanfaatan energi surya secara global.
Saat ini, tantangan yang dihadapi dunia semakin serius. Dilansir dari laman wmo.int, World Meteorological Organization (WMO) menandakan bahwa tahun 2024 tercatat sebagai tahun terpanas sepanjang sejarah, dengan tingkat gas rumah kaca mencapai rekor tertinggi dalam meningkatkan risiko banjir, kekeringan, dan gelombang panas.
Di tengah kondisi tersebut, energi surya menjadi alternatif yang penting. Dilansir dari laman iea.org, International Energy Agency (IEA) melalui laporan Renewables 2025, menyatakan bahwa tenaga surya menjadi kontributor terbesar pertumbuhan energi terbarukan global. IEA menyebutkan, “Solar PV is expected to account for around 80% of the growth in global renewable capacity between 2024 and 2030.” Artinya, sekitar 80% pertumbuhan energi terbarukan dalam periode tersebut akan berasal dari matahari.
Pemanfaatan energi surya juga mulai terlihat dalam skala nasional. Dilansir dari tempo.co, Wakil Presiden Pengelolaan Penjualan PT PLN (Persero), Yondri Zulfaldi, menilai bahwa pengembangan energi surya menunjukkan kolaborasi berbagai pihak dalam transisi energi.
“Sebagaimana kita ketahui sektor industri merupakan salah satu pengguna energi terbesar, sehingga transformasi menuju energi bersih di sektor ini memiliki dampak yang sangat signifikan terhadap penurunan emisi karbon dan peningkatan efisiensi energi,” ujarnya.
Di Indonesia, implementasi ini turut diperkuat dengan peresmian Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap yang terbesar di Cikarang. Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri Kementerian Perindustrian, Emmy Suryandari, menyebutkan bahwa PLTS menjadi komitmen penting untuk penanganan perubahan iklim di Indonesia.
“PLTS Atap merupakan bagian komitmen penanganan perubahan iklim di Indonesia dengan target NZE (Net Zero Emissions) 2060, bahkan sektor industri diharapkan mencapainya lebih cepat pada 2050.”
Bagi Indonesia, peluang ini sangat besar. Sebagai negara tropis, Indonesia merasakan sinar matahari sepanjang tahun. Berdasarkan informasi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), potensi energi surya di Indonesia mencapai ribuan gigawatt, jauh melampaui kapasitas pembangkit yang saat ini sudah dimanfaatkan.
(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

