Hits: 40
Kiki Nabila Tusu
Pijar, Medan. Di tengah pesatnya perkembangan tren dalam dunia olahraga, Padel menjadi salah satu cabang yang sedang naik daun. Olahraga ini tergolong banyak dimainkan karena memadukan unsur permainan Tenis dan Squash, sehingga tidak sulit untuk dipelajari.
Meski begitu, di balik kemudahan cara bermain, Padel juga dikenal sebagai olahraga yang cukup mewah atau fancy. Tidak hanya dari segi permainan, tetapi juga dari biaya yang harus dikeluarkan untuk perlengkapan dan sewa lapangan yang relatif tinggi. Selain itu, biaya perlengkapan seperti raket Padel juga memakan biaya yang tidak sedikit.
Walaupun tergolong mahal, popularitas olahraga Padel tetap tinggi. Banyak orang tetap tertarik untuk mencobanya karena dianggap sebagai olahraga yang sedang tren. Fenomena ini turut membangun persepsi mengenai olahraga ini, sehingga sering diasosiasikan dengan gaya hidup kelas atas. Tidak jarang, orang yang bermain Padel dianggap memiliki status sosial yang lebih tinggi.
Hal ini menunjukkan bahwa Padel tidak hanya sekadar olahraga, tetapi juga telah berkembang menjadi bagian dari gaya hidup. Citra “fancy” yang melekat pada Padel menjadi salah satu alasan kuat mengapa olahraga ini semakin populer. Gaya hidup yang ditawarkan menjadikan Padel sebagai tren, tidak hanya dari sisi kesehatan, tetapi juga sebagai simbol sosial di kalangan masyarakat.
Di Indonesia sendiri, perkembangan Padel tidak terjadi secara instan, melainkan melalui proses yang cukup panjang. Melansir dari saluran YouTube @room_49, Padel mulai berkembang pesat sejak pandemi Covid-19 melanda dunia. Pada masa itu, kesehatan menjadi kebutuhan utama masyarakat, sehingga minat terhadap olahraga meningkat.
Sebelumnya olahraga serupa, seperti Tenis dan Badminton menjadi pilihan utama. Namun, tingkat kesulitan dalam teknik dan aturan permainan membuat sebagian masyarakat merasa kurang tertarik. Di sisi lain, Padel hadir sebagai alternatif yang lebih mudah dimainkan, dengan bola yang lebih ringan, ukuran lapangan yang tidak terlalu besar, serta aturan yang relatif sederhana, sehingga Padel menjadi lebih ramah bagi pemula.
Berdasarkan data Federasi Internasional Padel (FIP) per Mei 2024, Indonesia menempati posisi teratas di Asia Tenggara, peringkat keenam di Asia, dan ke-29 di dunia. Peringkat tersebut didasarkan pada jumlah lapangan padel aktif yang telah terdaftar.
Lapangan padel di Indonesia sendiri masih didominasi di kota-kota besar, khususnya Bali dan Jakarta. Dari data tersebut, Indonesia bahkan menyumbang sekitar 51% dari total lapangan padel di kawasan Asia Tenggara.
Dari sisi kesehatannya, olahraga Padel melibatkan seluruh tubuh melalui perpaduan aktivitas fisik, seperti berlari, melompat, dan memukul bola yang mampu meningkatkan kesehatan jantung, serta fokus dan koordinasi mata dan tangan. Selain manfaat fisik, Padel juga berdampak positif pada kesehatan mental. Aktivitas permainan yang melibatkan kerja sama tim serta memiliki target kemenangan, mampu melatih fokus sekaligus membantu mengurangi stres.
Padel bukan sekadar bagian dari fenomena Fear of Missing Out (FOMO), melainkan memiliki berbagai aspek yang membuatnya menarik dan mudah dimainkan. Selain itu, Padel juga memberikan manfaat bagi para pemainnya, mulai dari kesehatan, atau bahkan kebutuhan estetika yang sejalan dengan harganya yang tidak murah. Jadi, apakah kamu sudah pernah mencoba olahraga tren yang satu ini?
(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

