Hits: 57
Tasya Hapsari
Pijar, Medan. Akhir-akhir ini, pemandangan mahasiswa membawa tumbler di lingkungan kampus sudah sangat biasa. Baik di ruang kelas, perpustakaan, hingga kafe di sekitar kampus. Tumbler atau botol minum pribadi seolah menjadi bagian dari “identitas” mahasiswa modern. Namun, muncul pertanyaan yang menarik di balik kebiasaan ini. Apakah penggunaan tumbler benar-benar mencerminkan kesadaran lingkungan atau sekadar mengikuti tren gaya hidup?
Fenomena ini tidak muncul begitu saja. Dalam beberapa tahun terakhir, isu lingkungan semakin sering dibicarakan, terutama terkait penggunaan plastik sekali pakai. Mahasiswa sebagai kelompok yang cukup dekat dengan arus informasi global mulai terpapar kampanye pengurangan sampah plastik. Salah satu langkah sederhana yang bisa dilakukan adalah membawa tumbler sendiri.
Dari sisi yang positif, kebiasaan ini patut diapresiasi. Dengan menggunakan tumbler, mahasiswa dapat mengurangi konsumsi botol plastik sekali pakai yang selama ini menjadi salah satu penyumbang besar limbah. Di banyak kafe, mahasiswa bahkan mulai meminta minuman mereka langsung dituangkan ke dalam tumbler. Selain lebih ramah lingkungan, kebiasaan ini juga dinilai lebih hemat karena tidak perlu terus-menerus membeli air minum kemasan.
Hal ini dirasakan oleh Aqilah Putri Khairunnisa, mahasiswa Program Studi Sastra Inggris Universitas Sumatera Utara, mengaku menggunakan tumbler dalam kesehariannya bukan semata-mata karena tren, tetapi juga untuk mengurangi limbah plastik.
“Aku pakai tumbler atau botol minum hampir setiap hari kalau ke kampus. Alasan utamanya mungkin karena lebih hemat, terus juga untuk mengurangi penggunaan sampah plastik,” ujarnya.
Jika kebiasaan kecil ini dilakukan secara konsisten, hal ini dapat menjadi langkah awal menuju gaya hidup berkelanjutan. Namun, di balik sisi positif tersebut, fenomena ini juga tidak lepas dari pengaruh tren. Media sosial memiliki peran besar dalam membentuk persepsi mahasiswa terhadap tumbler. Berbagai desain yang estetik, warna menarik, hingga merek yang sedang viral menjadikan tumbler tidak hanya sebagai wadah minuman, tetapi juga sebagai aksesori.
Akibatnya, muncul kecenderungan konsumtif. Beberapa mahasiswa membeli lebih dari satu tumbler hanya untuk mengikuti tren atau mengoleksi model tertentu. Dalam kondisi ini, tujuan awal untuk mengurangi konsumsi justru berpotensi berbalik arah. Meski demikian, Aqilah melihat fenomena ini dari dua sisi.
“Menurut aku, penggunaan tumbler di kalangan mahasiswa saat ini sebagian dipengaruhi oleh tren, dan sebagian lainnya oleh kesadaran akan pentingnya mengurangi polusi plastik. Walaupun begitu, tetap berdampak positif juga bagi lingkungan. Aku sendiri jarang beli lebih dari satu tumbler atau botol minum, kecuali kalau memang ada manfaat atau keunggulan tertentu,” ungkapnya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa penggunaan tumbler di kalangan mahasiswa masih berada di antara tren dan kesadaran lingkungan. Di satu sisi, tren mampu mendorong perubahan perilaku ke arah yang lebih positif. Namun di sisi lain, tanpa kesadaran yang mendalam, tren tersebut berpotensi melahirkan pola konsumsi baru.
Pada akhirnya, yang menjadi pembeda adalah niat dan konsistensi. Jika tumbler digunakan sebagai bagian dari upaya nyata untuk mengurangi sampah plastik, maka kebiasaan ini mencerminkan kesadaran lingkungan. Namun, jika hanya sekadar mengikuti tren tanpa penggunaan yang berkelanjutan, maka maknanya menjadi berbeda.
Tumbler, bukan sekadar soal benda yang dibawa, melainkan bagaimana seseorang memaknai dan menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.
(Redaktur Tulisan: Yudika Phareta Simorangkir)

