Hits: 36
Lely Eunike Annetta Siregar
Pijar, Medan. Pada 18 Maret 2026, Indonesia memperingati Hari Arsitektur Indonesia sebagai momen untuk mengapresiasi peran arsitektur dalam membentuk ruang hidup dan lingkungan masyarakat. Isu ini juga relevan di lingkungan kampus, karena berkaitan dengan desain bangunan, ruang terbuka, hingga fasilitas yang digunakan mahasiswa untuk belajar dan beraktivitas. Hal tersebut dapat berpengaruh terhadap kenyamanan dan produktivitas mahasiswa.
Nashwa Azzahra Permana, mahasiswa Program Studi (Prodi) Arsitektur USU, menilai bahwa peringatan ini bukan hanya sekadar perayaan profesi, tetapi juga momen refleksi terhadap identitas arsitektur di Indonesia. Menurutnya, arsitektur Indonesia memiliki keunikan yang beragam karena Indonesia dipengaruhi oleh iklim tropis dan kekayaan budaya yang beragam.
“Kita menciptakan atau merancang ruang yang memanusiakan orang Indonesia dan ramah terhadap alam kita sendiri. Ini adalah hari untuk merayakan solusi lokal bagi masalah global,” ungkapnya.
Nashwa juga menilai, bahwa lingkungan USU mempunyai potensi besar dengan karakter bangunan bergaya tropis dengan atap tinggi. Selain itu, keberadaan pohon yang besar di area kampus menjadi aset mahal, yaitu sebagai “air conditioner alami” yang mampu menciptakan suasana lebih sejuk dibandingkan pusat Kota Medan.
Selain itu, Nashwa menyoroti konektivitas antargedung yang kurang optimal. Ia juga menambahkan bahwa beberapa gedung lama butuh revitalisasi agar lebih inklusif, seperti penyediaan jalan bidang miring (ramp) bagi disabilitas. Nashwa menilai, kebermanfaatan ruang terbuka kampus sudah diterima dengan baik oleh mahasiswa, tetapi fasilitas pendukungnya masih terbatas. Menurutnya, diperlukan bangku taman, stopkontak yang berfungsi, dan jaringan Wi-Fi agar ruang terbuka menjadi tempat yang lebih produktif.
Sementara itu, mahasiswa Prodi Ilmu Komputer USU, Najla Az Zahra Tanjung, berpendapat fasilitas kampus sudah cukup nyaman, tetapi masih perlu perbaikan.
“Beberapa fasilitas yang perlu diperhatikan untuk diperbaiki adalah ruang-ruang kelas, beserta dengan bangku atau kursi belajar mahasiswa di beberapa fakultas yang masih kurang memadai,” ujarnya.
Dari sudut pandang arsitektur, Nashwa menyebutkan tiga komponen penting dalam merancang ruang kampus, yaitu pencahayaan dan kenyamanan termal (suhu), fleksibilitas ruang, dan konsep desain biofilik yang menghadirkan elemen alam, seperti tanaman hijau untuk mengurangi stress.
Nashwa juga mengusulkan area kantin atau selasar di Departemen Arsitektur menjadi pusat aktivitas (communal hub) semi terbuka yang dapat digunakan oleh mahasiswa dan dosen dalam berinteraksi.
Sebagai penutup, Nashwa berharap agar mahasiswa mulai lebih peduli terhadap lingkungan kampus.
“Jadi, jangan ragu untuk mengkritik jika sebuah ruang terasa tidak nyaman atau tidak aman. Kita membentuk bangunan kita, dan setelah itu bangunanlah yang membentuk kita,” tegasnya.
(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

