Hits: 140

Hanina Afifah

Pijar, Medan. Apa rasanya terlibat langsung dalam dinamika kerja organisasi internasional dan ikut mengambil peran di dalamnya? Dahulu, Satia Ras atau yang akrab disapa Iyaz, mengaku hal itu tak pernah terlintas di bayangnya. Hingga akhirnya, kesungguhan dalam menggapai tujuan membawanya masuk ke dalam jaringan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), tepatnya pada badan khusus Food and Agriculture Organization (FAO).

Sejak awal, alumni Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara (USU) stambuk 2014 ini memiliki tekad yang kuat untuk terus melanjutkan pendidikannya. Bagi Iyaz, apa pun yang sudah dimulai harus dijalani dengan sungguh-sungguh. Selain itu, ia memahami bahwa tidak pernah ada kata berhenti untuk belajar. Prinsip itulah yang mendorongnya untuk membuka diri pada pengalaman lintas batas.

Ia pun menjalani studi lanjutan di tiga negara Eropa Selatan, yakni Italia, Portugal, dan Spanyol. Kawasan ini dikenal memiliki perhatian besar pada isu kehutanan, restorasi ekosistem, dan kebijakan lingkungan Mediterania. Langkah tersebut membawanya terhubung dengan FAO, badan PBB yang bergerak di bidang pangan dan pertanian.

Sejak bergabung dengan FAO pada 2024, Iyaz memulai keterlibatannya di Departemen Kehutanan. Ia menjalankan peran koordinatif, mulai dari pengelolaan sekretariat, komunikasi strategis, hingga memfasilitasi dialog lintas negara di kawasan Mediterania.

Menelusuri Sepak Terjang Satia Ras, Alumni Kehutanan USU yang Berkiprah di FAO PBB - www.mediapijar.com
Unggahan perkenalan Satia Ras sebagai Koordinator Komunikasi Mediterranean Youth Task Force 2024.
(Sumber Foto: Instagram @medyouthtf)

 

Dari keterlibatan tersebut, Iyaz turut berkontribusi dalam proses riset kehutanan yang kemudian melahirkan publikasi internasional. Pada 2025, ia terlibat sebagai co-author dalam publikasi “The Status of Mediterranean Forests 2025”. Bagi Iyaz, riset tidak selalu berbicara tentang keberhasilan. Ia meyakini bahwa penelitian yang baik justru memberi ruang yang sama bagi keberhasilan maupun kegagalan.

Alih-alih bertahan di satu bidang yang sama, Iyaz menjajal berbagai peluang dan memperluas jejaring. Seiring berjalannya waktu, pengalamannya di sektor kehutanan membawanya berpindah ke Departemen Ekonomi FAO. Ia mulai terlibat dalam proses kerja di belakang layar, yakni sebagai analis kebijakan. Ia mengolah riset berbasis data sebagai dasar penyusunan rekomendasi kebijakan.

Iyaz juga berperan sebagai koordinator Mediterranean Youth Task Force (MYTF), wadah pemuda di bawah naungan FAO yang menyuarakan isu kehutanan global. Bagi Iyaz, keterlibatan ini menjadi pengalaman berharga, terutama ketika ia berkesempatan mengisi dan berbicara dalam berbagai forum dialog internasional.

Saat ditanya mengenai tips sukses dalam menjalani pendidikan, Iyaz memilih untuk tidak menawarkan metode tertentu, karena pada dasarnya tidak ada cara belajar yang baku. Menurutnya, setiap orang memiliki pendekatan dan keunikan masing-masing dalam memahami proses belajar.

“Cara belajar masing-masing dari kita berbeda. Saya tipikal yang suka belajar sambil ngidupin musik keras-keras, sementara orang lain belum tentu bisa [dengan cara seperti itu] kan? Setiap orang punya timing suksesnya masing-masing, maka buatlah rezeki [sukses] versimu sendiri,” ujar Iyaz.

Meski enggan menyebutnya sebagai tips, Iyaz sempat berbagi cara sederhana yang biasa ia lakukan sebelum memutuskan langkah penting dalam mencapai tujuan. Setiap rencana ia petakan terlebih dahulu untuk dipertimbangkan secara matang.

“Kalau mau melakukan sesuatu, coba buat dulu matriksnya. Kemudian dianalisis dulu peluang dan tantangan yang ada, baru dicari jalannya. Dari situ kita bisa tahu jalan seperti apa yang harus ditempuh,” ungkapnya.

Setelah melewati perjalanan panjang, tibalah Iyaz pada satu momentum penting. Desember lalu, ia tercatat sebagai penerima penghargaan International Study Alumni pada ajang USU Awards 2025.

Penghargaan tersebut tidak hanya dimaknai sebagai pencapaian akademik semata, melainkan wujud dari upaya berkelanjutan untuk tetap berkontribusi di bidang yang ia tekuni sedari bangku perkuliahan. Iyaz membuktikan bahwa batas negara bukan penghalang untuk terus belajar, terlibat, dan memberi dampak.

(Redaktur Tulisan: Dwi Garini Oktavianti)

Leave a comment