Hits: 46
Angel Charoline / Fadhilah Safa Salsabila Desky
Pijar, Medan. Apakah kalian pernah menemukan tumpukan komik Why? di rak buku lama dan teringat kembali ke masa kecil? Masa di mana belajar sains, sejarah, astronomi, dan topik lainnya terasa menyenangkan karena dijelaskan lewat gambar lucu dan cerita yang seru. Komik ini tidak sekadar menjadi hiburan semata, tetapi juga awal mula tumbuhnya rasa ingin tahu yang tiada batas.
Komik Why? adalah seri komik edukasi anak dan remaja asal Korea Selatan yang diproduksi oleh YeaRimDang Publishing Co., Ltd. Menurut kompas.com, seri ini telah diterjemahkan ke dalam 13 bahasa dan diterbitkan di lebih dari 50 negara. Di Indonesia sendiri, komik ini dikenal luas lewat penerbit Elex Media Komputindo.
Setiap bukunya disajikan dalam bentuk komik berwarna dengan alur cerita yang seru dan karakter lucu, seperti Omji dan Komji yang akan menemani pembaca menjelajahi berbagai pengetahuan yang ada di dunia. Jalan ceritanya yang ringan dan menghibur, serta temanya yang beragam, mulai dari sains dasar (tubuh manusia, alam semesta, laut), sejarah, geografi, sosial, hingga matematika dan teknologi membuat anak-anak tidak akan merasa bosan dan membantu menambah wawasan mereka.
Lewat komik ini, kita diajak memahami hal-hal yang rumit dengan cara yang mudah, karena dikemas melalui humor dan petualangan para karakter yang membuat kita nyaman untuk berlama-lama membacanya. Komik Why? seolah mengajarkan bahwa setiap pertanyaan pantas untuk diajukan dan rasa penasaran adalah awal dari belajar yang sesungguhnya.
Dulu, kita mungkin tidak sadar bahwa ketika kita membaca buku terutama komik, kita juga sedang melatih banyak hal mulai dari fokus, imajinasi, bahkan kemampuan memahami konteks ilmiah. Dari sana, kita belajar mengenali proses berpikir logis dan menghubungkan cerita dengan realita. Nilai-nilai kecil itu ternyata ikut membentuk cara kita melihat dunia secara lebih terbuka, kritis, dan rasa ingin terus tahu hal baru.
Sekarang, ketika hampir semua informasi bisa dicari lewat video singkat atau bantuan artificial intelligence (AI), komik ini justru terasa masih relevan karena menjadi pengingat bahwa esensi belajar bukan hanya soal kecepatan atau hasil, tetapi tentang proses memahami sesuatu. Dulu kita membaca karena rasa penasaran, bukan karena dituntut. Nilai tersebut yang diam-diam terbawa sampai sekarang, dalam cara kita berpikir secara kritis, mencari tahu, atau bahkan menulis seperti ini.
Mungkin di tengah kesibukan hari ini, kita perlu sesekali membuka lagi lembaran komik Why?. Bukan hanya untuk nostalgia, tetapi untuk mengingat diri kecil kita yang dulu selalu bertanya “kenapa?”, dan percaya bahwa belajar bisa menjadi seru seperti berpetualang. Hal yang paling dewasa yang bisa kita lakukan mungkin adalah mempertahankan rasa ingin tahu yang dulu diajarkan oleh komik ini.
Pada akhirnya, komik Why? bukan sekadar komik sains, tetapi pengingat bahwa belajar adalah proses menemukan, bukan menyalin jawaban. Langkah kecil yang kita tidak sadari ini menjadi dorongan untuk mencari tahu lebih dalam sebelum menyerah tanpa mencoba memahami, dari sini semua hal besar biasanya dimulai termasuk cara kita memahami diri sendiri, dunia, bahkan perubahan di sekitar kita.
(Redaktur Tulisan: Dwi Garini Oktavianti)

