Hits: 35

Kiki Nabila Tusu

Pagi itu, saat memasuki pelajaran biologi, guru melempar sebuah pertanyaan untuk memancing keaktifan suasana kelas. Aku dan temanku begitu kesulitan menemukan jawaban. Hingga seluruh perhatian tertuju pada sosok pria yang duduk dibangku depan. Berpakaian rapi dengan perpaduan baju biru dan celana krim. Pria itu mengangkat tangannya dan menjawab semua pertanyaan dengan nyaris sempurna.

Aku hanya tersenyum memperhatikan caranya menjawab pertanyaan, lalu teman disampingku akhirnya berbisik santai ditelingaku.

“Kenapa senyum-senyum? Kamu suka ya sama dia?”

Tutupnya dengan nada usil untuk berusaha mengejekku.

Meski berada di kelas yang sama dengannya, aku berusaha untuk menghindari pria yang tingginya hampir sama denganku itu. Pria bertubuh kurus, dan rambutnya yang baru saja ia pangkas di barbershop terdekat.

“Ah, yang benar saja kamu Ra, tidak mungkin aku menyukainya. Berbicara saja tidak pernah.”

“Kalaupun benar, aku tidak masalah sih, aku rasa wajar saja kamu menyukainya. Dia memang sangat pintar, tipe cowo yang kamu suka kan cowo pintar.”

Clara mencoba memancingku.

Meski aku tahu maksud dan tujuan Clara yang terus bertanya, aku memilih diam dan tidak menanggapinya.

***

Malam hari, saat aku duduk di kamar sendirian dengan buku-buku dan alat tulis yang berantakan. Mencoba menyelesaikan tugas-tugas yang deadline-nya hampir saja mendekat. Tiba-tiba, hal konyol terbesit dipikiranku.

“Apa aku coba chat dia saja ya, sekalian meminta catatan, dia pasti punya catatan materi biologi hari ini.”

Aku tidak mencatat materi biologi hari ini, karena aku sekretaris kelas. Jadi, tugasku seharian mencatat dipapan tulis, sehingga sering ketinggalan catatan dibuku sendiri.

“Ka, maaf ya menganggu malam-malam seperti ini. Kamu mencatat materi biologi hari ini tidak? Aku ingin meminjamnya.”

Tanganku berkeringat, rasanya jantungku hampir saja copot. Aku langsung menutup room chat dan berusaha mengalihkan pikiranku dengan membuka buku lain.

Tining!

Sebuah notifikasi istimewa terdengar dari handphone-ku, aku sengaja membuat nada dering khusus untuknya. Dengan sigap, aku membuka handphone dan melihat namanya ada di barisan notifikasiku malam ini. Aku kegirangan setengah mati, melompat diatas tempat tidur dan tersenyum lebar.

“Oh ada kok Za, sebentar ya aku fotokan.”

Tutup pria tampan bernama Shaka itu. Ia pun langsung mengirimkan sebuah foto catatan biologi persis seperti apa yang aku minta.

“Terima kasih Shaka.”

Tutupku dengan singkat.

“Sama-sama Keyza.”

Malam itu aku berusaha menarik nafas dan merasa sangat bersemangat ke sekolah besok.

***

Pagi itu, hari sangat cerah. Persis seperti perasaanku, aku berlari ke kelas untuk menemui Clara dan menceritakan kejadian singkat yang menyenangkan malam tadi. Namun, langkahku terhenti sejenak saat melewati lapangan basket.

Degggg!!

Aku berdiri tegap, dengan mata terbuka lebar saat melihat pria itu tengah menemui wanita berambut panjang dengan pita pink dikepalanya. Aku melihat mereka begitu jelas disudut lapangan basket.

Tubuhku mati rasa, aku mencoba tetap melanjutkan langkahku ke kelas untuk menemui Clara. Setibanya di depan Clara, aku malah memilih diam membisu.

“Kamu kenapa Za, katanya ada cerita menarik yang akan kamu bagi ke aku. Kenapa malah diam saja? Aku buru-buru dari rumah untuk mendengar ceritamu.”

Lagi-lagi, aku hanya memilih diam. Hingga akhirnya aku mencoba bercerita pada Clara.

“Tidak mungkin, itu pasti hanya temannya. Sudah, percaya diri saja Za. Kamu usaha biar dia bisa notice kamu.”

Ucap Clara berusaha meyakinkanku. Meski sebenarnya aku ragu, aku mencoba mengikuti kata Clara untuk tetap berusaha.

***

Dua bulan berlalu, aku mencoba mendekati Shaka dengan segala cara, aku membawakannya bekal, memberinya hadiah saat ulang tahun, bahkan menghubunginya setiap malam dengan berbagai macam alasan agar tetap berkomunikasi.

Sore itu, saat ditaman, teman Shaka datang menghampiriku. Zidan namanya, ia duduk disampingku dan berbicara sesuatu.

“Eh, kamu Keyza bukan? Yang suka diceritakan Shaka kan?”

Degggg!!!!

Hatiku rasanya gembira sekali.

“Dia sering menceritakanku? Apa katanya?”

Tutupku dengan semangat.

“Eeee, aku hanya tahu kalau kamu suka dia. Dia suka cerita sama aku.”

“Hanya itu?”

Tutupku dengan sedikit kecewa.

“Dia tahu Za, dia tahu persis bagaimana perasaanmu kepadanya.”

“Lalu, kenapa dia hanya diam saja?”

“Kamu akan menemukan jawabannya sendiri.”

Aku diam, saat mendengar Zidan mengatakan hal sesingkat itu, tidak tahu kenapa tiba-tiba hatiku terasa begitu sakit. Seketika perasaanku runtuh.

***

Pagi hari di kelas, aku tidak banyak bicara. Aku juga tidak menemui Shaka, atau memberikan bekalku kepadanya. Aku memilih tidak melihatnya sama sekali sejak perkataan Zidan kemarin. Clara cukup terheran melihatku berbicara singkat sepanjang hari, bahkan tidak menemui Shaka atau meminjam catatannya, dan melakukan aksi konyolku seperti biasanya.

“Kenapa Za?”

“Jangan diperpanjang, mulai hari tidak lagi.”

“Tidak? Dia?”

Tanpa harus aku jelaskan lebih panjang lagi, Clara selalu tahu maksudku.

“Iya, aku lelah, Ra. Dia tahu, tetapi dia memilih diam. Apakah semua usahaku selama ini hanya angin lewat baginya?”

“Mungkin, belum saatnya saja, Za.”

“Mungkin bukan aku orangnya. Sekeras apapun aku berusaha, dia tidak akan pernah melihat usahaku.”

Aku tidak menangis, sama sekali tidak. Rasanya aku hanya kesal pada diriku sendiri karena membiarkan perasaanku jatuh terlalu dalam padanya.

“Pasti selama ini dia melihatku sebagai orang bodoh, iyakan Ra?”

“Ah, sudah. Tidak usah dipikirkan lagi, aku temani kamu cari kesibukan ya?”

“Hm, tidak apa apa, Ra. Aku baik-baik saja.”

Sebenarnya hatiku benar-benar sakit, tetapi air mataku pun tidak bisa jatuh. Aku bingung sekali dengan situasi ini. Aku terus bertanya-tanya, apa memang tidak ada sedikitpun ruang dihatinya untukku?

***

Seminggu setelahnya, saat pulang sekolah, aku berpapasan dengan Shaka, jangankan menyapanya, aku bahkan tidak melihatnya. Awalnya, aku mengira dengan aku berubah dan menjauh darinya, setidaknya ia akan mempertanyakan itu. Namun, lagi-lagi aku salah.

Aku bertemu Zidan saat berjalan keluar gerbang sekolah, aku menarik tangannya dan bertanya.

“Zidan, apakah ia memang tidak ada bercerita mengenai perubahanku?”

“Tidak, Za. Bahkan ia tidak pernah lagi menceritakanmu.”

“Apa karena ia menyukai orang lain?”

Zidan tertawa kecil.

“Ahah, tidak. Katanya, ia belum menemukan wanita yang sesuai dengan tipenya.”

“Apakah Shaka memang tidak tahu maksud semua usahaku?”

“Dia tahu, Za. Maaf mengatakan hal ini, aku hanya tidak ingin semua usahamu sia-sia.”

“Katakanlah!”

Ucapku dengan tegas, tetapi sebenarnya hatiku tidak pernah benar-benar siap.

“Ah, kamu tanyakan langsung saja padanya.”

Tanpa pikir panjang, aku rasa aku memang harus bertanya langsung pada Shaka untuk memastikan dan agar semua benar-benar clear.

“Di mana Shaka?”

“Dia baru saja lewat tadi, kejarlah, masih belum jauh.”

Ujar Zidan meyakinkanku dengan wajah yang sebenarnya merasa kurang enak.

Aku berlari sekuat tenaga, untungnya ia belum begitu jauh dari sekolah.

“SHAKAAAA!!!”

Teriakku dengan keras untuk menghentikan pria itu.

“Ada apa?”

Jawabnya dengan sangat singkat.

“Kenapa? Kamu benar-benar tidak tahu atau bagaimana?”

Aku nyaris emosi.

“Aku tahu.”

“Lalu?”

Shaka menghela nafas dalam-dalam.

“Bukan kamu orangnya, Za.”

“Hah?”

“Maaf.”

DEGGG!!!

Aku terdiam, rasanya ini bukan hanya sebuah penolakan, tetapi seperti sebuah pernyataan yang benar-benar mematahkanku. Aku segera meninggalkan Shaka, dan berlari ke taman kota. Aku duduk sendiri. Tiba-tiba, Zidan datang duduk disampingku. Aku pun tidak tahu dari mana ia mendapatkan informasi aku berada di taman ini.

“Bukan aku orangnya, dan itu tidak apa-apa. Aku mengerti.”

“Maafkan Shaka ya?”

“Aku tersenyum.”

Jauh di dalam lubuk hatiku, aku benar-benar patah. Namun, aku juga tidak membencinya. Memaksanya untuk membalas perasaanku adalah hal yang egois, tetapi mendengar penolakan darinya bukanlah sebuah hal yang menyenangkan. Sejak itu aku sadar, aku akan tetap mencintai pria itu, pria yang bahkan tidak ingin menatap lebih kebelakang. Padahal, aku ada di sana untuknya.

Leave a comment