Hits: 36

Grace Noverlin Gulo / Theodora Stephanie Laowo

Pijar, Medan. Hari Kereta Api Indonesia diperingati setiap tanggal 28 September. Peringatan ini bukan hanya seremonial, melainkan momentum untuk mengenang sejarah panjang kereta api, sekaligus menegaskan kembali perannya sebagai urat nadi transportasi darat yang menghubungkan berbagai daerah di Nusantara.

Sejarah kereta api Indonesia dimulai pada 1867 ketika jalur kereta pertama diresmikan di Semarang oleh pemerintah kolonial Belanda. Sejak itu, moda transportasi ini berkembang menjadi tulang punggung mobilitas masyarakat.

Hari Kereta Api tahun ini dimaknai sebagai pengingat bahwa kereta telah menjadi saksi perjalanan Indonesia dari masa kolonial hingga era modern. Mifftahussakdan, mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara, mengungkapkan bahwa peringatan ini dapat membantu pelestarian penggunaan kereta api.

“Bagi saya, makna peringatan ini adalah sebagai refleksi bahwa transportasi yang aman, terjangkau, dan ramah lingkungan harus bisa terus kita kembangkan untuk generasi berikutnya,” ujarnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, PT Kereta Api Indonesia (KAI) gencar berinovasi. Digitalisasi layanan melalui aplikasi KAI Access mempermudah pemesanan tiket. Penerapan e-boarding pass mengurangi antrean, dan kehadiran kereta cepat Jakarta–Bandung menandai era baru transportasi berkecepatan tinggi di Indonesia.

Kontribusi moda transportasi ini mendukung mobilitas jutaan penumpang setiap tahun, mengurangi kemacetan jalan raya, serta memperlancar distribusi logistik. Hadirnya kereta api juga membantu masyarakat kecil, karena tarifnya relatif terjangkau dan bisa menjadi pilihan dibandingkan transportasi lain yang lebih mahal.

Meski begitu, sebagai orang yang sering menggunakan kereta api, Mifftahussakdan merasa bahwa masih terdapat beberapa ketimpangan seperti pemerataan jalur di luar Jawa, modernisasi armada, hingga integrasi dengan moda lain memerlukan yang perhatian serius.

“Kalau bisa, perkembangan kereta api jangan hanya terpusat di Jawa. Karena masyarakat di Sumatera, Kalimantan, bahkan Sulawesi juga butuh akses transportasi yang sama,” tegasnya.

Ia juga menyampaikan harapan besar terhadap pengembangan kereta api yang lebih inklusif dan ramah lingkungan bagi keberlanjutan hidup masyarakat.

“Saya berharap, kereta api bisa jadi transportasi masa depan yang murah, cepat, dan berkelanjutan. Hal itu akan sangat bermanfaat bagi kesehatan masyarakat juga, karena bisa mengurangi polusi udara dari kendaraan pribadi,” tutupnya.

(Redaktur Tulisan: Kelly Kidman Salim)

Leave a comment