Hits: 35
Farrel Kresna Maruli Sibuea
Pijar, Medan. Perkembangan teknologi artificial intelligence (AI) saat ini membawa perubahan terhadap implementasi pekerjaan, teknologi ini menjadi alat bantu yang memudahkan aktivitas sehari-hari. Dengan sistem operasional instan, dan penghasilan kualitas hampir menyerupai keinginan operator, menjadikan AI sebagai salah satu akses tulang punggung setiap pekerjaan.
Penerapan AI dijadikan sebagai alat keseharian yang dapat dimanfaatkan sesuai dengan minat dan waktu. Keberadaan teknologi ini sampai kepada dunia periklanan, yang secara perlahan menggeser hasil produksi iklan secara humanis.
Safrin, selaku dosen yang berfokus pada bidang periklanan di jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Sumatera Utara (USU), menilai bahwa banyak masyarakat dapat merasakan kontroversi nilai humanis dalam dunia periklanan, apabila pesan yang disampaikan tidak sesuai dengan nilai produk yang dipasarkan. Ketidaksesuaian pesan yang dihasilkan oleh AI dapat terjadi jika pihak periklanan tidak melampirkan permintaan secara lengkap. Sehingga, penggunaan teknologi tersebut tidak akan memberikan permintaan yang akurat pula.
“Kalau dirasa kontroversi, bisa jadi karena orang iklan tersebut tidak meminta kepada AI secara lengkap ketika hendak memproduksi iklan. Sehingga, hasil yang diberikan juga tidak akan lengkap dan kaku,” ujarnya.
Safrin juga menjelaskan bahwa hasil produksi iklan oleh AI tetap memiliki nilai humanis. Hanya saja, perlu campur tangan dan pemikiran dari masyarakat itu sendiri. Iklan tidak akan humanis jika mengandalkan penuh operasional yang ada dalam AI, karena implementasi dari teknologi tersebut hanya menyajikan pesan saja. Sehingga, kalimat-kalimat yang dirasa kurang humanis akan mendapatkan campur tangan masyarakat untuk menyeleksi sesuai dengan kebutuhan dan preferensi.
Safrin juga menambahkan bahwa terdapat perbedaan signifikan dalam produksi iklan oleh AI, yaitu AI dapat menelusuri pemilihan kata yang tepat sesuai dengan situasi dan kondisi untuk disampaikan dalam iklan. Namun, belum terdapat verifikasi kesesuaian kepada nilai budaya masing-masing dalam penerapannya.
“AI itu bisa menelusuri mana kata yang tepat untuk kondisi sekarang. Tetapi, belum tentu tepat untuk budaya yang ada,” tambahnya.
Sebagai penutup, Safrin berpesan bahwa produksi iklan oleh AI harus bisa tepat sasaran dengan kebutuhan dan budaya masing-masing. Pihak yang menggunakan AI sebaiknya menyeleksi pesan iklan agar tetap menghasilkan iklan yang mempertahankan nilai humanis, serta nenghindari ragam kontroversi dari masyarakat.
(Redaktur Tulisan: Kelly Kidman Salim)

