Hits: 33

Cindy Nathasya Silalahi

Pijar, Medan. Tepat pada 21 Mei, diperingati sebuah momen penting dalam peristiwa sejarah Indonesia yang memberikan dampak signifikan bagi kehidupan masyarakat, yaitu Hari Peringatan Reformasi 1998. Peristiwa reformasi ditandai dengan berakhirnya masa orde baru yang berganti ke masa reformasi, atau masa peralihan.

Reformasi merupakan momen bersejarah yang erat kaitannya dengan peristiwa politik dan sosial. Mundurnya Presiden Soeharto menjadi titik balik sejarah Indonesia, yang tidak terlepas dari gelombang demonstrasi mahasiswa dari berbagai universitas. Suara dan semangat reformasi yang dibayar mahal dengan pengorbanan nyawa empat mahasiswa Universitas Trisakti, yaitu Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie.

Hari Peringatan Reformasi, Pergerakan Mahasiswa Menuju Perubahan www.mediapijar.com
Peristiwa Pisowonan Ageng, gerakan demonstrasi yang dilakukan masyarakat menjelang Era Reformasi di Alun-alun Utara Keraton Yogyakarta (20/5/1998)
(Sumber Foto: detik.com)

 

Hal tersebut membuktikan bahwa gerakan mahasiswa menjadi bagian penting dalam sejarah Indonesia, guna mendukung dan mencapai suatu hal, yaitu perubahan. Mahasiswa tidak hanya sebagai pelajar, melainkan sebagai agen perubahan (agent of change) untuk turut memberikan kritik dan menggerakan perubahan di masyarakat, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Sejalan dengan hal ini, Muhammad Azis Rizky Lubis selaku Dosen Ilmu Sejarah Universitas Sumatera Utara (USU) mengatakan bahwa mahasiswa akan selalu memiliki peran penting dalam mendukung adanya perubahan.

“Mahasiswa masih menjadi posisi penting sebagai kontrol sosial dari pemerintah, yang kemudian menjalankan mandat dari rakyat, dengan tujuan untuk menyejahterakan dan memakmurkan kehidupan rakyat,” katanya.

Namun di sisi lain, dikutip dari suaranasional.com, seiring dengan perkembangan dan kemajuan zaman, semangat gerakan itu mulai mengalami penurunan yang ditandai dengan penurunan jumlah massa dalam aksi demonstrasi.

Keadaan inilah yang dapat membahayakan terwujudnya sebuah demokrasi. Azis menyampaikan bahwa mahasiswa masih menunjukkan kepeduliannya.

“Mahasiswa tetap peduli, tetapi dalam bentuk dan cara kepedulian yang berbeda. Untuk alasan penurunan jumlah demontrasi, hal ini mungkin dikarenakan mahasiswa lebih fokus kepada diri sendiri dan kehidupan masa depannya,” ujarnya.

Dalam hal ini, sudah semestinya mahasiswa berperan aktif dalam mengambil peran terhadap suatu permasalahan yang terjadi. Bukan hanya terlibat dalam aksi demonstrasi, mahasiswa diharapkan dapat memberikan pemahaman atau pendidikan dengan mengabdi kepada masyarakat.

“Tindakan ini dilakukan supaya mahasiswa dan masyarakat memiliki pemahaman yang sama, sehingga tidak mudah saling terprovokasi. Tetapi, saling mendukung untuk mencapai tujuan yang tepat sasaran dan melakukan gerakan memang murni dilakukan untuk keadilan rakyat,” jelas Azis.

Hari Peringatan Reformasi tidak hanya menjadi momen refleksi akan perjuangan dan pengorbanan yang telah dilakukan, melainkan juga menjadi pengingat penting dalam menjaga dan memperkuat demokrasi dan keadilan sosial di Indonesia.

(Redaktur Tulisan: Dwi Garini Oktavianti)

Leave a comment