Hits: 51
Davina Syafa Fatia / Dwi Garini Oktavianti
Pijar, Medan. Isu gender masih menjadi perbincangan hangat di dunia kampus. Stigma-stigma konvensional yang masih terbawa hingga era modern membuat perempuan merasa perlu melakukan pembuktian ekstra bahwa mereka setara dengan pria, khususnya dalam menjalani tugas sebagai pemimpin. Stereotip yang sering melekat di masyarakat adalah posisi pemimpin lebih pantas dienyam oleh pria, sementara perempuan dianggap kurang sesuai dan kurang pantas untuk peran tersebut.
Perempuan yang menjalani peran ini harus menghadapi pandangan skeptis baik dari lingkungan sekitar maupun rekan sejawat. Mereka merasa harus melakukan lebih banyak hal dibanding pria agar dapat dianggap setara. Perasaan harus membuktikan diri inilah yang menjadi tekanan tersendiri bagi para pemimpin perempuan.
Shafiyah Zahra selaku Pemimpin Umum USOVA, salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di Universitas Sumatera Utara (USU), menceritakan bahwa tantangan yang paling sering ia hadapi adalah ketika berhadapan dengan forum besar.
“Ketika berada di forum besar, terasa ekspektasi dan beban yang diberikan lebih banyak daripada ketika leader-nya seorang laki-laki,” tutur Shafiyah. Menurutnya, banyak yang mempertanyakan apakah organisasi yang ia pimpin selaku perempuan mampu membawa nama baik kampus, merepresentasikan organisasi dengan baik, dan dapat memenuhi berbagai ekspektasi tersebut.
Ia juga bercerita tentang pengalamannya ketika pihak kampus sering ‘meminta tolong’ untuk pekerjaan di luar kepentingan organisasi.
“Perempuan dianggap ‘tidak akan menolak’ dan patuh saja, jadi sering diminta bantuan,” ujarnya. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun arus ketidaksetaraan di lingkungan kampus tidak terlalu kuat, namun masih ada pandangan tertentu yang menganggap perempuan lebih mudah diarahkan.
Meskipun demikian, permasalah gender tidak menjadi problematika di UKM USOVA, “Untuk UKM saya sendiri tidak pertama kalinya memiliki pemimpin perempuan. Bahkan, sudah beberapa kali ada kepengurusan dengan perempuan sebagai pemimpinnya, sehingga stereotip ataupun kesetaraan gender tidak ada permasalahan di dalam UKM saya ini,” jelas Shafiyah.
Di balik lika-liku yang dihadapi pemimpin perempuan, banyak mahasiswa yang justru memberikan respons positif terhadap kepemimpinan perempuan. Farah, salah satu mahasiswi USU berpendapat, “Pandangan saya mengenai kepemimpinan perempuan di organisasi kampus tentu merupakan suatu hal yang baik, banyak perempuan zaman sekarang yang tidak bergantung kepada orang lain dan berani berdiri di atas kakinya sendiri.”
Kesetaraan dalam kepemimpinan memang sudah sepantasnya dilakukan. Sudah saatnya semua pihak, baik laki-laki maupun perempuan sadar bahwa hambatan-hambatan mengenai gender itu tidak diperlukan. Dengan begitu, di masa depan, kita semua dapat melihat lebih banyak perempuan sebagai pemimpin yang dapat diakui, serta dihargai sesuai kemampuan dan posisinya tanpa adanya beban stereotip kuno yang membelenggu.
(Redaktur Tulisan: Alya Amanda)

