Hits: 77
Ayu Nabila Putri
Pijar, Medan. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Pokitik (FISIP) USU menjadi tuan rumah dalam perayaan Hari Pers Nasional. Kegiatan HPN ini dilaksanakan dengan mengusung seminar bertema “Semangat Jurnalistik Pers Mahasiswa dam Intervensi Kampus”. Acara ini didominasi oleh mahasiswa dan lembaga pers mahasiswa, serta dihadiri oleh para pemateri, salah satunya Kepala Monumen Pers Nasional, Widodo Hastjaryo di Aula FISIP USU pada Rabu (8/02/2023).
Tidak hanya pemaparan mengenai teori jurnalistik, peserta juga mendapat pengetahuan seputar sejarah pers dan Monumen Pers Nasional yang terdapat di Kota Solo dari pemaparan materi oleh Widodo.
Terdapat berbagai fasilitas yang dapat digunakan secara gratis oleh para pengunjung Monumen Pers Nasional, “Datang ke perpustakaan, tidak perlu membawa botol minum karena kita ada tumbler, jadi kita bisa isi sepuasnya. Masuknya gratis dan meminjam bukunya juga gratis,” ucap Widodo Hastjaryo.
Selain itu, terdapat pula Radio Kambing yang menjadi daya tarik tersendiri dalam monumen sekaligus museum yang diresmikan pada 9 Februari 1978 ini. Menurut pernyataan Widodo, sebutan Radio Kambing disematkan karena pada masa penjajahan Belanda, penyiaran hanya bisa dilakukan melalui alat pemancar yang disembunyikan di dekat kandang kambing.
Tersimpan juga berbagai koleksi kamera, mesin ketik, majalah, dan koran zaman dahulu. Beberapa di antaranya telah dibuat dalam bentuk versi digitalnya, serta akan terus dikembangkan. “Ini merupakan fungsi Monumen Pers Nasional, merawat dan menjaga benda-benda yang berkaitan dengan produk pers dan hal ini adalah bukti terbit media,” jelas Widodo.
Monumen Pers Nasional pernah mengadakan kunjungan virtual bagi masyarakat yang berada jauh dari Kota Solo agar mereka dapat melihat keindahannya. Widodo juga mengupayakan kegiatan pengenalan Monumen Pers hingga ke sekolah-sekolah untuk meningkatkan budaya literasi dengan membaca koran, majalah, dan buku yang tersedia.
Di akhir wawancara, Widodo berpesan kepada wartawan di seluruh Indonesia untuk mengenal kembali perjalanan jurnalis bangsa Indonesia, yang dapat dijadikan bahan referensi kesejarahan pers bangsa Indonesia.
(Redaktur Tulisan: Marcheline Darmawan)

