Hits: 460

Rani Sakraloi/ Sulisintia Harahap

Pijar, Medan. Salah seorang dokter di kota Medan, menjadi sosok dokter ikhlas yang menolong ratusan pasien yang mengalami gangguan kesehatan, di balik tingginya biaya kesehatan. Ia adalah Dr. Aznan Lelo, PhD., SpFK yang dikenal sebagai dokter dermawan. Kisahnya yang setia dalam pengabdian mulia di bidang kesehatan menjadi fenomenal, tidak hanya di Medan, tetapi juga di seluruh penjuru tanah air.

Guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Sumatra Utara (USU) ini membuka praktik dokter di kediamannya di kawasan Jalan Puri Medan, Sumatra Utara. Tempat pratiknya tak pernah sepi pasien, bahkan ratusan pasien akan datang setiap hari dari sore hingga malam meskipun tidak dipasang papan nama.

Pasien yang datang kepadanya tidak akan dikenai tarif. Sebaliknya, mereka bisa membayar dengan seikhlasnya. Dengan kata lain, pasien cukup membayar jasa konsultasi dan obat racikannya sesuka hati.

Cara pembayaran yang dilakukan juga terbilang unik. Setiap pasien yang telah mengantre sudah disediakan amplop putih yang akan dibawa masuk ke dalam ruang praktik, hingga nantinya pasien dapat mengisi amplop tersebut dan meletakkannya di meja yang tersedia sebagai imbalan yang tak dipatok tarifnya.

Tak jarang pula pasien hanya memberikan bayaran dengan nominal Rp 5.000, bahkan dengan amplop kosong sekalipun. Tetapi, hal tersebut tidak masalah, karena ini merupakan  prinsipnya yang terus ia pegang sampai saat ini.

Pelayanannya ini tentunya sangat kontras apabila dibandingkan dengan yang biasa dilakukan oleh dokter pada umumnya, terkhususnya di kota-kota besar.

“Pelajaran yang sampai kepada saya, ada tiga profesi yang tidak boleh meminta duit kepada rekanannya. Pertama adalah apabila seorang murid yang ingin berguru sama kita. Jadi profesi dosen, guru, itu sebenarnya tidak boleh membuat tarif. Kedua adalah apabila datang orang ingin meminta nasihat, sebagai pengacara tidak boleh membuat tarif. Ketiga adalah apabila datang seseorang ingin berobat kepada kita, tidak boleh meminta tarif. Namun kalau dia kasih, boleh kita terima,” ucap  dokter Aznan dalam talkshow Kick Andy di Metro TV lima tahun silam.

Dokter asal Medan yang gemar membantu pasien tidak mampu ini, kerap memberikan resep maupun obat yang diraciknya sendiri dengan harga yang terjangkau. Menurutnya, tujuannya hanya satu yaitu menjalani tugasnya sebagai dokter dengan melayani masyarakat.

Menurut dokter Aznan profesi yang ia kerjakan merupakan profesi yang menyenangkan bila dilakukan dengan iklhas dan demi membantu orang lain.

“Kalau aku gunakan profesi dokterku ini untuk jadi kaya, aku pasti sudah kaya. Tapi aku enggak mau, bagiku orang miskin lebih menghargai profesi dokter, dibandingkan orang kaya. Itu yang buat aku senang jalani profesi seperti ini,” ucapnya yang dirilis dari Merdeka.com.

Dokter Aznan juga dikenal dengan nasihatnya yang keras. Baginya, nasihat itu merupakan bagian dari pengobatan pasien. Beliau mengakui bahwa jika ada yang menanyakan harga pengobatan maka ia malah akan memarahi pasien.

Hal ini tepat seperti yang disampaikannya ketika menjadi narasumber di talkshow Hitam Putih 2016 silam, “ya, berarti kalau dia menanyakan sesuatu tentang rupiah, dia jengkalin saya. Berarti saya bisa dibeli,” tegas Dokter Aznan.

Lebih lanjut, asal muasal tekadnya untuk mengabdi kepada masyarakat ia utarakan berasal dari komentar abangnya. Awalnya, sebagai anak yang suka pelajaran matematika di bangku sekolah, ia justru mendambakan untuk menjadi seorang sarjana nuklir.

“Saya katakan, saya ingin jadi sarjana nuklir. Dia (abangnya) kasih komentar, ‘Ngapain bunuhin orang? Carilah profesi yang bisa menolong banyak orang.’ Sejak itu, saya buat ranking. Nomor satu ingin jadi dokter. Kalau tidak dapat dokter, saya ingin jadi guru. Enggak bisa jadi guru, saya jadi perawat. Nah, alhamdulilah, tiga-tiganya saya dapat. Saya dapat dokter, saya bisa jadi dosen, saya jadi perawat. Karena di praktik enggak ada perawat, (saya) kerjakan sendiri,” jawabnya kepada host dan penonton talkshow Hitam Putih.

Meskipun terlahir dari keluarga tukang jahit, ia bisa membuktikan kesuksesan dan keikhlasannya dalam menekuni profesi yang telah dijalaninya selama sekitar 40 tahun ini.

Di balik perjalanan suksesnya itu, dokter Aznan sempat menelan pahitnya dugaan pemerintah yang mengatakan bahwa ia adalah islam ekstrimis. Hal itu berimbas pada studinya agar berlanjut di Australia menjadi terhambat hingga tiga tahun lamanya. Namun sesuai dengan cita-cita mulianya ‘ingin menjadi orang yang berguna bagi banyak orang’ menjadi jalannya hingga akhirnya berhasil meraih gelar PhD.

Masyarakat Medan patut berbangga akan keberadaan dan pengabdiannya. Selain itu, kisahnya yang menginspirasi ini juga diharapkan bisa memotivasi Anda untuk terus melakukan kebaikan tanpa pamrih. Jadi setelah membaca ini, hal baik apa yang ingin Anda bagikan untuk sesama?

(Redaktur Tulisan: Lolita Wardah)

Leave a comment