Hits: 20

Lolita Wardah

Pijar, Medan. Majelis Wali Amanat (MWA) Universitas Indonesia kembali mengadakan webinar. Di mana webinar seri pertama membahas tentang “Ekonomi” dan seri kedua tentang “Kesehatan” yang sebelumnya telah dilaksanakan. Webinar seri ketiga kali ini mengangkat tema “Pendidikan Indonesia untuk Masa Depan Bangsa dan Kemanusiaan.” Webinar yang diadakan pada platform Zoom dan live youtube ini diadakan pada rabu (02/06) pukul 09:00–15:00. Terdapat dua sesi, sesi pertama membahas mengenai pendidikan secara umum yang berfokus pada karakter. Sedangkan sesi kedua membahas mengenai pendidikan tinggi.

Webinar sesi kedua menghadirkan beberapa pembicara diantaranya Abdul Haris selaku Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan UI, Noni Purnomo selaku anggota MWA UI dan CEO Blue Bird Group, Randy Jusuf selaku Manager Direktur Google Indonesia dan Nizam selaku Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Juga menghadirkan keynote speech, yaitu Puan Maharani selaku Ketua DPR RI.

Saleh Husin selaku Ketua MWA UI, menyampaikan pembukaan webinarnya. Ia menyampaikan bahwa webinar kali ini bertujuan untuk menjawab soal esensial pendidikan yang dapat berperan lebih nyata dan berperan dalam membetuk karakter manusia dan mendukung institusi pendidikan.

“Seri ke-3 webinar MWA kali ini fokus terhadap pendidikan. Isu yang diangkat tidak hanya pada hal pembentukan kecerdasan, namun juga tentang hal yang perlu dilakukan agar institusi pendidikan dapat berbagi tugas mendidik manusia Indonesia dengan para pemangku kepentingan lainnya, seperti industri, komunitas, ormas dan lembaga pemerintah atau swasta,” ungkap Saleh Husin.

Sebuah instansi pendidikan seharusnya tidaklah menjadi suatu menara gading yang belakangan ini kerap dibicarakan. Hal itu juga turut disampaikan oleh Puan Maharani. “Sebenarnya sudah lama ada seruan agar institusi perguruan tinggi tidak menjadi sebuah menara gading atau menjadi tempat seseorang belajar sambil terpisahkan dirinya dari masyarakat. Setelah selesai akan kembali ke masyarakat, tanpa memahami cepatnya perubahan yang terjadi di luar kampus,” tegasnya.

Puan Maharani dalam webinar series ke-3 MWA UI (02/06).
Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi

Hal itu juga menyangkut pentingnya perguruan tinggi yang akan menghasilkan mahasiswa yang mengerti akan dunia hingga mampu beradaptasi. Gelar akademik yang dimiliki setelah lulus nantinya, dapat digunakann seoptimal dan sebaik mungkin. Puan Maharani juga menambahkan agar institusi pendidikan tinggi tidak hanya menjadi pabrik gelar akademis. Karena salah satu tujuan dari pendidikan tinggi adalah terwujunya pengabdian kepada masyarakat. Berbasis penalaran dan penelitian yang bermanfaat dalam memajukan kesejahteran umum dan mencerdeaskan bangsa.

“Artinya institusi tinggi tidak bisa hidup hanya dalam batasan-batasan dinding kampus, atau di dalam menara gading. Melainkan institusi pendidikan tinggi harus hidup di tengah masyarakat, mengakar kepada ilmu pengetahuan, dan berbuah untuk kehidupan berbangsa dan bernegara,” tambahnya.

Perlunya adaptasi yang relevan di tengah pesatnya zaman juga merupakan salah satu hal yang ditekankan. Bagaimana nantinya pendidikan yang dibangun tetap dapat relevan di era revolusi infotek dan biotek. Hal itu juga menjadi pertanyaan pada tahun 2030 apa yang akan terjadi. Dengan bertambahnya jumlah 1 miliiar manusia menjadi 8.3 miliar. Sedangkan manusia yang berusia “produktif” harus berkompetisi untuk mendapatkan pekerjaan yang semakin sedikit karena sudah banyak yang diautomatisasikan.

Hal itu tentu berkaitan dengan urbanisasi, digitalisasi, dan connecitivity. Adanya pembangunan karakter akan menjadi fondasi dalam perkembangan manusia di masa depan. Noni Purnomo menyampaikan bahwa ada 5 poin penting dalam dunia kerja di masa depan, yaitu agility and  productivity, accelerating transformation, future capability, clarity of strategy dan capibillity development.

Adanya pandemi ini juga menjadi salah satu transformasi baru yang terjadi di zaman sekarang. Di mana peran teknologi sangat berguna. Hal itu juga mempengaruhi salah satu faktor, seperti accelarting transformation. “Karena pada saat ini, waktu tidak berada di pihak kita. Segala hal berubah dengan sangat cepat. Nah, kemudian dapatkah kita mempercepat teknologi informasi dan mengambil keuntungan dari percepatan yang terjadi selama pandemi ini?” pungkas Noni.

Pendidikan tinggi perlu mencetak lulusan yang kiranya bisa beradaptasi dengan kebutuhan di masa yang akan datang. Nantinya segala jenis pekerjaan yang repetitif dan yang perlu analisa kompleks akan digantikan oleh Artificial Intelligences. Segala pekerjaan pun akan digantikan oleh robot. Tetapi manusia masih diperlukan dalam membangun AI dan infrastruktur dalam penunjang teknologi yang baik. Kecuali faktor kemanusiaan, seperti intuisi, emosional, dan cinta yang masih belum bisa digantikan.

(Editor: Erizki Maulida Lubis)

Leave a comment