Hits: 11
Lainatus Syifa Hasibuan
“Aku mau ngajak Mas ketemu Ayah sama Bunda.”
Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Ami, seolah-olah tidak ada beban besar yang sedang diletakkan di antara mereka.
Abay terdiam.
“Buat apa?”
“Ayah sama Bunda pengen ketemu, Mas.” Ami menyentuh lengan Abay, pelan.
“Jangan.” Jawaban itu Abay berikan bak kilat.
Ami menoleh.
“Kenapa?”
“Belum waktunya.”
“Menurut siapa?”
“Menurut Mas.”
Ami menghela napas pelan. Sudah berkali-kali ia mencoba mengajak Abay pulang bersama untuk menemui Bapak dan Ibu. Sudah berkali-kali pula laki-laki itu mencari alasan untuk menolak.
Masih terlalu cepat.
Belum siap.
Nanti saja.
Padahal Ami tahu, alasan-alasan itu hanya selimut di balik kekhawatiran Abay yang tak pernah mau Ia bagikan.
Ada sesuatu yang disembunyikan Abay di balik setiap penolakannya. Sesuatu yang selama ini ia genggam sendirian, terlalu erat sampai-sampai ia lupa bagaimana rasanya membiarkan seseorang masuk dan melihat seluruh dirinya.
“Ayah sama Bunda itu sayang banget sama Ami,” ujar Ami akhirnya.
“Mereka selalu pengen tahu siapa orang yang bikin Ami bahagia.”
“Justru itu.” Abay tersenyum tipis.
“Mas takut mereka enggak bisa lihat apa yang Ami lihat dari Mas,” lanjutnya.
Ami terdiam. Untuk beberapa saat, hanya ada suara napas berat kedua insan yang hampir putus asa.
Lalu Ami mendekat.
“Mas.”
“Hm?”
“Cinta itu suci, Mas.”
Abay mengangkat wajahnya. Mengerutkan dahi.
“Dan sesuatu yang suci itu enggak seharusnya kita kotori dengan rasa malu atas diri sendiri.” Ami menggenggam lembut jemari kekasihnya.
Abay tidak menjawab. Bibirnya terlalu kelu, raganya terlalu kaku.
“Kalau memang ada buruknya dalam cinta kita,” lanjut Ami, suaranya mulai bergetar, “Yang membuatnya buruk bukan keadaan kita, Mas. Mungkin kita sendiri yang mengotorinya dengan ketakutan. Dengan rasa enggak pantas. Dengan terus-terusan berpikir bahwa Mas enggak cukup untuk Ami.”
Ami berganti menggenggam tangan Abay dengan erat.
“Padahal Mas Abay tahu sendiri kalau dari awal Ami sudah memilih Mas.”
Air mata yang sedari tadi Ami tahan perlahan turun, tanpa izin sang empunya.
“Ami enggak pernah mencintai Mas karena Mas harus menjadi seseorang yang sempurna. Ami mencintai Mas karena Mas adalah Mas. Abay-nya Ami.”
Abay menelan ludah. Sungguh, bahkan mengucap satu kata pun saat ini Abay tidak kuasa.
Hening, hanya terdengar suara angin.
Abay mengusap wajahnya yang gusar. Bibirnya bergetar, beberapa kali menghirup udara yang terasa sesak.
“Kalau nanti Ayah sama Bunda enggak bisa menerima? Gimana?” Akhirnya, suara itu terdengar.
“Mereka akan belajar.”
“Kalau enggak?”
Ami tersenyum, meski matanya mulai berkaca-kaca.
“Berarti Ami yang akan tetap mengajari mereka.”
***
Rumah itu hangat.
Bunda menyambut Ami dengan senyum yang selama ini selalu Abay dengar dari cerita-cerita Ami.
Ayah ikut duduk di ruang tengah.
Ada percakapan kecil nan hangat terjadi bagi sang keluarga yang lama memendam rindu. Tentang perjalanan. Tentang pekerjaan. Tentang kisah bagaimana mereka memadu kasih.
Semuanya tampak baik-baik saja. Sampai Ayah menyadari sesuatu. Tatapannya berhenti.
Lama.
“Mi.”
“Iya, Yah?”
“Abay…”
Ayah tidak melanjutkan. Lalu, Bunda ikut memandang Abay. Baru saat itulah mereka memahami sesuatu yang selama ini tidak pernah Ami ceritakan.
Abay tidak bisa melihat.
Ruangan itu mendadak terasa sunyi. Ami yang sejak tadi tersenyum perlahan kehilangan senyumnya.
Semuanya mendadak bisu sesaat, hangat yang tadi ikut hadir di sela bincang kini hilang entah kemana.
Hingga Bunda dengan segala kelembutan hatinya, mulai bicara.
“Abay,” katanya lembut, “kamu… sejak kapan?”
“Sejak lahir, Bu.” Abay susah payah menjawab. Seluruh organ pernafasannya seakan mati.
Bunda terdiam. Tak kuasa melanjutkan.
Kemudian, Ayah yang akhirnya berdiri. Memusatkan seluruh perhatiannya pada Ami, buah hatinya.
“Mi,” panggilnya.
Ami menatap Ayah.
“Kamu tahu ini?”
Ami mengangguk.
“Dan kamu tetap memilih dia?”
“Iya.” bahkan detik pun kalah cepat dengan sahutan Ami.
Ayah menarik napas panjang.
“Bagaimana kamu akan hidup dengan orang seperti ini?”
Ami terdiam.
“Siapa yang akan menjaga kamu nanti?”
“Ayah…” Ami mulai terisak.
“Kalau kamu sakit, siapa yang akan mengurus kamu?”
“Saya yang akan mengurus Ami, Yah.” Abay akhirnya bicara.
Ayah menoleh kepadanya.
“Masalahnya bukan kamu mau atau enggak.”
Nada suara Ayah meninggi.
“Kamu mungkin bisa mencintai anak saya. Kamu mungkin bisa berjanji akan menjaga dia, tapi hidup bukan cuma soal cinta, Abay. Jangan naif.”
Abay lagi-lagi hanya diam.
“Cinta tidak serta-merta membuat semuanya mudah,” lanjut Ayah. Kalimat itu menancap lebih dalam daripada kemarahannya.
Bunda mencoba menyentuh lengan Ayah.
“Yah, sudah. Biarkan mereka.”
“Tunggu dulu, Bun.” Ayah menggeleng.
“Ayah cuma takut,” lanjutnya, Suaranya pecah.
“Ayah membesarkan Ami supaya dia punya hidup yang baik. Supaya dia bisa berjalan ke manapun tanpa harus selalu memikirkan bagaimana caranya membantu orang lain berjalan.”
Ami mulai menangis.
“Ayah enggak bilang kamu orang jahat, Bay.” Ayah memandang Abay.
“Tapi Ayah tidak sanggup melihat anak Ayah menjalani hidup yang menurut Ayah akan terlalu berat.” Suara Ayah bergetar.
Sungguh, Ayah tidak membenci Abay. Tidak ada setitik pun rasa benci di sana.
Itulah yang membuat semuanya terasa lebih menyakitkan.
Ayah tidak sedang membenci Abay. Jahat jika Ayah membenci Abay karena kondisinya. Ia hanya sedang takut kehilangan masa depan anaknya. Namun, ketakutan itu justru terdengar seperti penolakan.
Bunda duduk di samping Ami. Tangannya mengusap kepala anak semata wayangnya.
“Bunda akan coba menerima, sayang.”
Ami menatapnya.
“Bunda cuma butuh waktu,” lanjut Bunda dengan senyum getirnya.
Namun, Abay sudah tidak mendengar apa pun setelah itu. Di dalam kepalanya, semua kalimat Ayah terus berulang.
Siapa yang akan menjaga Ami?
Bagaimana Ami akan hidup tenang?
Untuk pertama kalinya, Abay merasa dirinya benar-benar seperti yang selama ini Ia takutkan.
Beban.
Menyusahkan.
***
“Malam ini Ami ikut Mas pulang.” Ami berdiri di depan Abay dengan mata sembab.
“Enggak.” Abay menolak tegas.
“Mas, jangan gini.” Isak tangis itu kembali terdengar.
“Maaf, Mas. Tolong, jangan pergi,” lanjutnya pasrah.
Abay sama sekali tidak menghiraukan kekasihnya. Ia sibuk meraba sekitarnya, mencoba mencari barangnya untuk dikemas.
“Ami bisa jelasin lagi ke Ayah,” ujar Ami meyakinkan.
“Jangan.” Abay menghela nafas lelah.
“Ami bisa bikin Ayah ngerti.”
“Jangan, Mi.”
“Kenapa?” Suara Ami pecah.
“Karena Mas enggak mau kamu jadinya harus memilih antara keluarga kamu atau Mas.”
Ami terdiam.
Abay tersenyum kecil. Senyum yang justru membuat tangis Ami semakin deras.
“Mas enggak mau suatu hari nanti kamu harus membenci Ayah karena Mas. Mas enggak akan jadi alasan Ami membenci siapa pun. Mas juga enggak mau kamu jadi anak yang durhaka hanya karena ingin mempertahankan Mas.” Abay meraba kembali, mencari wajah Ami.
Ami menggeleng berkali-kali.
“Mas adalah pilihan Ami.”
“Ami anak Ayah dan Bunda.” Tangan Abay mencoba menangkup wajah Ami.
“Terus?”
“Dan Mas enggak akan pernah meminta kamu meninggalkan mereka.”
Ami memegang lengan Abay.
“Kalau begitu jangan tinggalkan Ami.”
Abay menutup mata. Melepas tangkupannya pada wajah Ami.
Andai saja ia bisa memeluk Ami tanpa harus mengingat bahwa setelah malam ini, wanita cantik itu mungkin akan menangis lebih lama karena dirinya. Andai saja cinta cukup untuk mengalahkan semua ketakutan.
Namun, Abay tahu, ada cinta yang memilih bertahan. Ada pula cinta yang memilih pergi karena tidak ingin orang yang dicintainya kehilangan apa-apa.
“Mas sayang sama Ami.”
“Kalau sayang, jangan pergi.” Ami menatap Abay dengan tatapan lelahnya.
Abay terdiam lama. Lalu berkata pelan,
“Justru karena Mas sayang sama Ami. Mas enggak mau buat sayangnya Mas menderita.”
Ami meraung. Ia memeluk Abay seerat-eratnya.
“Jangan pergi, Mas,” isaknya.
Abay tidak membalas pelukannya dengan segera. Tangannya terangkat perlahan. Mengusap kepala Ami.
Sekali.
Dua kali.
Seperti seseorang yang sedang menghafalkan sesuatu untuk terakhir kalinya.
Tangis Ami pecah. Ia tergugu, raganya seakan hancur. Hatinya sakit sekali.
Kenapa Abay tidak mau mempertahankan cinta mereka?
Sungguh, Abay sangat mencintai kekasihnya. Cintanya terlalu penuh sampai-sampai ia tidak sanggup melihat Ami kehilangan keluarganya demi dirinya.
Namun, lagi-lagi takdir berlaku tidak adil. Malam itu, Abay tidak pernah sampai ke rumah. Telepon dari nomor yang tidak dikenal datang ketika Ami masih menangis di kamarnya.
Kecelakaan.
***
Ami memejamkan mata. Untuk pertama kalinya, ia mengerti. Abay tidak pernah pergi karena merasa cintanya kalah. Abay pergi karena ia terlalu mencintai Ami sampai rela dirinya sendiri yang kalah.
Dan mungkin, itulah bagian paling menyakitkan dari kehilangan. Ketika seseorang pergi bukan karena berhenti mencintai, melainkan karena Ia mencintai sampai lupa bahwa dirinya sendiri juga pantas untuk diperjuangkan.
Ami tidak pernah meminta Abay menjadi sempurna. Ia hanya ingin Abay ada untuknya.
Ayah tidak pernah bermaksud menghancurkan cinta mereka. Ia hanya ingin anaknya hidup tanpa kesulitan.
Bunda tidak pernah menolak Abay. Ia hanya membutuhkan waktu untuk memahami bahwa Ami berhak bahagia siapapun pasangan hidupnya.
Dan Abay,
Abay tidak pernah benar-benar ingin meninggalkan Ami. Ia hanya terlalu takut jika cintanya membuat Ami kehilangan rumah tempat Ia selalu pulang.
Mereka semua mencintai Ami. Dengan cara masing-masing.
Dan mungkin karena itulah tidak ada satu pun sosok “jahat” dalam kisah ini.
Hanya ada orang-orang yang sama-sama mencintai satu manusia, tetapi berdiri di sisi yang berbeda.
Bagi Ami, sejak hari itu, tidak ada lagi tempat yang benar-benar terasa seperti rumah.
Karena rumahnya pernah bernama Abay.

