Nadila Tasya Tanjung

Bia, adalah seorang gadis kecil berusia 6 tahun. Tahun ini ia baru duduk di kelas 1 SD. Ayahnya bernama Ahmad Fuadi, 5 tahun yang lalu mengalami penyusutan otot yang mengakibatkan kelumpuhan total mulai dari leher ke bawah. Untuk mengobati penyakitnya itu, dia telah menghabiskan semua tabungannya. Sekarang keluarga yang beranggotakan 3 orang ini hanya mengandalkan sang ibu yang bekerja di pabrik dengan penghasilan lain yang sangat kecil.

Keluarga Bia menempati rumah berukuran 8m². Berlantaikan tanah dan beratapkan besi seng yang menghalangi cahaya masuk ke dalam kamar. Sebuah ranjang bertingkat, atas dan bawah, sudah cukup memenuhi seluruh kamar, diatasnya penuh dengan barang pecah belah, hanya tersisa sedikit ruang kecil.

“Itu adalah ranjang Bia, dan meja lipat yang tergantung di dinding itu adalah meja belajar Bia,” kata Ahmad.

Ada juga sebuah meja kecil yang digunakan sebagai meja makan keluarga. Di sebuah pintu yang luasnya tidak sampai 1m2, ada dapur yang dibuat sendiri oleh Ahmad. Di sebelah kompor terlihat masih ada sebatang kubis yang tersisa.

“Makanan dan minyak, semua ini adalah sumbangan dari teman ibu Bia. Di sini setiap hari kami makan tiga kali tapi hanya pada waktu makan malam saja yang terasa cukup lumayan. Di rumah, kami hampir tidak pernah makan daging. Tapi sekali seminggu, kami rela mengeluarkan biaya lebih demi perbaiki gizi dan mengubah kehidupan Bia. Namun setiap kali makan, Bia akan membiarkan saya makan dulu baru setelah itu dia akan makan,” jelas Ahmad.

Karena Ahmad mengalami kelumpuhan, selama bertahun-tahun, Bia yang masih sangat belia itu terpaksa turut serta memikul tanggung jawab rumah tangga. Selain setiap hari mencuci muka ayahnya, memijat, dan menyuapkan makanan, dia juga masih harus membantu kerja sampingan ibunya sebagai pemulung botol-botol bekas minuman yang kemudian disetorkan ke pengepul untuk mendapatkan tambahan uang jajan di sekolah.

Setelah lelah memulung botol bekas, setibanya di rumah ia masih harus menyiapkan seember air, dan kemudian dengan tangannya yang kecil mungil itu ia memeras selembar handuk untuk membersihkan wajah ayahnya. Dia sangat teliti mengelapnya, seolah-olah khawatir jika hasilnya kurang bersih. Setelah itu, ia akan berjingkat untuk melap punggung ayahnya. Ketika semuanya telah selesai dikerjakan, ia akan menghampiri dan memandang ayahnya dengan senyum puas.

“Setiap pagi jam 06.30, begitu alarm berbunyi, Bia akan bangun, cuci muka dan menyikat gigi. Dia juga membantu ayahnya mencuci muka, setelah itu dia akan memijat kaki dan tangan ayahnya selama kurang lebih 10 menit. Di sore harinya sepulang beraktivitas, ia akan memijat ayahnya lagi. Dan di malam hari setelah selesai memandikan ayahnya, dia akan memijatnya sekali lagi baru kemudian pergi tidur.

Di sekolah Houde, anak anak yang seumur dengan Bia sangat ceria bergandeng tangan sambil berjalan pulang dengan orangtuanya. Hal ini sangat berbeda dengan Bia yang harus sekuat tenaga mendorong kursi roda dengan beban ayahnya yang duduk di situ. Ketika hendak menyeberang jalan, ia akan berhenti sejenak lalu menoleh ke kanan dan ke kiri, lalu setelah aman dari kendaraan yang berlalu lalang, barulah ia menyeberang. Setiap melewati jalanan yang tidak rata, Bia harus berusaha ekstra keras menaikkan roda depan maupun menarik kursi roda itu dari belakang. Wajahnya yang mungil pun berubah menjadi kemerahan karena terpapar panas matahari. Bia harus menjalani rutinitas yang berat itu dengan jarak dari sekolah menuju rumah sejauh 1.500 meter yang biasa ia tempuh selama 20 menit.

Karena keuangan yang pas-pasan, keluarga kecil ini harus melakukan penghematan di segala bidang. Salah satunya untuk menghemat listrik maka setiap hari sepulang sekolah, Bia harus memindahkan meja belajarnya ke luar rumah untuk mengejar terangnya siang hari untuk mengerjakan PR-nya.

“Tahun ini mungkin Bia harus berhenti sekolah karena biaya sekolahnya setiap tahunnya bisa mencapai tiga sampai empat ratus ribu,” ucap ayahnya.

Ketika mengetahui bahwa ia harus berhenti sekolah, Bia langsung menangis tersedu dan Ahmad pun jadi luluh. Ditariknya Bia untuk duduk di sebelahnya seraya membujuk agar berhenti menangis.

“Ayah akan berusaha sebisa mungkin agar kamu tetap bisa sekolah, Nak”

Dengan mata menerawang, Ahmad Fuad bergumam lirih,

“Bia, kau adalah satu-satunya harapan Ayah. Dan ayah yakin bahwa suatu saat ayah akan sembuh dan bisa mencari nafkah lagi, sehingga kau tidak perlu berhenti sekolah.”

Mereka yakin bahwa sekalipun hidup sekarang ini penuh dengan kenestapaan, namun suatu saat Tuhan akan membukakan jalan bagi mereka untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Leave a comment