Hits: 44

Shefira Riani Manany

Pijar, Medan. Lima jurnalis dilaporkan hilang kontak saat melakukan peliputan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau, di perairan Selat Sunda. Para jurnalis tersebut diketahui berada dalam perjalanan, sebelum komunikasi dengan keluarga dan rekan sesama jurnalis terputus. Selain lima jurnalis, tiga kru kapal yang membawa mereka juga dilaporkan belum ditemukan.

Peristiwa tersebut kembali menyoroti risiko keselamatan yang dihadapi jurnalis ketika melakukan peliputan di wilayah rawan bencana. Dalam menjalankan tugas jurnalistik, jurnalis memiliki peran penting untuk menghadirkan informasi yang dibutuhkan publik, terutama dalam kondisi darurat. Namun, kebutuhan masyarakat terhadap informasi juga perlu berjalan beriringan dengan penerapan keselamatan kerja bagi jurnalis yang berada langsung di lapangan.

Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Medan, Tonggo Simangunsong, menyampaikan bahwa keberanian para jurnalis dalam melakukan peliputan bencana merupakan bentuk tanggung jawab profesi untuk memberikan informasi kepada masyarakat.

“Semangat mereka patut kita apresiasi yang berjibaku untuk menunjukkan realitas kepada publik tentang bencana yang mengancam, dan berharap melalui foto maupun laporan jurnalistik dapat dilakukan upaya mitigasi dan penyelamatan sehingga erupsi itu tidak menelan korban. Namun, perlu memang disadari, tujuan mulia wartawan hendaknya juga disertai dengan antisipasi dan keselamatan diri,” ujar Tonggo.

Menurut Tonggo, jurnalis tetap dapat melakukan peliputan langsung di lokasi bencana, selama kondisi medan masih memungkinkan dan aspek keselamatan telah menjadi pertimbangan utama. Namun, ketika situasi lapangan memiliki risiko tinggi, keputusan untuk turun langsung perlu dipertimbangkan secara matang.

“Idealnya jurnalis tetap turun ke lokasi ketika terjadi bencana, sepanjang kondisi medan lapangan dapat ditempuh dengan mempertimbangkan keselamatan. Jika dalam kondisi berbahaya maupun rentan dengan keselamatan, jurnalis harus mempertimbangkan dengan matang apakah sangat perlu untuk turun ke lapangan langsung,” ucapnya.

Persoalan keselamatan jurnalis bukan hanya muncul dalam situasi bencana. Berdasarkan catatan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, terdapat 73 kasus kekerasan terhadap jurnalis dan media sepanjang 2024. Angka tersebut kemudian meningkat menjadi 89 kasus pada 2025 dengan bentuk kekerasan yang beragam, mulai dari kekerasan fisik, serangan digital, hingga teror dan intimidasi.

Data tersebut menunjukkan bahwa kerja jurnalistik memiliki berbagai bentuk risiko yang dapat dihadapi oleh jurnalis ketika menjalankan tugas. Risiko tersebut tidak hanya berkaitan dengan tekanan dalam memperoleh informasi, tetapi juga kondisi keselamatan yang harus diperhatikan ketika berada di lapangan.

Meski demikian, Tonggo menilai kejadian di lapangan tidak selalu dapat diprediksi, meskipun jurnalis telah memahami standar operasional prosedur (SOP) keselamatan dan mendapatkan pelatihan terkait peliputan berisiko.

“Saya yakin para jurnalis sudah mendapatkan banyak pelatihan dan edukasi terkait SOP keselamatan saat peliputan, termasuk peliputan bencana. Hanya saja mungkin karena bencana adalah kondisi yang sulit diprediksi, tidak dapat dengan mudah mengatakan bahwa ketidaksiapan menjadi penyebab terjadinya hal yang tidak diinginkan. Di lapangan kadang tidak semua dapat diprediksi,” jelasnya.

Dalam praktik jurnalistik, kebutuhan menghadirkan informasi langsung dari lokasi kejadian, juga menjadi salah satu alasan jurnalis tetap melakukan peliputan di lapangan. Tonggo menyebut bahwa nilai autentik dari sebuah laporan jurnalistik menjadi hal yang penting bagi masyarakat.

“Saya kira dalam kasus ini bukanlah soal kecepatan, tetapi autentik. Jurnalis yang meliput langsung ke lapangan dan mendapatkan informasi atau visual yang autentik akan sangat bernilai,” tuturnya.

Ia menambahkan, setelah kejadian tersebut, penting bagi perusahaan media dan organisasi profesi untuk terus mengingatkan pentingnya mitigasi keselamatan sebelum melakukan peliputan, terutama di wilayah yang memiliki tingkat risiko tinggi.

(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

Leave a comment