Hits: 4

Justin Wijaya

Pada era digital, semua kelompok umur, termasuk anak-anak usia sekolah telah terpapar penggunaan gadget, seperti telepon seluler (handphone) dan komputer. Kurangnya pengawasan dan regulasi menyebabkan sulit untuk melakukan pemilahan informasi yang masuk dari media sosial. Kondisi tersebut dapat menyebabkan anak-anak sekolah yang masih di bawah umur terpapar konten video atau foto yang tidak sesuai dengan usianya.

Atas permasalahan tersebut, “Gadget Warning: Tontonanmu Cerminanmu” hadir sebagai edukasi terhadap generasi muda tentang pentingnya memilah konten yang dikonsumsi, dengan memanfaatkan gawai (gadget) untuk tujuan positif. Kegiatan dilaksanakan dalam bentuk sosialisasi oleh mahasiswa Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi Universitas Sumatera Utara, berlokasi di Kelas 7 Imam Ghazali SMP Swasta Namira Medan, pada Selasa (25/5/2026).

Sosialisasi dihadiri oleh 17 siswa/i yang berada di kelas 7. Saat ditanya, siswa/i menjawab bahwa mereka memiliki handphone masing-masing, dari sejak kelas SD atau bahkan sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa mereka memiliki kebebasan mengakses internet sesuai kemauan, sehingga memberikan kesadaran akan memilah tontonan relevan.

Selama pemaparan materi, siswa/i diajak mendefinisikan gadget. Bukan hanya itu, mereka juga dijelaskan mengenai batas durasi penggunaan gadget berdasarkan usia, cara memilah antara konten positif dan negatif, jenis tontonan yang cocok dan tidak cocok dikonsumsi, serta dampak negatif penggunaan gadget berlebihan. Terakhir, terdapat sesi tanya jawab dan kuis yang direspon dengan sangat baik, menunjukkan mereka semakin memahami akan pentingnya memilah tontonan.

Wawancara bersama siswa-siswi kelas 7 Imam Ghazali
Wawancara bersama siswa-siswi kelas 7 Imam Ghazali
(Sumber Foto: Dokumentasi pribadi Cynthia Regina Putri)

 

Setelah sosialisasi selesai, mahasiswa mengadakan wawancara dengan empat orang siswa. Wawancara tersebut, bertujuan untuk mengukur kemampuan mereka dalam memilah tontonan, memanfaatkan gadget untuk hal positif, dan cara-cara yang mereka lakukan untuk menyaring konten negatif.

Berdasarkan hasil wawancara, diketahui bahwa para siswa tersebut masih kurang memahami pentingnya memilah tontonan yang baik. Mereka cenderung mengonsumsi tontonan yang diinginkan, tanpa terlebih dahulu mempertimbangkan apakah konten tersebut faktual atau pantas mereka tonton. Namun, ada juga siswa yang mendapat pembatasan dari orang tua, mereka lebih mampu menggunakan gadget untuk hal positif, seperti mencari informasi dan bertukar kabar dengan teman.

Fayra, salah satu siswi yang mengikuti kegiatan sosialisasi, menjelaskan tentang cara ia memanfaatkan gadget miliknya.

“Kalau diurutin, biasanya yang paling sering saya lakuin ngechat teman untuk ngasih info tugas atau cuma ngobrol-ngobrol aja,” ujar.

Para mahasiswa berharap siswa-siswi Kelas 7 Imam Ghazali SMP Swasta Namira Medan semakin mampu dan hari-hati dalam memilah antara konten yang positif dengan yang negatif, sehingga mereka tidak terpapar konten yang berdampak buruk pada diri sendiri.

(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

Leave a comment