Hits: 46
Lainatus Syifa Hasibuan
Pijar, Medan. Kelompok mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Sumatera Utara (USU) yang tergabung dalam Lumira Organizer, telah menggelar kegiatan sosial edukatif, bertajuk “Love Yourself: Speak Yourself”. Kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan pentingnya mencintai dan menerima diri sendiri kepada anak-anak sejak usia dini, yang diselenggarakan di Sanggar Anak Sungai Deli (Sasude) Kota Medan, pada Sabtu (23/5/2026).
Project Leader Lumira Organizer, Tasya Hapsari, mengatakan tema tersebut dipilih karena banyak orang, termasuk orang dewasa masih kesulitan memahami diri sendiri dan menetapkan batasan terhadap diri mereka.
“Berdasarkan diskusi kami, kami merasa isu self-love perlu diangkat karena bahkan orang dewasa pun, masih membutuhkan edukasi tentang itu. Banyak dari kami yang masih sulit memahami diri sendiri dan menetapkan batasan. Karena itu, kami memilih tema self-love untuk acara ini,” ujarnya.
Berbeda dari kegiatan edukasi yang umumnya menyasar remaja dan dewasa muda, Lumira Organizer memilih anak-anak sebagai fokus utama. Menurut Tasya, pola pikir tentang mengenal dan menghargai diri sendiri lebih efektif ditanamkan sejak kecil.
“Kalau orang dewasa mungkin sudah lebih matang dan sulit diubah pola pikirnya. Sedangkan, anak-anak masih bisa dibentuk sejak dini. Jadi, kami ingin mengenalkan edukasi self-love supaya nanti saat mereka dewasa, mereka sudah lebih paham bagaimana menyayangi diri sendiri dan mengenal diri sendiri,” jawabnya.
Pemilihan Sasude sebagai lokasi kegiatan juga dilakukan karena lingkungan sanggar dinilai mendukung pembelajaran yang lebih interaktif dan nonformal. Dalam pelaksanaannya, materi disampaikan melalui metode mendongeng (storytelling) atau dongeng agar lebih mudah dipahami anak-anak.

(Fotografer: Lainatus Syifa Hasibuan)
Metode penyampaian materi menggunakan teknik storytelling, dinilai sebagai sebuah hal yang unik dan sangat membekas bagi para peserta yang hadir. Uci Anggreni Sitanggang, salah satu mahasiswa Ilmu Komunikasi USU, yang menjadi peserta di acara tersebut, mengakui bahwa sesi storytelling ini adalah aktivitas yang paling berkesan baginya.
“Aku paling suka tadi waktu sesi storytelling atau semacam dongeng gitu. Anak-anaknya kelihatan senang dengerin ceritanya, apalagi ada alat peraga, seperti burung dan kerbau. Jadi, makin seru dan senang banget,” ungkapnya.

(Fotografer: Lainatus Syifa Hasibuan)
Interaksi langsung tersebut pada akhirnya memberikan refleksi mendalam bagi Uci. Menurutnya, kepolosan anak-anak dalam menyampaikan mimpi dan kebahagiaan justru memberi pelajaran baru tentang penerimaan diri.
“Mungkin karena mereka masih anak-anak, jawabannya sangat sederhana, tidak seperti kita. Mau menyebut cita-cita saja sekarang mikir, ‘ah mungkin gak ya?’. Nah, ngeliat anak-anak tuh, jadi sadar kalau kita juga boleh senang sama hal yang kita impikan. Intinya, bagaimana kita mengenali diri kita, menerima kekurangan dan kelebihan kita, lalu menganggap semua perbedaan itu sebagai pemberian Tuhan yang harus dihargai dan disyukuri,” tutupnya.
(Redaktur Tulisan: Michael Sitorus)

